Menggeram kesal, sosok itu meraih sebuah buku dan menuliskan sesuatu. Sebelum kemudian melemparkannya ke arah pria yang duduk di kursi samping ranjang perawatannya. "Berhenti tertawa, gue bukan badut!" George membaca apa yang ditulis Rhea. Pria itu mendengkus sebelum meletakkan buku yang beberapa hari di minta wanita itu agar mudah berkomunikasi. Mengingat, saat ini wajah Rhea tengah diperban seperti mumi hingga menyulitkannya berbicara. "Lo makin sensitif aja. Dikit-dikit marah, padahal gue nggak ketawain lo." Sialnya, George terbahak saat Rhea mengacungkan jari tengah padanya. Mempertegas jika tak percaya dengan apa yang dia katakan. Ya, Rhea tetaplah Rhea. Dalam kondisi apa pun, masih saja bar-bar. "Besok, gue harus balik ke Jakarta. Ada beberapa pekerjaan yang nggak bisa diwakilkan.

