Ranu mengela napas, menatap sisi sebelah kiri tempat tidurnya yang tampak kosong. Tak ada seseorang yang tengah terlelap di sana. Mengulurkan tangan, ia meraba tempat di mana biasanya Dewa merebahkan tubuh. Dan kini, hanya rasa hampa yang di rasakannya. Tak ada usapan lembut dikepala, tak ada pelukan posesif yang justru membuatnya merasa di inginkan, dan tak ada ucapan selamat malam yang disertai kecupan sayang dikeningnya. Baru satu hari Dewa keluar kota, Ranu sudah rin— "Astaga!" Ranu berjengit dan segera merubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Gadis itu menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri dengan raut penuh sesal. "Ini salah! Apa yang tadi kamu pikirkan?" Menyugar rambut panjangnya dengan gerakan frustrasi, Ranu memijit pangkal hidungnya saat pikirannya tiba-tiba terasa kacau. Tidak

