BAB 19

1881 Kata
BAB 19 Pagi, Casey pamit mau pulang dulu, "Kak, aku mau pulang dulu ke rumah mama yaa, tadi disuruh ke sana, nanti jam sebelasan ke sini lagi. “Pake mobil kakak saja sana, kuncinya di nakas.” “Ga apa-apa kok naik taxi saja.” “Casey, kakak hari ini gak ada niat keluar sampe sore, pake saja.” “Oke Kak.” Casey sampe di kantor Jearau jam sembilanan lebih. “Kak tadi malam aku rayu terus kak Alma untuk menerima Kakak, akhirnya dia mengangguk tapi minta nunggu sampai masa nifasnya habis dan nunggu Gani pulang ke Indonesia sekitar tiga bulanan lebih. Kakak harus pendekatannya yang halus ya kak jangan nyosor gitu nanti malah cewek enek, perhatian yang hal-hal kecil, sekarang fokus perhatikan kebutuhan baby nya jangan kalah sama kak Yuval.” Jearau menggangguk. “Setelah mendekati masa nifas kakak harus sigap, aku takut Gama membantu Yuval untuk kembali, kita gak tau nanti Gama bisa bikin terenyuh kak Alma, jadi kak Alma mau balik lagi." Casey menarik nafas dulu. "Gama sangat deket dengan kak Alma, mereka juga dijodohin sama mereka, Gama yang gencar mendekati kak Alma. Belum lagi Gani deket sekali sama Gama.” “Oke kamu perhatikan apa saja kebutuhan bayi yang mendekati habis, yang diperlukan kasih tau Kakak.” “Siap Kak.” “Aku pulang dulu.” “Makasih adiku sayang." “Semangat kakakku sayang.” Casey balik lagi ke café, sebelumnya mampir beli jajanan pasar yang agak banyak untuk seluruh karyawan. “Casey gimana mama sehat ?” “Sehat sih malah dia lupa nyuruh Casey datang coba,” “Hahahaha… nanti kita juga kalau sudah tua pasti gitu juga Casey.” “Iya kak. Lucu banget yaa.” Casey ketawa sendiri takut ketahuan bohongnya. “Tadi akhirnya mampir ke kantornya kakak, dibelikan ini jajanan.” “Sering sering saja ya Casey bilang sama kakakmu.” ucap Sassy asistennya Alma “Husshhh… jangan malu-maluin boss disini.” Ka Alma mendelik. “Nih ya Casey, aku pernah kerja di hotel yang banyak makanan enak apa saja ada, tapi temen bawa rengginang yang sudah bubuk juga pasti disikat habis, apalagi kalau jajanan pasar enak gini.” Sassy paling suka kalau ada yang bawakan jajanan. Dia paling suka ngemil makanya tubuhnya subur. “Sakali kali gak apa atuh boss, kalau niat ke boss nya ya anak buahnya juga harus diperhatikan," timpal Diaz Sorenya. “kak Pampers bayi kayaknya mau habis kak Alma belum ngeh. Aku kirim ya merk dan ukurannya.” Casey dengan sigap memperhatikan kebutuhan Cantika. “Ok sayang, makasih infonya.” Yuval sudah duluan nyampe dia langsung ke rumah nengok Cantika. Dia langsung gendong bayi. “Val, bayinya mau dimandiin dulu lepas dulu.” “Bentar dulu Al masih seneng gendong.’ “Val mandiin bentar kok, cepet sini ahh.” Muncul Jea membawa diapers bayi. “Kamu gak usah beli-beli kebutuhan bayiku, bapaknya juga masih mampu,’ Yuval mendelik lihat belanjaan rivalnya. “Yaa kalau mampu kenapa gak beliin. Lagian aku bukan beliin anakmu, aku beliin anak pacarku.” Jea dengan santainya menyodorkan belanjaan pada Casey. Selesai mandikan bayi. “Duuuh diapers nya habis niih, nak nanti yaa ibu beli dulu lupa, sekarang di double saja kainnya.” “Nih tadi kesini sekalian inget keperluan Cantika.” “Makasih om Jea, ngerti saja kebutuhan Cantika,” Casey dan Jea tersenyum, Yuval mendengus. “Cantika mau ikut pergi sama mama, mau main sama papa, atau mau sama tante casey.” “Mama pergi dulu yaa sayang mau beli kebutuhanmu.” “Bareng sama aku, aku kan papa nya.” Yuval menawarkan diri. “Tapi aku gak bisa bareng dengan istri orang, Yuval. Kalau kamu mau belikan nanti minta listnya saja apa yang harus kamu beli.” Yuval gak bisa apa-apa karena jawabannya menohok sekali. Semakin Alma mengingatkan tentang istri semakin Yuval membenci Diva. “Jea nanti saja kita berangkatnya setelah magrib yaa sekarang rada cape,” “Oke, gimana enaknya kamu sajalah.” “Yuval, kamu harus fikirkan menghadapi adikmu sebentar lagi akan pulang.” “Kalau aku mudah menerangkan ke Gani karena aku ada diposisi lemah sedangkan kamu yang ambil keputusan.” “Ya aku juga sedang memikirkannya.” “Kita menjemputnya gimana, apa aku saja atau kamu saja.” “Ya kita berdua saja.” “Al, nanti aku antar saja, gimana.” Jea meawarkan diri. “Jangan Jea nanti dia terlalu kaget.” “Buat aku sangat mudah, Gani itu sangat percaya apapun yang aku putuskan pasti sudah diperhitungkan. Tapi buat Gama gak bisa begitu, aku hapal sekali watak Gama, dia keras sepertimu Yuval. Masalahnya hanya di Diva, Gama sangat membenci Diva, Aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan, Diva kasihan dia lagi hamil.” “Ya ampuun sayang, bagaimana aku makin mencintaimu, kamu memang luar biasa, perempuan yang merebut suamimu saja masih difikirkan keselamatannya. Aku makin padamu saja.” Jea melirik Yuval, sambil jari tangannya membentuk hati ala-ala korea. Alma tertawa lebar. “Aku mikir sesama perempuan saja. Kamu fikirkan bener-bener, yang aku takutkan Gama kabur.” Yuval merinding ketika Alma bilang kabur. “Kenapa kemarin aku bisa seegois itu hanya memikirkan kesenangan sendiri saja gak memikirkan Alma yang lagi hamil, gak memikirkan perasaan Gama, sudah bolak-balik diberitahu menutup telinga. Padahal Alma sampai puluhan kali minta ditunda perceraiannya. Andai waktu bisa diputar, hari ini aku pasti bahagia bersama Alma dan Cantika.” Yuval hanya membathin. “Setelah magrib Jea pergi bersama Alma ke supermarket. Membeli kebutuhan bayinya.” “Jea yang mendorong trolly, Alma yang memilih barang.” Segini saja Jea sangat bahagia apalagi sudah beneran jadi pasangan.” “Jea, apa kamu gak cape pagi sampe sore di kantor, malam ke rumah, sudahlah kamu cukup 2-3 kali seminggu toh kamu harus istirahat juga, kamu kelihatan cape,” Alma kasihan melihatnya. “Ketemu kamu adalah booster buatku, bareng kamu seperti ini membuat aku tambah energi. Lagian sungguh aku cemburu Yuval bisa ada disitu.” “Apa semua lelaki itu lebay yaa kalau lagi deket cewek ?” “Bukan lebay sih menurutku tapi sebenernya.” “Carilah yang masih gadis Jearau, aku sudah punya anak, kamu harus banyak legowo ketika aku harus bareng Yuval karena harus nemenin anak pasti itu akan menyusahkanmu.” “Alma, aku gak tau harus balas budi seperti apa ke kamu. Kamu pernah tersakiti yang sangat, itu tidak bisa dihapus dengan apapun. Saat ini saya hanya berfikir membahagiakanmu, kamu mau ada dimana dengan siapa aku gak peduli. Tugas aku hanya membahagiakan kamu titik. Kamu hanya bareng Yuval gak ada apa-apanya buat aku dibanding dengan kesalahanku padamu.” “Tapi Jea…” “Sudah gak ada tapi, kamu sudah mau menerima aku seperti ini saja sungguh luar biasa buat aku. Jadi tolonglah jangan larang aku dekat kamu. Dengan aku bisa membantumu, mengurangi beban rasa bersalahku padamu.” Alma geleng-geleng kepala. Keluar dari kasir, Jea mengajak Alma nyari makan dulu. Nunggu hidangan datang, “Al, walau terkesan buru-buru belum nifas kamu habis, tapi kamu bercerai sudah 5 bulan lebih, aku hanya ingin memastikan sungguh aku serius ingin menikahimu, aku tau kamu pasti masih mengingat kelakuanku, tapi aku bersumpah dari yang kamu liat itu sampai sekarang detik ini tidak terpikir untuk melakukan hal itu lagi malah hilang nafsuku melihat perempuan karena rasa bersalahnya aku.” “ Jangan mengingatkan aku pada kejadian itu, aku sudah melupakan dan memaafkanmu. Kamu sudah sangat berubah, aku mau bareng lagi seperti ini berarti aku sudah tidak ada dendam lagi.” “Intinya aku serius ingin menikahimu, aku akan menyayangi Cantika seperti menyayangimu. Kalau kamu takut aku tidak akan menyayangi Cantika kalau punya anak dariku, aku rela gak punya anak darimu cukup ada Cantika saja.” “ Aku percaya kamu akan mencintai anakku, kalian Mama, Papa, Casey dan kamu begitu mengkhawatirkan aku begitu panik ketika akan melahirkan. itu terlihat spontan tulus, itupun menjadi pertimabanganaku, sampai Mama mengirim Casey untukku. Aku akan membayarnya Jea, Kalian terbaik untukku. Itu sangat terkesan.” Jea bersyukur disaat Alma butuh seseorang keluarganya ada untuk Alma. “Makasih Mama, Papa, Casey kalian mendukungku.” Bathin Jea dengan berbinar menatap Al. Mereka makan dengan suka cita, Alma pun dengan mudah untuk kembali mencintai Jea. Jam sembilanan kembali ke rumah. Yuval sedang bermain dengan Cantika. “Jam segini kalian baru datang?” Yuval sangat kesal melihat kebersamaan Jea dan Alma. “Ayolah Val ini baru jam sembilan ?” Alma ikut emosi mendengar nada bicara Yuval ketus. “Kamu sudah makan?” Yuval mengangguk. “Val, ayo kita bicara serius.” Alma menyuruh Yuval keluar dari kamar. Mereka duduk. “Aku sesungguhnya bingung, kamu ayah dari anaku, tapi kamu punya istri apalagi istrimu lagi hamil. Aku gak enak Val.” “Aku akan menceraikannya Al !” “Terus kamu nikah denganku ?” Yuval mengangguk. “Kalau begitu apa bedanya aku dengan Diva, merebut istri orang yang sedang hamil, itu menyakitkan Val, sangat menyakitkan.!!” “Tapi kamu mengambil hak kamu kembali yang direbut Diva.” Alma menggeleng. “Disini letaknya bukan Diva tapi kamu Val. Sememaksa apapun Diva saat itu, apabila sedikit saja ada nurani kamu istri sedang hamil dan mau menunda perceraian itu sampai melahirkan, bisa apa Diva ? Diva tidak akan bisa apa-apa Val !!!!” Alma sampai memberi penekanan. Sebenernya Alma gak mau menikah lagi aku sudah cukup bahagia ada Cantika, Tapi kondisinya seperti ini akhirnya Alma memutuskan untuk menikah dengan Jea, jadi Yuval harus ikhlas. Alma berdiri sebelum masuk kamar, "Kalian pulang, besok kalian jangan kesini dulu aku masih pusing.” “Aku mau makan disini, dan beri waktu hanya satu jam yaa Al,” Yuval memohon. “keras kepala,’ Al mengangguk lalu menutup pintu kamar. “Terima kasih ya kamu telah menceraikannya, jadi aku tidak bujangan seumur hidupku, aku sudah bersumpah gak akan menikah kalau tidak dengan Alma. Aku Cinta mati padanya, Aku hanya ingin menebus kesalahan dan membalas budi padanya. Tau kamu posisi kamu saat ini seperti posisi aku saat itu ditinggal Alma karena suatu kesalahan. Aku frustasi, aku hancur, aku bersumpah gak akan menikah lagi. Aku akan menunggu Alma janda. Siapa tahu rejekiku.” “Kalau kamu menikah dengannya, aku pun akan bersumpah tidak akan menikah lagi sampai Alma janda!!!” “Bruuugh…. “ Jea terjengkang ditonjok Yuval lalu berlalu. “Aku rela ditonjok aku rela babak belur Yuval, yang penting aku menikah dengan Alma. Alma menutup telinga dengan bantal. Besoknya Sella dan suaminya datang ke Café untuk makan siang. “Alma, mama dan papa serius menginginkan kamu menantu, supaya kasih sayang mama dan papa utuh, menikahlah dengan Jea, mama akan menerima Cantika seperti cucu sendiri,” Sella memohon. “Nanti malam kita makan malam yaa, nanti kamu dan Casey dijemput Jea jam tujuh , Jea sudah reservasi tempat.” Alma mengangguk. Sella berusaha gerak cepat karena dari hitungan dia masa nifas Alma tinggal 1 minggu, dan denger dari Casey, Yuval terus merongrong minta balik. Dia tidak mau anaknya Jea kecewa lagi. Setelah Magrib Jea menjemput Alma dan Casey, Yuval baru saja datang. Dia makan lalu menjaga Cantika. Dia merasa Casey sangat membantu untuk menyatukan Jea dengan Alma seperti dulu Gama dengan gencar mendekatkan dia dengan Alma. “Gama, mungkin kalau kamu ada disisiku kamu akan dengan keras dan kasar mencegah perceraian terjadi, aku baru sadar betapa kamu berarti buat kakak.” Yuval terisak. Menatap anaknya yang begitu cantik. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN