Ranu menendang selimut yang sebelumnya menutupi tubuh. Bangkit dari posisi berbaringnya hingga menjadi duduk. Ia kesal karena kantuk tak juga menyeretnya. Padahal sedari tadi sudah memejamkan mata dan berusaha menenangkan pikiran. Kamarnya bahkan sudah tertelan gelap karena semua lampu dimatikan. Di luar, keriuhan hujan masih terdengar. Sepertinya tak akan berhenti hingga menjelang pagi. Menggeser tubuh, Ranu meraba nakas yang berada di samping tempat tidur. Menyalakan lampu tidur agar membuatnya bisa melihat ke sekitar. Meraih ikat rambut, Ranu mencepol tinggi rambutnya sebelum kemudian turun dari kasur. Dengan kaki telanjangnya yang terasa dingin saat menapaki lantai kamar. Berderap menuju pintu, ia membukanya dan berjalan keluar. Keadaan gelap dan sunyi. Tentu saja. George pasti sudah

