PART 25. KEMBALI KE SINGAPURA

1274 Kata
Mikha berhasil tiba di Singapura dengan selamat bersama Noah. Di mana ia sudah sangat panik melihat jam yang berada di dalam layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 12.00 malam hari. Dalam hati Mikha ia sudah memastikan kalau Nino akan memarahinya setibanya di rumah nanti. Namun melihat ekspresi gelisah Mikha, Noah menawarkan bantuannya untuk menangani Nino. Hal itu tentu saja langsung di setujui oleh Mikha mengingat ia memang sangat membutuhkan bantuan tersebut. “Bagaimana caranya?” tanya Mikha penasaran. “Tenang saja serahkan kepada ku!” balas Noah penuh percaya diri. “Kita tunggu Sein menjemput dulu, okay!” lanjut Noah sembari menghubungi Sein. Mikha mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkannya kembali. Ia lagi dan lagi mendapat beberapa panggilan tak terjawab dari Nana, Naura serta Earlene. Di mana Nana juga terlihat sedang mengirimkan pesan khawatir kepada adiknya dan menanyakan keberadaannya. Tak lupa Mikha juga membalaskan pesan Earlene di mana ia yang menuliskan kalau dirinya baru saja tiba di bandara Singapura. Sontak saja pesan balasan itu mendapat respon dari Earlene yang memang sejak tadi belum tidur demi menunggu kepulangan Mikha dari Jepang. “Oh iya lalu bagaimana dengan lukisannya? Aku tidak mungkin ikut membawanya pulang ke rumah” ungkap Mikha tiba-tiba. “Tenang saja! Aku akan membawanya pulang ke apartemen dan meminta Sein nanti membawanya secara diam-diam ke Capitaland” balas Noah. Mikha mengangguk mengerti dan bisa merasakan kelegaan yang beberapa hari ini menganggu suasana hatinya. Tidak menunggu lama, Sein pun tiba. Noah dan Mikha masuk ke dalam mobil yang di kemudikan Sein. Di mana Noah meminta Sein untuk menuju ke rumah Mikha untuk membawanya pulang terlebih dahulu. Noah meminta Mikha untuk beristirahat sejenak sambil menunggu dirinya tiba di rumah. Mikha memejamkan matanya di dalam mobil, di mana memang ia yang merasa sangat lelah dengan matanya yang juga terasa berat. Sepanjang perjalanan itu, Noah hanya memusatkan perhatiannya kepada Mikha. Ia dengan setia menatap Mikha yang sedang terlelap di sebelahnya. Sesekali Sein mencuri pandang lewat kaca mengamati wajah Noah yang sedang menatap Mikha. “Tn. Noah sebentar lagi kita sudah sampai” ucap Sein. Noah pun dengan sangat hati-hati membangunkan Mikha tanpa ingin mengagetkannya. Mata yang tadinya terpejam kini terbuka kembali. Mikha merapikan rambutnya sebelum ia turun dari mobil Noah. Mikha turun dari mobil di ikuti Noah di belakangnya. Noah memencet bel rumah Mikha, di mana orang yang membuka pintu saat ini adalah Naura ibu Mikha. “Mikha kamu dari mana saja?” ucap Naura khawatir. Mendengar suara istrinya yang menyebut nama putri bungsunya, Nino langsung saja keluar di mana ia yang memang sudah sejak tadi menunggu kepulangan Mikha tanpa ingin tidur terlebih dahulu karena mencemaskan putri bungsunya yang belum kembali mengingat waktu yang sudah harus menunjukkan kepulangan Mikha. “Mana anak itu?!” ucap Nino dengan nada suara yang agak meninggi membuat Mikha takut dan bersembunyi di belakang Noah. Dengan wajah marah nan penuh khawatir, Nino keluar menuju pintu rumahnya dan sangat terkejut saat melihat kehadiran Noah di depan pintu rumahnya. “Tn. Noah?” ucap Nino bingung. Noah menyapa Nino setelah ia yang lebih dulu tadi menyapa Naura. “Hm.. maaf sudah mengganggu waktu istirahat mu, Tn. Nino” ungkap Noah tersenyum tipis. Noah pun menjelaskan kalau hari ini ia meminta Mikha untuk menemaninya di Capital Art Galery untuk menyusun lukisan-lukisan yang nantinya akan di pamerkan di hari pameran tersebut. Noah juga memberitahu Nino kalau bukan hanya dirinya dan Mikha saja di sana, Noah menyebutkan nama Earlene serta Sein juga turun membantunya mengingat hari pameran tersebut yang semakin dekat. Noah juga meminta maaf kalau ia lupa mengabari Nino terlebih dahulu dan demi menebus kesalahannya ia mengantarkan Mikha pulang sekaligus mengucapkan permintaan maafnya. Mendengar penjelasan dari Noah membuat wajah ketus Nino perlahan memudar, di mana Nino yang dapat bernapas lega setelah mengetahui kalau putrinya baik-baik saja serta keterlambatan pulangnya memang ia gunakan untuk kepentingan Capitaland. “Terima kasih sudah mengantarkan Mikha pulang ke rumah, Tn. Noah.