Ranu menampung air dengan kedua telapak tangannya dari kucuran air di wastafel, setelah penuh, ia usapkan ke wajahnya yang sudah basah karena melakukan hal itu berulang-ulang. Dengan napas terengah-engah seolah baru saja melakukan lari maraton. Kedua tangan Ranu bertumpu di pinggiran wastafel. Mengangkat wajah, ia menemukan bayangan dirinya sendiri di sana. Seorang gadis dengan rambut tercepol asal, berwajah basah dan ... Bibir yang membengkak. "Aish ...." Menggeleng-gelengkan kepala, Ranu menepuk-nepuk kedua pipinya, berusaha untuk mengembalikan kewarasannya yang sempat menguap karena ciuman tiba-tiba yang dilakukan Dewa padanya. Ini gila! Bukan, ini bukan cuma gila, tapi sangat-sangat gila! Hampir saja! Ya, hampir saja Ranu melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan dengan Dewa.

