Mikha baru merasakan rasa lelahnya seharian ini yang berkali-kali lipat dari rasa lelahnya yang biasa. Di mana subuh tadi ia sudah harus berangkat ke Jepang untuk memburu waktu agar bisa kembali tepat waktu di Singapura.
Mikha baru teringat dengan ponselnya yang sejak keberangkatannya ke Jepang tadi sudah ia matikan. Mikha menghidupkan kembali ponselnya dan mendapati banyak pesan serta panggilan di dalamnya.
Panggilan Noah adalah panggilan terbanyak yang ia dapatkan hari ini, lalu Earlene yang juga mengirimkan pesan khawatir kepadanya.
Mikha pun membalas pesan Earlene yang memberitahunya kalau semua berjalan sesuai dengan pengharapannya. Mikha juga menuliskan kalau saat ini ia akan terbang kembali ke Singapura.
Setibanya di bandara, lagi dan lagi keberuntungan memihak kepada Mikha. Ia mendapatkan penerbangan langsung menuju Singapura. Namun di saat yang bersamaan ketika ia bersiap masuk, langkahnya tercekat saat mendapati Noah yang juga berada di bandara tersebut.
Mikha memalingkan wajahnya namun sebelum itu Noah sudah lebih dulu melihatnya. Noah pun berlari menuju Mikha dan memeluknya hingga membuat Mikha sangat terkejut.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Mikha.
“Aku mencari mu!----sial, pesawatnya delay beberapa jam dan membuat ku gelisah karena mengkhawatirkan mu!” ungkap Noah jujur.
“Apa maksud mu?” tanya Mikha berpura-pura bodoh.
“Kamu ke Jepang karena lukisan yang milik Tn. Yamusa rusak itu, kan?---kenapa kamu tidak jujur pada ku, Mikha?” jelas Noah.
Pupil mata Mikha membulat mendengar perkataan Noah yang mengetahui tentang lukisan Rio Yamusa yang rusak.
“Bagaimana dia bisa tahu?” batin Mikha menerka.
Noah melepas pelukannya dan menatap Mikha dengan lekat dengan wajah khawatirnya.
“Lalu bagaimana? Kamu sudah bertemu dengan Tn. Yamusa?” tanya Noah memastikan.
Mikha mengangguk dan masih bingung dengan respon Noah yang terlihat begitu mengkhawatirkannya hingga mengharuskan Noah menyusulnya hingga ke Jepang.
“Bagaimana soal lukisannya?” tanya Noah kembali.
Mendengar kelanjutan perkataan Noah membuat pikiran Mikha bercabang, di mana ia yang beranggapan kalau yang Noah lakukan ini hanya karena soal lukisan yang tidak lain juga akan berimbas pada dirinya yang sudah di percayakan Deefan untuk mengurus segala yang berhubungan dengan pameran tersebut.
Mikha menunjuk ke arah lukisan yang sedang bersandar pada sebuah kursi yang baru saja ia letakkan tadi sebelum Noah menemukannya.
“Kamu berhasil membujuk Tn. Yamusa untuk mendapatkan lukisan baru lagi?” tanya Noah memperjelas.
Mikha lagi dan lagi mengangguk membenarkan perkataan Noah.
Mendengar informasi mengenai keberangkatan penerbangannya membuat Mikha tersadar dan memberitahu Noah kalau ia harus masuk ke dalam pesawat.
“Maaf, tapi Aku sudah harus kembali naik pesawat dan kembali ke Singapura---bagaimana dengan kamu?” tanya Mikha.
Noah mengumpat kesal mengingat ia harus menghabiskan waktunya tadi untuk transit dan menunggu penerbangannya lagi hingga membuat ia kehilangan banyak waktu untuk mencari keberadaan Mikha di Jepang. Namun Noah di buat lega setelah ia mendapati Mikha di bandara walaupun keadaannya Mikha sudah harus kembali ke Singapura.
Mikha mengamati Noah yang terus saja mengikutinya masuk ke dalam pesawat mengingat tadi Noah yang memberitahunya kalau ia belum mendapatkan tiket penerbangan kembali ke Singapura.
Setelah memastikan lukisannya aman, Mikha menuju kursinya dan Noah masih saja mengikutinya hingga membuatnya bingung.
“Kenapa kamu mengikuti ku? Bukannya kamu belum memiliki tiket kepulangan mu?” tanya Mikha.
Setibanya di kursi penerbangan Mikha, Noah mendapati seorang lelaki yang juga terlihat menuju kursi di samping Mikha. Namun Noah mencegatnya dengan memberikan penawaran yang membuat anak remaja itu takjub.
“Aku akan memberikan mu sepuluh kali lipat dari harga kursi mu ini jika kau ingin memberikannya kepada ku, bagaimana?” tanya Noah tegas.
Remaja lelaki itu tercekat namun tak langsung mempercayai perkataan Noah hingga Noah memperlihatkan ponselnya dan akan mengirimkan uang itu kepadanya. Tanpa berpikir panjang, lelaki itu pun menyetujui penawaran Noah dengan memberikan kursi miliknya.
