Demio menatap Yuni, senyumnya terasa berat. Kebohongan yang selama ini ia rangkai telah menjadi tembok kokoh yang melindungi Yuni, sekaligus menjebaknya. Ia melihat betapa bersinarnya mata Yuni, betapa murninya kebanggaan yang terpancar. Rasa bersalah itu menusuk, namun ia tahu, Yuni belum siap menerima pukulan kebenaran. Ia harus memilih waktu yang tepat, saat kebanggaan itu sudah menjadi baja, bukan sekadar kaca yang mudah pecah. “Mas tidak sabar untuk memulai babak baru itu, Sayang,” kata Demio, meremas tangan Yuni lembut. “Tapi, kita tidak perlu pindah dulu. Kontrakan ini punya banyak kenangan. Mas ingin kita tetap di sini sebentar, sampai Mas benar-benar yakin kamu sudah terbiasa dengan status baru Mas.” Yuni mengangguk, tanpa curiga sedikit pun. “Tentu, Mas. Aku ikut saja. Aku bisa

