BAB 18

2594 Kata
BAB 18 Alma mengerang kesakitan, “Casey siapkan mobil kakak merasa akan melahirkan. Perut sakit sekali.” Casey panic sekali menghadapinya, untung semua peralatan sudah disiapkan. Di mobil. Casey menelpon kakaknya memberitahu Alma mau melahirkan. Sambil memapah Alma untuk ke mobil. Casey diwanti-wanti Jea, jangan sampai panic ketika nyupir. Jea dan Sella langsung ke rumah sakit yang Casey bilang. Mereka sampai di rumah sakit hampir berbarengan. Alma di bawa ke IGD, diperiksa. “Masih beberapa jam lagi. Pesan kamar dulu saja biar nunggu di ruang rawat inap. Di IGD gak nyaman hilir mudik pasien. Jea tidak menunggu sedetikpun dia langsung berdiri memesan kamar VIP. Alma langsung dimasukan ke kamar yang dipesan Jea. “Makasih Mama, Casey, Jea, kalian baik banget sama aku.” “Stttt, kamu gak perlu berterima kasih sama kami, semua menyayangimu.” Jea menautkan jarinya dengan jari Alma, untuk memberi kekuatan, Sella dan Casey duduk di sofa. “Jea kamu masih menyimpan nomornya Jessy, besok kabarin dia yaa.” Jea mengangguk, menciumi tangan Alma, “Kamu pasti kuat Alma, aku percaya itu.” Alma mengangguk tersenyum sambil mengeratkan tautan jarinya pada Jea. Alma merasa terenyuh mendapat perhatian sedemikian rupa dari keluarga Jea. “Jea, tolong pijit tombol panggilan, aku sudah gak kuat nih,” Jea berdiri memijit tobol panggilan untuk perawat. Ga berapa lama perawat datang, memeriksa,” Iya bu pembukaannya sudah komplitt.” suster memanggil temannya untuk mendorong brangkar menuju tempat persalinan. “kamu suaminya ?” Jea mengangguk. “Suaminya boleh menemani istrinya melahirkan.” Perawat menyuruh Jea masuk, Jea menatap ibunya, Sella mengangguk. Didalam Jea duduk dekat kepala Alma, langsung menautkan jarinya ke jari Alma, tangan satunya ngelus rambut Alma. “Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja.” Alma mengangguk,air matanya berlinang. Setelah diberi aba-aba sama dokter, Alma mengejan,… setelah ketiga kali baru bayinya keluar. Jea menyusut keringat di wajah Alma. “Bayimu cantik sekali sepertimu” Jea berbisik. “Terima kasih Jea,” Alma tersenyum bahagia. Setelah beres Alma kembali di masukan ke kamar rawat inapnya. Setelah bayinya dimandikan di bersihkan di bawa ke kamar Alma untuk disusui. Jea keluar dulu selama Alma menyusui. Sella sudah pulang setelah Alma beres. Jea dan Casey menunggui sampai pagi, Paginya Jessy datang. “Al Kau tega yaa, kenapa ngabari setelah lahiran gini.” Tak lama kemudian Sassy dan Diaz datang membawa makanan untuk yang nunggu. ”ayo kalian makan dulu kak Jea dan Casey.” Mereka makan rame-rame. “Yuval sudah di kasih tau ?” Jessy heran gak ada Yuval di ruangan. Alma menggeleng, “Nanti saja kalau sudah di rumah.” = = = = = Saat ini Alma sedang beres-beres, Jea sedang ngurus administrasi pembayaran, Alma telah menyodorkan atm nya tapi Jea ngotot ingin membayarkannya. Akhirnya daripada ngotot-ngototan Alma mengalah. Sampai dirumah Alma masuk ditemani Casey dan Jea. Alma kirim pesan ke Yuval dia sudah melahirkan anak perempuan dan memberitahu dia sudah dirumah. Yuval langsung meluncur dengan menahan marah karena diberitahu setelah Alma di rumah gak bisa ikut menunggu melahirkannya. sampai di café pelayan mengantarkanya sampai pintu rumah. Ceklek, di ruang keluarga ada Cassey, Jea dan Sella yang baru datang. Yuval antara malu kesal dan cemburu menyatu. Dimana anakku. Casey menemani masuk kamar, Alma sedang rebahan menunggu bayinya tidur. Alma melihat Yuval, mengubah posisi menjadi duduk. “Kenapa kamu baru mengabari sekarang Alma, dia anakku.” Yuval ketus. “Kamu tidak punya hak menunggui aku melahirkan tapi kamu punya hak melihat anakmu, makanya aku sekarang memperlihatkan padamu.” Yuval tidak berkutik. “Kamu ditunggui siapa melahirkan.” “Mereka yang mengantar dan menungguiku sampai saat ini, mereka belum pulang.” “Kenapa gak minta tolong aku ?” “Kamu punya istri Yuval.” “Setidaknya kamu memberitahuku.” “Sudah gak usah di bahas.” Yuval mau menggendong anaknya. “Jangan dia lagi nyenyak tidur kamu mau menunggu disini, saya akan keluar.” “Temani disini,” Yuval menarik tangan Alma Hatinya berdesir ketika bersentuhan. “Maafkan aku Alma, aku terlalau tergesa-gesa mengambil keputusan.” “Aku sudah berkali kali mengingatkanmu kamu dibutakan Diva sampai gak mau mendengar ucapan siapapun.” Yuval mengangguk lemah, “Aku menyesal.” “Persiapkan dirimu kalau adikmu akan menolak Diva, dia sangat membencinya, sebenarnya kamu kalau ingatanmu kembali kamu membencinya setengah mati.” “Sekarang saja belum pulih ingatan aku sudah mulai membencinya melihat fakta-fakta, yang mulai terbuka. Maukah kamu kembali kalau aku berpisah dengannya.” Alma menggeleng. Obrolan Alma dan Yuval didengar semua orang di ruang keluarga, mereka tegang terutama Jea. “Tidak Yuval, perkawinan bukan suatu mainan. Aku sudah mengingatkanmu berulang kali untuk menunda perceraian kita. Tetapi kamu tidak sabar untuk menikahi dia. Bisa apa aku karena yang menceraikan bukan aku tapi kamu.” Jea menarik nafas lega, mendengar penjelasan Alma. “Aku harus bagaimana Alma? supaya kamu mau balik lagi padaku.” “Tidak perlu melakukan apapun. Semuanya sudah hancu." “Kamu bisa balik lagi sama aku, aku mulai merasakan cinta padamu. Walau ingatanku belum pulih.” Jea sampai berdiri mendengar pembicaraan di kamar. Jea nekad masuk kamar, “Kamu jangan memaksa Alma untuk menerimanya, aku sudah melamarnya, dan Alma menerima lamaranku.” Yuval dan Alma terbengong sedetik kemudian Alma mengerti maksud Jea. “Ya aku sudah menerima lamaran nya.” Alma menjawab dengan mantap. “Secepat itu kamu menerima ?” “Apa aku salah? kamu menikah dengan Diva berkas masih diproses di pengadilan sedang aku hanya menerima lamarannya. Kamu sampai tak sabar begitu untuk menikahi dia sampai gak denger siapapun.” Yuval terdiam. Jea menarik tangan Alma membawanya keluar. “Maafkan papi nak, papi ceroboh sekali. Sekarang papi yakin papi sebelum hilang ingatan sangat mencintai ibumu. “Papi jadi takut kalau ingatan papi pulih tidak siap menerima kenyataan kalau papi sangat mencintai ibumu. Bagaimana bisa menerima kalau ibumu menikah dengan laki-laki lain.” Yuval terisak menyesali kecerobohan dia. Sekarang saja belum pulih ingatannya melihat Alma bareng Jea sangat cemburu, bagaimana kalau pulih. Dia tidak bisa membayangkannya. Setelah beberapa lama Yuval pamit meninggalkan rumah, Casey mengantarkan sampai depan. “Makasih Jea tadi membantu aku untuk menghentikan omong kosong Yuval.” = = = Yuval dan Jea datang tiap hari, Jea pun tidak mau kalah setiap datang selalu setelah jam bubar kantor. Karena gak mau ketika ada Yuval dia sedang tidak ada, Jea terus memantau gak mau lengah, Yuval pun gak mau kalah tetap bertahan, dengan alasan menengok anaknya. Mau tidak mau Alma menyediakan makan malam. “Kalian harus membayar masakanku, aku tidak bisa tiap hari memberi kalian makan gratis. “Ini atm nomor PIN nya ulang tahun kamu, aku tidak pernah mengubahnya dari dulu.” Jea memberikan kartu atm. “Ini atmku PIN nya tanggal pernikahan kita,” “Kamu ingat tanggal pernikahan kita.” Alma kaget. “Tidak tapi akhirnya tau ketika melihat buku nikah.” “Bodoh” Alma langsung pergi pusing dengan cowok dua itu. “Kamu ninggalin istri yang lagi hamil hanya untuk nongkrong di sini sedangkan anakmu didalam, kamu bukannya mau ketemu anak saja ?” Jea menyindir “Apa urusanmu,” “urusanku karena ibu anakmu sudah aku lamar. Aku merasa terganggu dengan kehadiranmu mengganggu kebersamaanku dengannya.” “Aku akan berjuang mendapatkannya.” “Hahahaha… dengan istri di rumah yang sedang mengandung ? Kamu buang-buang waktu Bung.” “Kak Jea dipanggil kak Alma masuk.” Casey mendekati kakaknya. Jea tersenyum menyeringai merasa menang. “Ya ada apa Alma.” Setelah Jea depan Alma. “Kalau begini terus aku pusing, aku harus gimana ini ?” “Ya kita fikirkan bersama” Jea duduk merenung. “Gimana mulai besok, setiap Yuval datang kita pergi. Siapkan saja s**u buat anakmu kalau ditinggal 2-3 jam. Ingin tau sekuat apa dia menunggu tanpa ada kamu.” Alma mengangguk. Jea pamit pulang. Ketika melewati Yuval, Jea tersenyum penuh kemenangan. “Casey aku pulang dulu jaga kakak iparmu yaa.” Jea mencium Casey. “Siap kakak.” Casey melirik Yuval. Sepeninggal Jea, Yuval masuk rumah duduk di sofa ruang keluarga. Casey pun masuk duduk didepan Yuval. “Ngapain kamu duduk disitu ?” “Aku duduk dimana saja juga terserah aku, diam dirumah sini suruh nemenin kak Alma sama mama, kak Alma sendiri gak bisa menolak permintaan mama. Setelah habis idah pasti mama minta kak Alma menikah dengan kak Jea. Aku yakin kak Alma gak akan bisa menolak maunya mama.” Casey makin manasin Yuval. “Dasar anak tengil ikut campur urusan orang dewasa.” “Biarin, karena aku sayang banget sama kak Alma.” Di kamar Alma senyum-senyum mendengar pembicaraan Casey dengan Yuval. “Kak Yuval kenapa gak pulang kan sudah melihat bayinya.” “Bukan urusanmu.” “Emang bukan urusanmu, tapi aku jadi tau kak Yuval bukan suami yang bertanggung jawab, pantesan kak Alma gak mau balik lagi.” “Ini kan aku bertanggung jawab menengok anakku.” “Tapi kenapa istrinya ditelantarkan padahal lagi hamil looh, jadi persis yaa akhirnya seperti kak Alma kemarin waktu hamil ditelantarkan juga. Maksud kakak biar impas yaa.” Casey cuek saja walau Yuval sudah melotot. Alma di kamar menahan diri untuk tidak ketawa, padahal perut sudah sakit ingin ngakak. Lama-lama Yuval kesel dengan keberadaan Casey. “Al aku pamit dulu yaa, jaga anak kita.” Alma mengangguk. Sudah malas ngajak ngobrol lagi. “Casey tadi kakak sudah ingin ngakak tau denger obrolan kalian berdua,” Wlma terkekeh. “Aku juga sebenernya ingin ngakak kak.” = = = = = “Kamu darima Yuval ?” Diva gak suka tiap malam ditinggal sendiri. “Kamu telah membodohiku, kamu telah menipuku. Kamu akan membayarnya sangat besar Diva!!” “Val aku sedang hamil.” “kamu pun tega, aku tidak mengurus Alma yang lagi hamil. Kenapa aku harus perhatian ngurus kamu. Kamu mencuri kesempatan ketika aku hilang ingatan, kau wanita licik” “Karena aku mencintaimu Yuval.” “Hahahahahah… mencintaiku ?” disaat yang sama kau bercinta dengan mantan pacarmu ?” Diva kaget terbengong. “Kamu mau nonton bersamaku permainanmu ?" Yuval masuk kamar, melihat foto pernikahannya dengan Alma. “Maafkan aku Alma, aku yakin dulu aku mencintaimu sangat. Orang-orang bilang kamu sangat luar biasa, aku mulai merasakan nya Alma,” Yuval sesenggukan menangis, dia malah takut kalau ngatannya kembali. = = = = = Sorenya seperti biasa Yuval sudah datang, bermain dengan anaknya di sofa. Alma sengaja dandan. lalu duduk depan Yuval, “Kamu makin cantik kalau dandan seperti itu.” “Ahhh aku sudah cantik dari sononya. Tapi ada juga ya karena bucin sampai mencampakanku.” “Al jangan gitu kamu kan tau aku hilang ingatan.” “Kamu sadar sudah hilang ingatan, berarti ada potongan diingatanmu yang terlepas, tapi kamu egois gak mau mendengarkan orang lain yang mengingatkan, merasa potongan ingatan itu tidak ada artinya dan tidak ingin mendengar apa isinya potongan ingatanmu itu, benar-benar egois." “Al, aku harus bagaimana meminta maaf kesalahanku itu.” “Kalau kesalahanmu itu tidak ada efek samping, aku akan mudah memaafkanmu, tapi gara-gara kesalahan itu ada orang yang hamil, kamu mau gimana ? Mau ninggalin nya seperti kamu ninggalin aku ?" “Aku tahu Al.” “Dititik itu yang aku gak bisa terima. Andai kita cerai tapi kamu tidak menghamili wanita lain mudah buat aku kembali.” “Hai Al, sudah siap ayo kita pergi.” Alma mengangguk. Berdiri dan beranjak mau pergi. “Kalian mau kemana ? Trus ini anak kita gimana kalau mau menyusui.” “Kami mau kencan dulu, wajarlah yang namanya pacaran kencan.” Jea sengaja bikin kesal Yuval. “Nanti Casey yang ngurus Cantika, ASInya sudah disiapkan di frezzer.” “Al kok kamu gitu sih malah ninggalin.” Yuval mulai merasakan sesak didada melihat kebersamaan mereka. Yuval membawa anaknya ke kamar dia rebahan disebelah Cantika. “Nak, bantuin papi dong gimana harus mengambil ibumu dari lelaki itu.” Yuval memberikan jari tangannya untuk dipegang bayinya, dimainin, membuat bayi itu tertawa. “Kamu seneng yaa tapi papi sedih, ibumu pergi didepan papi, papi sendirian ngasuh kamu, kan enaknya ngasuh kamu berdua jadi seru.” “Beginikah rasanya ibumu ketika papi ngotot ingin menceraikannya, hamil besar sendirian, jahat sekali papimu yaa…” Café mau tutup, Alma baru pulang, “kamu pulang dulu yaa dah malam.” Jea pamit langsung kembali menuju mobilnya dan melaju meninggalkan café. Alma melihat Yuval ketiduran di sebelah nya cantika tidur juga, dengan dot di dekat kepalanya. “Val… val…. Bangun sudah larut malam.” “Hmmm aku kangen sekali kamu Alma.” Yuval ngigau. Deg. “Val bangun…” menggoyangkan badan Yuval. “Aduh maaf aku ketiduran, rasanya mimpi lagi bareng kamu.” “Cuma mimpi, sudah kamu pulang.” “Inginnya tidak usah bangun lagi.” “Kamu pulang ini sudah larut sekali.” “ya suka-suka aku mau pulang kapan juga.” “Kamu gak kasihan meninggalkan istrimu sendiri lagi hamil ?” Dia juga tega membuat kamu sendirian lagi hamil, biarin saja biar dia merasakan apa yang kamu rasakan.” “Kamu benar-benar egois Val.” “Ya aku Egois Alma, aku egois, aku tau kalau saat itu ada sedikit saja rasa kasihan ketika kamu hamil sendirian, tapi egoisnya aku dimanfaatkan dia, aku benci dia, yang memisahkan kita.” “Val pulanglah.” “Alma tidak adakah sedikit saja rasa cinta kamu yang masih tersisa untukku, aku takut Al ketika aku ingat semuanya, ternyata aku sangat mencintaimu. Aku gak berani menghadapinya.” “Ya kamu hilang ingatan, disaat kamu lagi bucin sama aku, apapun mau aku kamu tidak pernah membantah. Kamu sangat mencintai aku. Trus apa artinya semua itu sekarang Yuval. Kamu punya istri yang sedang hamil. Kamu tega sekali Yuval.” Alma terisak. Mengingat sedang hamil tua dia sendirian. “Aku tau, aku tidak bisa dimaafkan.” “Ya kalau kamu sudah tau, coba mengerti.” Yuval pergi keluar. Alma masih terisak, ketika Casey masuk. "Kak Alma, mungkin lebih baik kak Alma menikah saja sama kak Jea, supaya ka Yuval mundur. Kalau ka Alma statusnya masih begini pasti pusing. Belum lagi kalau ingatan nya pulih kak Alma tambah pusing pastinya.” “Aku bingung Casey, aku sebenarnya gak memikirkan untuk nikah kembali.” “Kak Alma tidak bisa memaafkan Kak Jea yaa.” “Kak Alma sudah memaafkannya Casey, dia sudah sangat berubah, kak Alma senang sekali melihatnya.” “Ya sudah kak, kembali lagi ke kak Jea, supaya kak Alma punya keluarga lagi gak sungkan minta tolong kami.” “Belum memikirkannya, masa idah kakak kan sampai nifas, dan wali juga nanti 3 bulan lagi Gani datang. “Nanti kakak fikirkan selama 3 bulaan ini.” Casey mengangguk, “Ka Jea mencintai kakak lebih dari sebelumnya. Ketika putus dari kak Alma dia baru menyadarinya sangat mencintai kakak. Setiap dikenalkan pada cewek selalu bilang dia tidak ingin siapapun, dia hanya ingin kakak. Kami sudah sulit menyadarkan kalau kakak sudah punya suami.” Alma termangu. “Jadi kalau kak Alma memaafkannya tolong beri kesempatan kak Jea untuk memperistri kakak.” Alma mengangguk. “Nanti setelah masa idah kakak habis kakak akan memutuskannya.” “Terima kasih ka Alma… terima kasih, baru segini saja Casey bahagia banget.” Casey masuk kamar, nelpon kakaknya. “Ada apa Casey malam-malam begini ?” “Aku bicaranya pelan-pelan takut kedengaran kak Alma.” “Iya kedengaran. Ada apa.” “Barusan aku mendesak kak Alma untuk menerima kakak, Kayaknya memberi lampu hijau, aku gak sabar memberitahu kakak. Jadi kedepan harus lebih memperhatikan ka Alma yaa, pokoknya kakak harus super perhatian ke kak Alma.” “Besok kamu ke kantor kakak pagi-pagi.” Jea sangat bahagia mendengar kabar dari Casey, ingin mendengarnya lebih jelas. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN