BAB 20
Sampai di restoran mewah Sella dan suaminya sudah menunggu.
“Mama, Papa apa kabar kalian sehat ?”
“Sehat Al, gimana Cantika perkembangannya?”
“Makin lucu dan cantik Mama, Aku saja dikit-dikit kebelakang gak ketemu sejam saja sudah kangen.” Casey memotong pembicaraan Alma dengan Mamanya.
“Ayo duduk semuanya, Mama sudah pesan makanan nya.”
Sambil menunggu pesanan makan datang.
“Alma, Mama saat ini akan egois sekali, tidak ingin mendengar alasan apapun. Mama hanya ingin kamu untuk Jea. Mama ingin kamu jadi mantu Mama.”
“Ma, kamu jangan menekan Alma, biarlah Alma yang memutuskan,” Malvin Papanya Jea gak suka melihat Alma ditekan.
“Alma sayang, papa tetep ingin Alma memilih dengan hati nurani Alma, jangan merasa terintimidasi dengan sikap mamamu yaa.” Malvin lebih bijaksana, Sella mendelik sama suaminya.
“Mama lucu kalau mendelik gitu… hihihi.” Alma malah ketawa.
Semua ikut ketawa..
“Trus gimana Al keinginan Mama.” Sella keukeuh.
“Mama, Papa, Alma mau nikah dengan Jea tapi gaK usah terburu-buru, tunggu Gani dulu pulang.”
Jae yang duduk sebelah Alma, melonjak kaget lalu spontan memeluk Alma.
“Makasih Al, makasih.” Mata Jea berkaca-kaca, Tangannya mengeluarkan cincin yang telah disiapkan.
Sekarang Alma yang melonjak kaget.
“Alma kalau kamu menerimaa lamaran Jea, anggap saja untuk Mama.”
Alma mengangguk ragu, “Ini terlalu cepat.”
Tapi tetep menyodorkan jarinya. Lalu ambil cincin satunya untuk dipasangkan di jari Jea.
Alma elirik Casey,” Pasti ini ulah kamu yaa, cincin ini pas dijariku.”
Casey ketawa, “Tapi cincin kak Alma sudah dikembalikan pada tempatnya jadi bukan nyuri tapi minjem."
Semua ketawa. Makanan datang dengan menu yang mewah karena memang rencananya untuk melamar Alma.
“Terima kasih Alma.” Jea mencium punggung tangan Alma dengan segenap hati.
“Sebenernya ini terlalu tiba-tiba,” Alma masih bingung.
“Al, ditunda atau dipercepat sama saja kalau memang mau menikah. Coba fikirkan, kalau
ditunda apa yang kalian tunggu ? gak ada. Kalian masing-masing sudah siap.” Mama terus saja mempengaruhi Alma supaya mantap pada pilihannya.
Selesai makan Casey dan Alma dianter Jea, sekarang Jea berani memegang tangannya sepanjang jalan. Jea masih belum percaya Almanya akan kembali lagi padanya, gak sia-sia dia menolak semua cewek yang disodorkan mamanya. Sampai berkali kali bersyukur pada Tuhan.
Jea hanya drop Alma dan Casey, mereka langsung masuk kamarnya, sekarang dia sudah merasa tenang karena Alma sudah dilamar walau berduan dengan Yuval sudah gak khawatir lagi.
“Val makasih ya sudah jagain Cantika.”
“Sudah tugas aku Al.”
Alma memeriksa pampers Cantika ternyata sudah penuh., dengan cekatan Alma menggantinya.
Yuval memperhatikan gerakan Alma dan tanpa sengaja melihat cincin di jari Alma, lalu menarik tangan Alma.
“Kamu tunangan dengannya?”
Alma mengangguk.
“Al aku harus bagaimana ?”
“Kamu akan baik-baik saja Val.”
“Aku bersumpah aku akan menunggu kamu sampai kamu janda lagi entah usia 50, 70, 100 tahun sekalipun aku akan menunggumu.”
Yuval sangat kecewa walaupun tidak bisa apa-apa, bayangkan dia belum kembali ingatannya sudah sesakit ini. Bagaimana kalau kembali.
Dia beranjak pergi tanpa pamit, dia semakin membenci Diva yang telah masuk dalam
kehidupannya lagi.
Sampai rumah Yuval teriak.
“DIIIVVVAAAAAA…”
“Ada apa Val,” dia gemeteran melihat kemarahan dimata Yuval.
“Kamu telah menghancurkan hidupku, ingatanku belum pulih aku sudah sangat membancimu, bagaimana kalau ingatanku pulih. Aku pasti menendangmu ke jalanan.”
“Maafkan aku Val, aku menyesal. Andai aku bisa bersujud pada Alma untuk mengembalikannya padamu akan aku lakukan. Sungguh Val aku menyesal.” Diva sesenggukan menangis.
“Penyesalannu tidak ada artinya sama sekali tau, kenapa kamu jadi orang bisa sejahat ini, apa ibumu mengajarimu untuk jahat seperti ini !!”
“Val jangan bawa-bawa ibuku.” Diva kian terisak.
“Apa kamu tidak sedikit saja punya nurani ketika menghasutku kamu bilang kalau aku dijebak dia. Aku memegang terus ucapanmu itu. Aku saat ini ingin membunuhmu Diva. Tapi itu akan menguntungkan kamu, kamu tidak akan menderita, aku ingin melihat kamu menderita sepertiku.”
“Val aku saat inipun sudah menderita, aku mencintaimu, kamu mengabaikan aku yang sedang hamil. Ini suatu penderitaan Val.”
“Gimana enak ? apa kamu gak memikirkan Alma pun menderita ketika aku abaikan?”
“Aku tau Val aku salah, aku salah, aku menerima hukuman ini Val.”
= = = = =
Tiap hari tetap Yuval datang setiap jam tujuh malam sampai jam delapan, begitupun Jea tiap hari makan disana, tetapi Yuval sudah mulai menerima keadaan Jearau dengan lapang, mereka sudah bisa ngobrol dengan santai bisa nyandai cantika yang sudah berumur tiga bulan, serasa cantika punya papa dua, satunya membahasakan papi Val satunya papa Je.
Alma dan semua pagawai café pun sudah terbiasa dengan keberadaan mereka berdua.
“Kak gimana rasanya di gilai dua cowok ganteng dan kaya ?” Sassy membayangkan betapa bangganya dia kalau itu terjadi pada dirinya.
“Kau kira enak Sassy, yang ada pusing serba salah, apa perlu aku poliandri.” Alma sewot ketika tau Sassy membayangkan dirinya enjoy saja dengan keadaan ini.
“Saya fikir kak Alma seneng saja.” Sassy tertawa.
Alma melempar bantal ke muka Sassy.
“Dasar Gila”
“Val kandungan Diva sudah berapa bulan ?”
“Gak tahu.”
“Val aku tanya serius.”
“Aku juga jawab serius.”
“Vaaaal….” Alma jengkel.
“Anak dikandungan mu itu anakmu.”
“Tahu.”
“Kalau seperti ini aku akan benci kamu, Sebenci apapun kamu ke Diva tapi bayi itu gak bersalah.”
“Tapi dia ada karena kesalahan.”
Emosi Alma sudah naik ubun-ubun.
“Kamu jangan kesini lagi, karena kamu pun melakukan kesalahan padaku. Mulai besok kamu jangan kesini.”
“Al kamu tega yaa…. “
“Ya aku akan tega seperti kamu.”
Jea yang duduk di sebelah Yuval diem saja, tidak mau ikut campur.
“Mau tega atau apa aku gak mau kamu kesini lagi selama kamu gak ngurus kandungan Diva.”
Yuval tak bergeming.
“Val urus bayimu, kalau kurang gizi kamupun akan rugi. Perhatikan gizinya.”
“Mulai besok aku kirim makanan yang layak buat orang hamil.”
“Kalau kamu gak mau ngurus anakmu akan aku ambil kalau ibunya gak mau ngurus juga.” Alma sewot.
Yuval berkaca-kaca.
“Sekarang aku mengerti kenapa orang bilang kamu luar biasa. Pantasan Jea gak mau menikah dengan orang lain setelah mengenalmu. Aku bener-bener ceroboh.”
“Tapi ingat aku gak memberi gratis buat orang yang merebut suamiku. Kamu harus membayarnya ke kasir tiap bulan.”
Yuval mengangguk.
“Nanti kamu pulang bawa makan buat istrimu, untuk hari ini gratis. Bawa dia ke dokter.” Alma kesal.
Alma berdiri, berlalu dari dua cowok itu.
“Kamu bahagia diatas penderitaanku Jea.”
“Maaf Bro karena aku pun harus mengejar kebahagiaanku.”
“Sialan.” Yuval pamit sambil bawa nasi kotak yang disediakan Alma buat istrinya.
Sesampainya di rumah
“Nih nasi kotak dari perempuan yang kau sakiti, mulai sekarang dia akan mengirim makanan buatmu. Dan menyuruh aku memeriksakan kandunganmu ke dokter.” Yuval menatap sebal pada istrinya, “Apa pantas orang seperti dia disakiti, Diva?”
“Val katakan padanya, aku minta maaf.”
Yuval gak ngomong apapun langsung pergi ke kamar mengunci diri.
= = =
Di bandara Yuval gelisah duduk di salah satu Coffee shop, Alma lebih santai.
"Nanti Diva suruh jangan keluar kamar dulu sebelum kita menerangkan padanya."
“Alma, karma apa ini sampai aku harus mengalami seperti ini.”
“Sudahlah Val jangan bahas, terima saja takdir ini.”
Yuval mengangguk.
“Tapi tetap aku akan menceraikan Diva, aku gak sanggup hidup bersamanya setelah aku tau sifat dia sebenarnya.”
“Kita bareng dengan pasangan yang dijodohkan tidak tau sifatnya saja kita sulit menerima, apalagi dengan yang kita benci.”
“Aku bisa merasakannya Val, tapi gimana lagi aku hanya bisa mencegah semampuku.”
“Mestinya kamu lebih keras menghalangiku menikahinya,”
Alma tersenyum.
“Aku sedang berusaha mengumpulkan bukti bukti dengan Velly tapi kamu keburu menikah denganya Val, aku Fikir kamu akan menikah setelah cerai resmi keluar. Tapi ketika berkas terkumpul aku tahu kamu telah menikah. Aku merasa sia-sia. Akhirnya berkas itu aku kembalikan pada Velly.”
“Tapi tetep Velly memberikannya padaku.”
“itu urusan Velly karena Velly cerita betapa dia sakit hatinya sama Diva, setelah menikah aku stop semua usahaku.”
“Aku anggap itu titik maksimal saya usaha.”
Pengumuman Cathay Pacifik dari Perancis Landing.
Mereka berdiri, Yuval terlihat gugup, Alma menenangkan.
“Val apapun yang terjadi terjadilah. Kamu harus legowo.”
Setengah jam kemudian.
Dari jauh ada yang melambai-lambai Gani dan Gama mendorong trolly mendekat.
Gama memeluk Alma erat dan lama,
“Aku kangen kak,” Alma berkaca-kaca.
Alma pun tak kalah erat memeluk Gama
“Kak Val jadi bapak kok tambah kurus gini. Apa kak Alma kurang ngasih makan kak.” Gama mendelik ke arah Alma.
Mereka tertawa.
Gani memeluk Alma berbisik, "kak yang sabar yaa.”
Alma berkaca-kaca mengangguk, karena
sudah menceritakan semuanya setelah Gani lulus ujian akhir.
Alma menggandeng Gama, Yuval mengambil mobil, Gani mendorong trolly, Mobil menepi koper dan tas cabin dimasukin ke belakang. Yuval yang nyupir sebelah Gani, Alma dengan
Gama, Yuval terenyuh melihat interaksi Gama dan Alma.
Mobil melaju membelah Jakarta.
“Kak aku gak beli oleh-oleh banyak, soalnya emanag kita bokek banget.”
“Ga apa-apa, kakak bangga sama kalian bisa menyelesaikan kuliah dengan baik. Padahal kakak mengirim uang pada kalian sangat terbatas.”
“Kakak gak tau di Jakarta makan di café seenaknya ingin apa saja tinggal nyuruh masakin. Disana kita ngirit-ngirit banget segala beli seporsi berdua, untungnya seporsi ukuran bule kan banyak.”
“Itu akan menjadi kenangan kalian, sampai kapanpun kalian tetep sodaraan yaa.”
“Tentu kak, aku lebih baik mati saja kalau harus kehilangan Kakak.”
“Yuval sampe hampir nyerempet pembatas mendengarnya.”
“Kak nyupirnya yang konsentrasi.” Gama ngingetin.
Yuval mengangguk.
“Gama jodoh itu ditangan Tuhan kita tidak tau kedepan ada apa. Kalo ternyata kakak harus bercerai oleh Tuhan tak seorangpun bisa menahannya, begitu juga jodoh. Misal kalian Gama dan Gani ternyata jodoh, dipaksa nggak juga tetep saja berjodoh.”
“Ihh kenapa ngomongin perceraian, pamali ahh. Aku gak mau terima kalau kalian cerai. Ga usah bahas.”
Yuval dan Gani diam mereka saling melirik.
Gani sebenarnya kesal sama Yuval tapi diwanti-wanti jangan marah karena apapun juga sudah kehendak Tuhan.
“Kak, tau gak seminggu ini Gani pendiam banget diajak ngobrol apapun selalu menghindar, apa saking kangen kakak atau karena mau meninggalkan Perancis, dia kan punya gebetan adik kelas.”
“Sekarang langsung ke café yaa ingin ketemu ponakanku.”
“Val ke Café dulu. Nanti agak sorean baru pulaang ke rumahmu.
“Kamu gak cape, mau istirahat dulu ?”
“Aku di pesawat banyak tidur, yang gelisah tuh Gani. Kayaknya dia gak bisa tidur beberapa hari.”
Mobil di parkir tepat dipintu masuk.
Gama sudah ga sabar untuk melihat ponakannya, dia berlari menyapa karyawan sambil berlari.
Sampai di kamar Casey lagi mengganti popok Cantika.
Alma menunggu Casey mengganti popok.
“Kamu Casey ? Sekarang pegawai kak Alma atau magang ?” Gama gak yakin kalau pegawai, karena dia kelihatan berkelas dari pakaiannya merk Branded, dan kelihatan blasteran.
Casey menyodorkan Cantika ke pangkuan Gama. “Terserah mau dibilang magang atau pegawai, tugasku hanya nemenin kak Alma.”
Gani sampai kamar,
“Hai Casey apa kabarmu, gue kangen banget sama elo” gani memeluk Casey dengan erat.
Lu sombong ya mentang-mentang kakakku, Gani langsung membekap mulut Casey,
“Gue kan sibuk.”
“Yang kuliah bukan elu doang kali.”
“Beneran gue sibuk.” Gani mengacak rambut Casey.
Gani melihat ponakan nya. “Kak ponakanku lucu banget”
Alma tersenyum.
Yuval duduk di sofa diam saja.
“Kenapa Casey ngurus Cantika ?” Gama heran.
“Dia menemani kakak dari hamil 6 bulan, sampai saat ini” Alma gak mau berbohong.
“Sudah semenjak kakak hamil 6 bulan ?” Gama makin bingung.
“Kenapa harus ada dia, emang ka Val sesibuk itu.” Gama terlihat kurang suka.
“Kak Val tidak bisa setiap saat ada di sisi kakak,”
“Sekarang kamu mau ganti pakaian pakaian di lemari sudah kakak cuci semua pakaianmu takut berdebu 2 tahun gak di pake.
Gama dan Gani beranjak masuk kamar masing-masing, kamar Gama yang ditempatin Casey.
Selesai mandi ganti pakaian, Gani dan Gama kembali bergabung.
“Nanti Cantika tidur disini atau dirumah sana ?”
“Disini. Tapi sekarang kita kesana dulu yaa.”
“Ga mau, aku mau sama ponakanku.”
“Nanti dibawa Casey ke sana Gama.”
“Kenapa harus dengan Casey, aku juga bisa kok.” Gama mulai gak suka melihat Casey lebih dominan.
“Iya nanti kamu yang pangku bawa saja sama Gama”
“Al…. “ Yuval khawatir.
“Sana bawa Gama sama Gani ke mobil dulu kakak mau bawa keperluan.”
Setelah Gama dan Gani keluar.
“Casey nanti ikut ke rumah kak Yuval. Bawa Cantika kembali.”
Casey mengangguk, Yuval paham.
“Ternyata Alma selain cantik pinter masak dan sangat cepat tanggap pada keadaan.” Bathin Yuval.
Mereka melaju ke arah rumah Yuval. Cantika digendong Gama. Tak henti-hentinya diciumin Gama.
“Gama nanti pipinya lecet kalau terus diciumin gitu.” Alma nyandain.
Gama mendelik.
Sampe rumah mereka mengeluarkan koper Gama, koper Gani sudah duluan dikeluarkan di café.
Mereka duduk, Gama melihat sekeliling.
“Kak rumahnya kotor banget, apa karena kakak hamil melahirkan gak bisa ngurus rumah. Kan bisa nyuruh pegawai untuk beres-beres.” Gama ke pantry ke meja makan yang berdebu apalagi lihat tempat cucian piring sudah lama berserakan.
Alma langsung tepok jidat, Casey mengambil bayi dari pangkuan Alma.
“Val aku lupa nyuruh elu beberes.” Alma dan Gama punya kebiasaan yang sama senang
kebersihan.
“Ini bukan kak Alma banget. Apa kakak karena hamil jadi jorok gini kak, Aku gak percaya. Kakak bisa berubah sedang di rumah kakak gak ada debu sedikitpun. Apa kakak gak pernah kesini ?”
‘Duduk dulu Gama, kakak mau cerita.
Di dalam kamar dekat dapur, Diva terisak merasa memang dia tipe pemalas kamarnya yang ditempatin saja jorok banget.
“Sini sebelah kakak.” Alma menepuk nepuk paha Gama untuk menenangkan dulu. Casey keluar di suruh pulang bawa Cantika.
“Alma… sebenarnya kakak Yuval itu pernah kecelakaan dan hilang ingatan sampai sekarang. Dia gak ingat sama sekali pada kak Alma sampai sekarang. Disaat usia kandungan kak Alma 5 bulan. Yang kak Yuval ingat hanya masa dimana dia sedang pacaran dengan Diva”
Alma pelan-pelan menceritakan dengan bahasa yang sedemikian sederhana supaya Gama tidak shock
***Bersambung