Ranu meragu. Sedari tadi hanya memandang ponselnya yang terus berteriak lantang dengan nama George yang tertera di layar. Tiba-tiba saja, ada rasa takut yang merayapi sudut hatinya. Seolah, dia baru saja melakukan tindakan yang salah. Lalu, tatapan matanya jatuh pada perutnya yang tampak membuncit samar. Tidak! Mereka bukan kesalahan. Mereka anugerah yang tak pernah Ranu duga bisa dapatkan. Meski ... Kehadiran mereka memang tengah dalam situasi rumit orangtuanya. Menggigit bibir bawahnya, Ranu mengarahkan ibu jarinya pada tombol merah untuk mematikan panggilan. Sialnya, keberanian yang dia punya tak sebesar itu. Karena dalam kedipan mata, ibu jarinya sudah berpindah haluan dan menekan tombol hijau hingga suara George tertangkap pendengarannya. "Halo? Ranu?" Meneguk ludah kelu, Ranu b

