Mikha pun menjelaskan kepada Rio kalau dirinya hanya mahasiswi magang di Capitaland yang sedang menyelesaikan beberapa objek penelitiannya. Namun na’asnya keduanya di berikan tanggung jawab untuk mengurus lukisan yang akan di tunjukkan nanti pada saat pameran.
“Teman kamu yang merusaknya?” tanya Rio memastikan kembali sambil membantu Mikha bangun dan duduk kembali ke sofa.
Mikha mengangguk dengan wajah merasa bersalah. Ia juga memberitahu Rio kalau apa yang di lakukan kali ini juga demi melindungi ayahnya yang juga merupakan salah satu staff di Capitaland.
Mikha menceritakan semuanya kepada Rio dan Aiko mengenai hubungannya dengan ayahnya yang tak menyetujui Mikha memilih bidang seni di universitasnya. Mikha berterus terang meminta rasa iba dari Rio untuk menyelamatkan dirinya, temannya serta ayahnya.
“Kalau teman kamu yang merusaknya, kenapa bukan dia yang mendatangi ku atau mencari solusinya? Kenapa harus kamu? Padahal bukan kamu yang merusaknya” ungkap Rio.
“Aku tidak percaya kalau dia bisa menyelesaikan semuanya, melihat lukisannya rusak saja dia sudah ketakutan dan panik tidak tahu harus berbuat apapun. Makanya Aku yang berinisiatif untuk melindungi posisi kami di Capitaland agar tidak di usir dari sana---dan tidak membuat ayah ku juga kena imbasnya karena ketelodoran ku dan Earlene” jelas Mikha jujur.
“Sepertinya posisi ayahmu juga di sana tidak terlalu mencolok sehingga kamu sangat takut kalau dia juga kena dampak dari kesalahan teman mu itu” ucap Rio kembali.
“Ayah ku hanya seorang manager keuangan di sana---Ayah ku sudah lama mengabdikan dirinya di Capitaland, Aku tidak akan rela kalau karena kesalahan ku imagenya di sana menjadi jelek” jelas Mikha dengan wajah bersalahnya.
“Manager keuangan?” tanya Rio memperjelas.
Mikha mengangguk.
“Siapa nama ayah mu?” tanya Rio penasaran.
“Tn. Nino---Nino Azel Ruby!” balas Mikha.
Rio dan Aiko kembali terkejut saat mendengar Mikha menyebutkan nama ayahnya yang tak lain adalah Nino yang sebulan lalu bertemu dengannya di Osaka. Di mana Rio dan Aiko mulai akrab dengan Nino setelah pertemuannya di Osaka sebulan yang lalu karena perjalanan bisnis Nino di sana.
“Aku baru saja bertemu dengan Tn. Nino sebulan lalu di Osaka!” ungkap Rio tak percaya kalau Mikha adalah anak Nino yang pada saat itu Nino juga sempat membicarakan mengenai kedua putrinya kepada Rio serta Aiko.
“Tn. Yamusa mengenal ayah ku?” tanya Mikha yang juga tak percaya.
“Iya---dia adalah orang hebat buat ku! Pengalaman hidup yang ia ceritakan pada ku saat itu membuat ku tak percaya dan sangat menganguminya!” puji Rio.
Mikha dapat bernapas lega mendengar respon Rio yang mengenali sang ayah.
Bahkan Aiko juga tak menyangka kalau apa yang di katakan Nino mengenai putri bungsunya saat itu memang benar setelah melihat karakter Mikha yang sangat berani.
“Aku rasa---Aku mulai paham kenapa Tn. Nino hanya mengkhawatirkan mu ketimbang putri sulungnya” sela Aiko sembari tertawa.
“Kamu memiliki karakter yang sama dengan Tn. Nino” lanjut Rio memuji.
Mikha heran serta bingung melihat respon keduanya setelah mengetahui identitas Mikha yang tak lain adalah putri bungsu Nino.
“Apa mereka sebegitu kagumnya sama ayah?” batin Mikha bertanya-tanya.
“Tapi biarkanlah! Setidaknya kamu memiliki peluang yang lebih besar, Mikha!” lanjut Mikha.
“Tapi Aku akan tetap membeli lukisan Anda, Tn. Yamusa buat menebus kesalahan ku bersama teman ku itu! Bagaimana pun Tn. Noah dan Tn. Deehan tahu kalau lukisan milik Anda yang di kirim ke Capitaland itu ada dua dengan gambar yang berbeda” jelas Mikha.
“Apa dua-duanya rusak?” tanya Rio kembali.
“Tidak hanya satu saja” balas Mikha sembari menjelaskan lukisan mana yang rusak.
Rio pun meminta Mikha beranjak dari kursi dan memintanya untuk mengikutinya masuk ke dalam satu ruangan yang berada di sisi kanan apartemen miliknya tersebut.
Rio membuka pintu tersebut di ikuti Mikha berada dua langkah di belakangnya. Seketika pintu itu terbuka Mikha di buat takjub dengan segala macam lukisan yang memenuhi ruangan tersebut.
“Wow!! Keren sekali!” ungkap Mikha takjub.
Rio hanya mengulas senyum tipis di sudut bibirnya.
Mikha pun memuji lukisan Rio yang tampak berbeda dengan lukisan seniman lainnya yang kebanyakan telah ia lihat saat masih di universitasnya dulu. Kecerdasan Mikha di bidang seni juga membuat Rio banyak memujinya, tampaknya Rio terlihat nyaman berbincang dengan Mikha yang membahas soal karya seni.
“Kamu bisa memilih lukisan mana yang akan kamu bawa pulang nanti ke Capitaland untuk mengganti lukisan yang di rusak teman mu itu” ucap Rio.
“Apa Anda serius?” balas Mikha.
“Iya! Tapi untuk alasan yang akan kamu berikan pada Noah dan Deehan kamu pikirkan sendiri saja” balas Rio.
Mikha tampak girang dan terus saja berterima kasih pada Rio atas kebaikan hatinya untuk menolongnya. Namun tetap saja Mikha kembali bermohon pada Rio untuk tidak memberitahu Nino mengenai kesalahan yang ia perbuat. Walaupun Rio dan Mikha tau kalau semuanya terjadi bukanlah atas kesalahan Mikha.
Rio pun berjanji kepada Mikha untuk merahasiakan hal tersebut kepada Nino.
“Bagaimana kamu sudah memilih salah satu lukisannya?” tanya Rio kembali.
Mikha mengangguk dengan menunjuk salah satu lukisan milik Rio yang menjadi pilihannya.
“Pilihan yang sangat bagus, Mikha!” ucap Rio sembari tertawa.
Mikha memperlebar senyumannya dan kembali berterima kasih kepada Rio.
Rio menyodorkan lukisan tersebut kepada Mikha.
Keduanya keluar dari ruangan tersebut. Di mana Aiko yang membantu Mikha untuk membungkus lukisan tersebut agar tetap aman saat tiba di Capitaland.
“So, kamu akan kembali hari ini juga ke Singapura?” tanya Aiko.
“Iya.. Aku tidak bisa berlama-lama dan membuang waktunya! Aku takut semuanya akan curiga apalagi ayah kalau tau Aku tidak pulang malam ini” jelas Mikha sembari mengidikan bahunya.
“Oh iya? Bagaimana kalau nona Aiko dan Tn. Yamusa ikut hadir juga di acara pameran nanti?—hm, kalau kalian memiliki waktu yang luang” lanjut Mikha sembari tertawa.
“Sepertinya tidak bisa” balas Aiko menatap ke arah Rio.
“Iya—Aku memiliki urusan lain dari tanggal itu dan Aku sudah menjelaskannya pada Noah, Deehan serta Tn. Deefan” jelas Rio.
Mikha kembali mengangguk mengerti dan tak memintanya lagi pada Rio serta Aiko.
Aiko meminta Mikha untuk makan bersama sebelum kepulangannya, namun Mikha menolak dan takut kalau ia kehabisan waktu sebelum tiba kembali di Singapura.
Mikha pun menjelaskan mengapa ia menolak walaupun jauh di lubuk hatinya ia ingin sekali makan bersama dengan Rio serta Aiko. Namun yang menjadi ketakutan terbesarnya ialah Nino.
Mendengar hal itu Rio dan Aiko hanya dapat tertawa melihat Mikha yang selalu terang-terangan memberitahu betapa kejamnya Nino kalau sedang marah terlebih lagi kalau Mikha melakukan hal tanpa sepengetahuan ayahnya.
“Baiklah---apa perlu Aiko mengantar mu ke band---”
“Tidak! Tidak perlu, Tn. Yamusa! Anda dan nona Aiko sudah sangat baik kepada ku dan banyak membantu ku---cukup, sudah cukup Aku merepotkan Anda berdua” sela Mikha tak enak.
“Biar Aku saja, okay!” lanjut Mikha memohon.
“Ya baiklah kalau begitu” balas Aiko mengangguk.
Lukisan itu sudah di bungkus dengan begitu rapi dan aman. Mikha memegangi lukisan itu dengan kedua tangannya sembari berpamitan kepada Aiko serta Rio.
Mikha kembali berterima kasih kepada Rio dan juga Aiko karena sudah menolongnya, di mana Mikha yang tak menyangka kalau Rio serta Aiko jauh dari ekspetasinya mengingat karakter keduanya yang sangat hangat.
“Semangat, Mikha!” ucap Aiko sebelum melepas kepergian Mikha.
Mikha meninggalkan lantai apartemen Rio sembari membawa lukisan itu dan langsung saja menuju bandara sebelum hari yang semakin malam.
Mikha bernapas lega setelah melakukan perjalanannya menuju bandara sambil melirik lukisan yang saat ini berada di sampingnya.
“Akhirnya sesuai harapan juga!” ucap Mikha pada dirinya sendiri.
Mikha baru merasakan rasa lelahnya seharian ini yang berkali-kali lipat dari rasa lelahnya yang biasa. Di mana subuh tadi ia sudah harus berangkat ke Jepang untuk memburu waktu agar bisa kembali tepat waktu di Singapura.
Mikha baru teringat dengan ponselnya yang sejak keberangkatannya ke Jepang tadi sudah ia matikan. Mikha menghidupkan kembali ponselnya dan mendapati banyak pesan serta panggilan di dalamnya,
*****