"Dasar b******k!" Dengan napas memburu, Mira memelototi Indra yang sudah berkeringat dan tak kalah terengah-engah. Rambutnya kusut masai dengan beberapa cakaran yang menghiasi wajah serta kedua lengannya. "Berani-beraninya lo bikin masalah kaya gini lagi!" "T—tenang, Mir, tenang! Gimana kalau tetangga dengar? Kita bisa diusir dari kontrakan karena sudah membuat keributan." Indra berusaha keras untuk memadamkan kemarahan istrinya yang tengah berkobar. "Tenang?" Beo Mira dengan nada mencemooh. Berkacak pinggang, wanita paruh baya itu mendengkus meremehkan. "Gimana gue bisa tenang, kalau uang yang dikasih lakinya Ranu lo abisin buat judi, b******k!" Raungnya lagi dan tak sabar ingin mencekik suaminya yang tak berguna itu. "O—oke! Gue salah! Gue ngaku salah dan gue minta maaf!" Menangkup ke