Mikha melemparkan tatapan tak menyangka kepada Noah yang rela melakukan hal tersebut demi melakukan penerbangan bersama dengan dirinya.
Lelaki itu membatalkan kursinya dan memberikan kursinya kepada Noah, kini Noah bisa kembali lega setelah ia akan kembali ke Singapura bersama dengan Mikha.
***
Deehan masih berada di Capitaland menunggu kabar dari Mikha, ia juga di temani oleh Earlene setelah Theo memintanya ke ruang Deehan. Situasi Capitaland sudah sangat sepi mengingat jam kantor yang memang sudah usai sejak dua jam yang lalu.
Deehan memanggil Earlene ke ruangannya setelah Earlene yang memberitahu Theo kalau dirinya sudah mendapatkan pesan dari Mikha mengenai keberhasilannya mendapat lukisan pengganti dari Rio Yamusa.
“Coba kamu cek lagi ponsel mu---apa sudah ada kabar lagi dari Mikha?” tanya Deehan cemas.
Earlene menuruti perintah Deehan dengan mengeluarkan ponsel miliknya dan mengeceknya namun masih tak mendapati pesan dari Mikha di dalamnya.
“Berapa lama penerbangan Jepang ke Singapura?” tanya Deehan menatap ke arah Theo.
“Mungkin sekitar tujuh jam tanpa transit, Tn, Deehan” jelas Theo.
Deehan kembali meminta Earlene untuk mengecek pesan yang di kirimkan Mikha kepadanya.
“Aku tadi membacanya setelah pekerjaan ku selesai dan bersiap pulang---tapi Mikha mengirimnya sejak sejam lalu setelah Aku melihatnya” jelas Earlene.
Deehan mulai menghitung waktu saat pesan Mikha yang di terima Earlene serta perbedaan waktu antara Jepang dan juga Singapura.
“Sepertinya Mikha akan pulang larut” ucap Deehan setelah menyelesaikan kalkulator waktunya.
“Seharian ini kamu tidak bertemu dengan Tn. Nino?” lanjut Deehan bertanya pada Earlene.
“Tidak, Tn. Deehan. Aku sangat menghindari Tn. Nino hari ini” balas Earlene jujur.
Deehan beranggapan kalau Nino sudah pasti mencari keberadaan Mikha, namun yang di ketahui Nino ialah Mikha dan Earlene yang sedang sibuk mengerjakan penelitiannya.
Deehan meminta Earlene untuk pulang lebih dulu namun tetap saja meminta Earlene untuk menghubunginya kalau ia kembali mendapatkan kabar dari Mikha. Earlene pun menyetujui permintaan Deehan yang sangat mencemaskan Mikha walaupun ia sudah di buat lega karena Mikha berhasil membujuk Rio untuk memberikan lukisan pengganti lagi untuk pameran yang akan di selenggarakan di Capitaland.
Earlene berhasil meninggalkan ruangan Deehan. Dan kini hanya menyisahkan Deehan serta Theo yang masih berada di ruangan tersebut.
“Bagaimana dengan Noah?” tanya Deehan pada Theo.
“Sepertinya Tn. Noah juga belum kembali. Aku melihat Sein yang juga masih berada di ruangannya” balas Theo.
“Aku penasaran apakah dia menemukan Mikha di Jepang atau tidak” ucap Deehan sembari menerka.
Namun Theo tidak dapat membalas perkataan Deehan, di mana ia sendiri yang tidak dapat memastikan hal tersebut.
“Yang terpenting Mikha sudah berhasil membujuk Tn. Yamusa untuk lukisan yang rusak itu---tapi jujur Aku tak menyangka kalau Mikha bisa meyakinkan Tn. Yamusa untuk mengirimkan lukisan pengganti tersebut” ungkap Theo jujur.
“… bukannya Anda tahu sendiri bagaimana karakter Tn. Yamusa---Aku juga penasaran alasan apa yang di berikan Mikha kepada Tn. Yamusa” lanjut Theo sembari berpikir.
“Itu tidak penting bagi ku---selama Mikha kembali aman ke Singapura dan tidak ketahuan oleh Tn. Nino” tegas Deehan dengan persepsi yang berbeda.
“Lalu bagaimana apa kita tetap menunggu di kantor atau kembali ke apartemen saja dan menunggu kabar dari Earlene” balas Theo.
Deehan pun memutuskan untuk kembali ke apartemen dan menunggu kabar dari Earlene mengenai Mikha.
Deehan melewati ruangan Noah dan masih melihat Sein di sana seperti dengan perkataan Theo sebelumnya. Namun Deehan hanya melihat sekilas dan terus berjalan hingga ia masuk ke dalam lift bersama Theo.
Suasana Capitaland sudah tampak sangat sunyi, di mana tak ada siapapun lagi yang terlihat di sana. Namun tetap saja mobil yang masih ada beberapa mobil yang sedang terparkir di basement kantor.
Theo mengambil alih kemudi mobil Deehan dan melaju meninggalkan Capitaland.
*****