—tadi Aku hanya cemas karena seharian ini dia tidak mengabari kakaknya ataupun ibunya soal keterlambatannya pulang. Tapi kalau alasannya mengenai pekerjaan di Capitaland, Aku akan memakluminya” jelas Nino jujur. Noah terlihat lega melihat Nino yang percaya akan ucapannya malam ini demi melindungi Mikha dari amukan ayahnya. “Maaf sudah merepotkan Anda—seharusnya, Anda tidak perlu mengantar Mikha sampai ke rumah karena menyita waktu istira—” “Tidak masalah, Tn. Nino. Tadi Aku tidak sengaja mendengar percakapan Mikha dan Earlene yang menyinggung soal Anda yang sudah pasti akan memarahinya karena pulang larut malam, jadi Aku mengambil tindakan untuk mengantarkannya langsung kepada Anda” sela Noah. Lagi dan lagi Nino berterima kasih kepada Noah karena melakukan hal tersebut untuk Mikha. “Baiklah kalau begitu, Aku rasa kalian juga harus beristirahat—terima kasih Mikha sudah banyak membantu hari ini” lanjut Noah. “Iya! Terima kasih juga, Tn. Noah sudah menolong ku malam ini” balas Mikha sembari tertawa tipis. Naura menarik tangan Mikha masuk dan mempersilahkan Noah meninggalkan rumahnya. “Mikha kamu ini! Kenapa menerima tawaran Tn. Noah mengantarkan kamu pulang—merepotkan saja kamu ini!” keluh Nino yang segan kepada Noah. “Kalau Aku pulang sendiri tadi memang ayah percaya kalau Aku di galeri sama Tn. Noah dan lainnya?—sudah pasti tidak, kan?” balas Mikha. Nana yang baru saja membersihkan dirinya mendengar keributan di bawah dan mendatangi adik serta kedua orang tuanya. “Ya ampun, Mikha! Kamu dari mana saja? Kak Nana, ibu dan ayah khawatir sejak tadi sama kamu!” keluh Nana menepuk pundak adiknya. “Tapi tetap saja Mikha—tidak sepantasnya Tn. Noah yang mengantarkan kamu pulang—kamu tahu siapa dia, kan?” lanjut Nino menegur putri bungsunya. “Iya tahu, ayah! Dia tangan kanannya Tn. Deefan, kan?” balas Mikha. “Bukan Mikha juga yang minta dia antar sampai ke rumah, Tn. Noah yang menawarkan diri” balas Mikha. Mendengar anak dan suaminya yang masih bertengkar membuat Naura melerai keduanya dengan menarik tangan Nino untuk masuk ke kamar dan beristirahat. “Sudah! Yang pentingkan anak kamu sudah kembali dan memang melakukan pekerjaannya—sudah! Kita masuk istirahat saja, kamu juga sudah sejak tadi lelah menunggu Mikha pulang, kan?” ungkap Naura kepada Nino. Hanya Nana seorang yang bingung dengan permasalahan malam ini antara Mikha dan juga Nino mengingat ia yang baru saja turun dan tak ada yang merespon pertanyaannya sejak tadi yang mempertanyakan keberadaan adiknya seharian ini. “Ada apa? Kenapa Aku tidak tahu permasalahannya?” tanya Nana kembali setelah melihat Naura dan Nino yang berjalan menuju kamarnya. “Mikha capek! Mau langsung istirahat saja!” balas Mikha yang lagi dan lagi mengabaikan pertanyaan kakaknya. Mikha meninggalkan Nana yang masih terdiam menunggu jawaban darinya. Namun melihat Mikha yang tak menjawab pertanyaannya malah berjalan meninggalkannya membuat Nana mengekor di belakang adiknya menuju kamar keduanya. Mikha berhasil tiba di kamarnya dengan kondisi tubuh yang sangat melelahkan namun ia bersyukur untuk hari ini mengingat perjuangannya yang membuahkan hasil. Ia juga sangat berterima kasih kepada Noah yang menolongnya malam ini dari amukan ayahnya kalau saja Noah tidak mengantarkannya pulang dan menjelaskan kepada Nino walaupun semua itu hanya kebohongan semata. “Semoga saja ayah tidak akan pernah tahu kalau Aku pernah mendatangi Tn. Rio serta nona Aiko di Jepang karena permasalahan lukisan itu—dia pasti akan sangat marah besar pada ku” ucap Mikha sembari menatap langit-langit kamarnya. “Kalaupun nanti ayah tahu, semoga saja setelah Aku menyelesaikan penelitian ku bersama Earlene di Capitaland” lanjutnya pasrah. Mikha membersihkan dirinya sebelum ia benar-benar akan mengambil waktu istirahatnya malam ini mengingat besok pagi ia sudah harus kembali bertempur dengan pekerjaannya di Capitaland. Dengan rasa malas yang menyelimutinya, Miha memaksakan dirinya malam ini untuk mengambil ritualnya sebagai perempuan yang akan selalu merawat wajah serta tubuhnya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN