PART 22. TIBA DI JEPANG

1315 Kata
Berbeda dengan Deehan yang mencari alasan untuk di berikannya pada Deefan untuk mengulur waktu pembukaan pameran tersebut sambil menunggu informasi yang di perintahkannya pada Theo untuk mencari tahu keberhasilan Mikha di Jepang. Deehan menuju ruangan Deefan dan membicarakan mengenai beberapa kendalanya di Capitaland. Di mana topik itu di jadikannya sebagai bahan pembuka topik kepada ayahnya, sebelum ia menyinggung mengenai pameran tersebut. Cukup lama ia membahas perihal tersebut hingga Deehan mengambil kesempatan itu untuk menanyakan mengenai pameran kepada ayahnya. “Oh iya bagaimana dengan pameran itu? Apa tangalnya sudah pasti atau mesti di undur demi hasil yang sempurna?” ungkap Deehan. “Kenapa harus di undur? Bukannya semua staff sudah mengerjakan tanggung jawab masing-masing untuk pameran kali ini?” balas Deefan bingung. “Iya memang! Semua staff sudah melakukan semuanya hanya saja Aku rasa waktunya masih terasa sempit untuk hasil yang memuaskan” ungkap Deehan hati-hati. “Waktunya tidak mungkin di undur Deehan! Aku sudah memberitahu beberapa investor mengenai tanggalnya dan Aku tidak mungkin mengubahnya!” tegas Deefan. “Tapi bukannya bagus kalau mendapat pujian dari semua investor dengan hasil yang memuaskan, kan?” lanjut Deehan yang masih tetap berusaha. Namun tetap saja Deefan tidak mendengarkan perkataan putranya. Ia tetap kekeuh dengan tanggal yang telah ia tetapkan sebelumnya. “Memangnya kenapa kamu ingin mengundurnya? Apa ada masalah yang tidak ku ketahui?” tanya Deefan tiba-tiba dengan terkaannya. Deehan tercekat namun tetap berusaha tenang agar tidak membuat ayahnya curiga. “Tidak ada. Aku hanya ingin hasil yang maksimal saja” balas Deehan santai dengan ekspresi seperti biasanya. “Kalau sudah tidak ada yang ingin kamu katakan keluar saja---oh iya, apa kamu melihat Noah? Sejak pagi tadi Aku tidak melihatnya” tanya Deefan. “Mungkin saja dia sedang keluar---tadi pagi Aku bertemu dengannya” balas Deehan santai. “Baiklah! Kamu keluar saja” pinta Deefan. Deehan menghela napas lega setelah berhasil keluar dari ruangan ayahnya dan menghindari kecurigaan Deefan mengenai maksud Deehan untuk mengundur tanggal pembukaan pameran tersebut. *** Beralih ke Jepang, Mikha masih saja menunggu di depan gedung apartemen milik Rio Yamusa. Sedangkan pelukis tersebut sedang sibuk dan fokus dengan lukisan yang saat ini ia kerjakan, Aiko menatap Mikha dari balik jendela kaca apartemen Rio yang sudah berada di sana sejak tadi. Sesekali Aiko memberitahu Rio namun kekasihnya tak merespon ucapan Aiko hingga ia sendiri yang memastikan hal tersebut dan masih mendapati Mikha di depan gedung apartemennya sedang duduk sembari memegang sebuah cup matcha latte di tangan kanannya. “Apa sejak tadi kamu menyuruhnya pergi dia masih berada di sana?” tanya Rio pada Aiko. “Iya---sejak tadi kamu meminta ku untuk menyuruhnya kembali nanti” balas Aiko jujur. Rio menatap jam yang melekat di dinding apartemennya lalu melempar pandangannya lagi ke arah Mikha. “Tunggu setengah jam lagi kalau dia tidak naik---kamu turun saja memanggilnya untuk bertemu dengan ku” pinta Rio yang kembali melanjutkan lukisannya. Aiko mengangguk mengerti dan kembali juga memusatkan perhatiannya pada sebuah majalah fashion yang di peganginya saat ini. Sedangkan Mikha tetap kekeuh menunggu di halte tepat di depan gedung apartemen milik Rio sambil sesekali meneguk matcha latte miliknya. Sudah tak tahu keberapa kalinya ia melirik jam di ponselnya menunggu waktu yang akan menunjukkan pukul sore hari agar ia bisa masuk kembali dan bertemu dengan Rio sesuai dengan perkataan Aiko sebelumnya. Setelah meneguk habis minumannya, Mikha mulai mengumpulkan keberaniannya lagi untuk masuk ke dalam gedung tersebut. Menarik napas yang cukup panjang sebelum ia masuk ke dalam lift. Mikha tiba kembali di depan pintu apartemen milik Rio, menegtuknya beberapa kali hingga Aiko kembali keluar untuk kedua kalinya. Mikha memamerkan senyum ramahnya sembari menyapa Aiko kembali. “Hai, Ms. Aiko!” sapa Mikha. “Ah iya! Staff Capitaland?” balasnya. “Iya---Mikha Caleystra Ruby!” jelas Mikha bersemangat. “Hm.. Aku kembali lagi untuk bertemu dengan Tn. Yamusa---seperti yang tadi Anda katakan kalau Tn. Yamusa bisa di temui sore hari, jadi Aku kembali lagi..” lanjut Mikha menjelaskan. Mendengar hal tersebut, Aiko pun mempersilahkan Mikha masuk. Mendapat ijin dari Aiko untuk masuk ke dalam apartemen Rio membuat Mikha lega dan banyak berharap kalau semuanya berjalan dengan memang apa yang ia harapkan. Aiko meminta Mikha duduk terlebih dahulu sebelum memanggil Rio keluar untuk menemuinya. Mikha duduk seperti permintaan Aiko sembari melihat sekeliling isi apartemen tersebut yang di penuhi dengan beberapa lukisan yang terpanjang di dinding apartemennya. Di dalam pikiran Mikha kini sudah di penuhi dengan segala macam kalimat pembuka yang akan ia lontarkan apabila Rio sudah berada di hadapannya. Suara langkah kaki yang terdengar semakin mendekat ke arahnya di ikuti suara langkah kaki lainnya. Melihat seorang lelaki yang keluar dengan setelan yang terbilang sangat rapi saat berada di dalam apartemen mendekat ke arah Mikha. Menyadari bahwa itulah sosok Rio Yamusa, Mikha pun beranjak dari sofa berdiri lalu membungkuk menyapa Rio dengan sopan. “Selamat sore, Tn. Yamusa!” sapa Mikha lebih dulu. “Hm.. Aku Mikha Caleystra Ruby---salah satu staff di Capitaland, maaf sudah mengganggu waktu Tn. Yamusa yang sudah berharga” lanjut Mikha. Rio meminta Mikha untuk kembali duduk setelah dirinya. “Iya---Aiko sudah memberitahu identitas mu, jadi apa kepentingan mu untuk bertemu langsung kepada ku?” tanya Rio tanpa basa-basi. Mikha terdiam sembari memikirkan jawaban yang akan ia berikan atas pertanyaan Rio kepadanya. “Sebelumnya, Aku minta maaf kalau jawaban ku ini menyinggung perasaan Anda.. Tn. Yamusa---tapi, Aku mengatakan ini memang dari hati ku!” jelas Mikha berhati-hati. Rio hanya terdiam sembari mengamati ekspresi wajah Mikha yang terlihat begitu gelisah berada di hadapannya. “Apa? Coba kamu katakan!” pinta Rio. Mikha pun menjelaskan kalau kedatangannya kali ini untuk membeli lukisan Rio lainnya karena mengaku kalau dirinya adalah penggemar dari seorang seniman Rio Yamusa. Rio tak dapat menahan tawanya mendengar perkataan serta alasan Mikha sampai mendatanginya ke Jepang. “Jika kamu hanya ingin membeli lukisan ku---kamu tidak perlu sampai mendatangi ku ke apartemen ku, nona Mikha..” ungkap Rio di sela tawanya. “Kamu kan seorang staff Capitaland dan punya akses untuk membicarakannya dengan Aiko di panggilan” lanjut Rio bingung. Mikha pun kembali memberitahu Rio kalau yang di lakukannya saat ini bentuk penghormatannya sekaligus bisa bertemu langsung dengan seniman kesukaannya. “Bahkan Aku ragu kalau kamu memang penggemar ku” ucap Rio yakin. “Katakan saja apa kepentingan kamu yang sesungguhnya---kalau hanya itu kamu tidak mungkin sampai datang dan rela menunggu ku di depan halte tadi---katakan saja!” lanjut Rio. Mikha terdiam kembali sembari berpikir apakah ia harus mengatakan yang sesungguhnya kepada Rio atau tetap merahasiakannya. Namun melihat respon Rio, ia seakan tak mempercayai alasan kedatangan Mikha ke Jepang. Aiko pun melanjutkan mengingat bahwa sebelum kedatangan Mikha ke pagi tadi satu hari sebelumnya ia menerima panggilan dari Noah yang membingungkan. Di mana Noah terdengar sedang mengintrogasi Aiko pada saat itu. Mendengarkan hal tersebut yang terlontar dari bibir Aiko membuat Mikha semakin panik dan terpojokkan. Jantungnya berdegub begitu hebat, tangannya pun keringat karena kegugupannya. Mikha pun memastikan kembali pada Aiko bahwa Noah belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Capitaland mengenai lukisan tersebut. Rio dan Aiko di buat terkejut saat melihat Mikha tiba-tiba saja berlutut di hadapan Rio sembari memohon dan mengatakan yang sejujurnya mengenai lukisan Rio yang tak sengaja rusak di Capitaland. “Kamu yang merusak lukisannya?” tanya Aiko memperjelas. “Bukan! Tapi Aku juga ikut tanggung jawab dengan lukisan milik Tn. Yamusa itu” jelas Mikha jujur. “Lalu siapa yang merusaknya? Kenapa harus kamu yang mendatangi ku sampai di sini?” tanya Rio penasaran. Mikha pun menjelaskan kepada Rio kalau dirinya hanya mahasiswi magang di Capitaland yang sedang menyelesaikan beberapa objek penelitiannya. Namun na’asnya keduanya di berikan tanggung jawab untuk mengurus lukisan yang akan di tunjukkan nanti pada saat pameran. “Teman kamu yang merusaknya?” tanya Rio memastikan kembali sambil membantu Mikha bangun dan duduk kembali ke sofa. Mikha mengangguk dengan wajah merasa bersalah. Ia juga memberitahu Rio kalau apa yang di lakukan kali ini juga demi melindungi ayahnya yang juga merupakan salah satu staff di Capitaland. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN