Ranu duduk gelisah, sesekali mencubit punggung tangannya yang berada di atas pangkuan. Berharap, jika semua yang kini terjadi sekadar mimpi. Sialnya, semua harapan itu pupus, saat lagi-lagi rasa sakit menyengat bisa dirasakannya, setiap kali cubitan itu ia sarangkan dipunggung tangannya. Membuatnya mengigit bibir bawah, berusaha untuk meredam keinginan meneriakkan rasa sakit. "Istri lo pendiam banget ya, Wa?" Suara yang mendayu merdu itu mengoyak lamunan Ranu. Mengangkat wajah, tatapannya bersirobok dengan netra coklat seorang wanita cantik dengan potongan rambut sebahunya. Dokter Mila, yang merupakan Dokter kandungan yang sejak tadi terlibat perbincangan santai dengan Dewa. Karena ternyata, mereka berdua teman semasa SMA. Keduanya bahkan sepakat berbicara layaknya teman. Menanggapi ucap

