Ranu mengembuskan napas, ponsel yang sebelumnya masih tertempel di telinga kanannya, ia jauhkan, saat lagi-lagi, tak bisa menghubungi nomor Rhea. Menundukkan pandangan, ia tatap deretan nomor telepon kembarannya. Sejujurnya, ia merasa gelisah dan sudah dirasakannya cukup lama. Hanya saja, baru kali ini Ranu berani menghubungi Rhea. Bukannya apa, ia hanya takut mengganggu waktu wanita itu. Terlebih, Rhea pernah berkata, jika berniat untuk berkeliling dunia selama satu tahun. Menunggu masa perjanjian dengan Mama Dewa selesai. Hingga akhirnya, bisa kembali dan menempati rumah sendiri. Rumah impian Rhea dengan Dewa sebagai keluarga bahagia. Lalu, bagaimana dengan dirinya? Astaga! Apa yang dia pikirkan? Ranu segera menggelengkan kepala. Mengusap wajah dan berusaha untuk mengembalikan kewaras

