BAB 6
Yuval dan Alma sudah sampe di Mall, mereka berniat nonton Film kebetulan ada film bagus yang pemain utamanya idolanya Alma. Jadi antusias banget, ga nyesel jalan sama Yuval .
“Gimana nih beli ticketnya yang jam 7 atau yang jam 9? Tapi kalau yang jam 7 nanti tempat duduknya kepenuhan.gak bisa milih kebagian di depan. Kalau yang jam 9 masih bisa milih kali.”
Yuval minta saran Alma.
“Yang jam 9 saja kita hunting makanan dulu. Biasanya aku ada agenda untuk mendatangi café-café elite untuk nyari referensi untuk cafeku, entah itu menu atau interior atau stage. Apa saja selalu nemu inspirasi.” Alma memberi pilihannya.
“Oke tunggu disini aku pesan dulu ticket.” Yuval meninggalkannya menuju ke counter ticket.
“Kak Almaaaa….. ,”
Alma tergugu karena kaget tiba-tiba di peluk seseorang.
“Casey,… sama siapa disini.” Alma belum hilang kagetnya.
“Tuh…” Casey nunjuk Jearau dari jauh.
“Kak Alma, maafkan Kak Jea, dia selama putus dengan Kakak sangat menderita, dia di kamar terus, jadinya disuruh tinggal dengan mama lagi. Rumah yang ditempatin dulu dikosongin.”
“Mungkin Kakak dengan Kak Jea bukan jodoh.”
“Apa kabarnya Alma,” Jea grogi bertemu Alma. Jea masih sangat menyesal harus kehilangan Alma.
“Alma, aku sudah beli ticket.” Yuval melihat ada dua orang sedang ngobrol.
“Val kenalkan ini Casey, ini kakaknya Casey, Jearau.”
“Hai. Yuval.” Menyodorkan tangannya pada kedua orang tersebut.
“Kak Yuval pacarnya kak Alma ?” Casey kaget baru putus 2 bulan sudah punya gebetan.
Jearau sendiri tampak kaget karena selama ini Alma hanya bareng dia, gak punya banyak teman.
“Baru saja jadian hari ini.” Yuval langsung pamit dan menggandeng Alma karena merasa suasana sangat gak enak.
Alma pun gak menyanggah pernyataan Yuval, ngerti dia hanya ingin menyelamatkan dirinya.
Jearau dan Casey berdiri terpaku menghadapi kenyataan Alma sudah punya pacar lagi secepat itu. Padahal Casey sangat berharap kakaknya bisa kembali ke Alma karena sudah terlanjur menyayangi Alma.
“Sudahlah Casey, gak mungkin Alma masih mau kembali sama kakak, dosa kakak terlampau besar. Kakak sendiri gak memaafkan diri kakak sendiri apalagi Alma.” Jearau merengkuh Casey.
Setelah jauh dari Jearau.
“Maaf aku lancang menggandengmu mesra.” Yuval melepaskan rengkuhannya pada Alma, dia gak mau dibilang gak sopan.
“Ga masalah, Aku tau kamu mau menyelamatkanku. Tapi kenapa kamu tau itu mantanku.”
“Kamu lupa yaa, ketika mantan kamu minta maaf saat di café aku duduk di belakangmu, jadi tau isi pembicaraan kalian, maaf bukan niat mendengarkan tapi tanpa sengaja kedengaran.” Yuval ngajak duduk di café dekat biokop.
Mereka pesan menu di café sengaja yang belum pernah nyicip untuk referensi cafenya. Biasanya Alma kalau ada rasa yang menarik selalu dipesan untuk dibungkus lalu diteliti rasa apa saja membuat rasanya jadi enak.
Dua kali pindah café karena gak enak terlalu lama, waktu jam nonton tiba. Mereka pergi ke bioskop. Film nya seru dan cukup panjang, jam 11 keluar dari bioskop.
“Lumayan panjang juga ya filmnya tapi seru,” Alma begitu senang telah nonton film ini yang referensi dari orang yang sudah nonton pada bilang bagus.
Alma memang hobby nonton biasanya ditemani adiknya atau pacarnya.
“Kamu gak lapar, ga nyari food strret gitu ?” Yuval mengajak makan lagi karena memang dia lapar.
“Kita makan dirumah saja yaa, di café biasanya ada sisa pastry, besoknya kan gak bisa dihidangkan, paling di camil pegawai, karena sebenernya masih layak makan tapi untuk di jual standart cafe harus makanan fresh.”
“Sippplaah kalau gitu, aku sudah lapar nih.” Cepet-cepet mereka pulang.
Di café Gani sudah nunggu, “Gimana kak film nya seru ?”
“Bangeeet, sana nonton deh, ajak Gama. Coba tadi kita nonton rame-rame.” Alma nyesel ga ngajak sekalian adiknya.
“Lain kali kita ajak deh kalian.” Yuval pun nyesel gak ngajak adiknya, inget dia sendirian dirumah. Walau ada pembantu, mereka pulang sore.
“Aku panaskan dulu yaa makanannya tunggu saja.” Alma buka lemari es lalu memilih makanan yang sekiranya enak buat dimakan saat ini.
Yuval mengangguk.
“Aku masuk dulu yak kak sudah ngantuk.” Gani beranjak pergi ke kamarnya emang dia sudah ngantuk banget, tapi kebiasaan kalau kakaknya belum pulang ya dia nungguin sampe pulang.
Alma membawa penganan yang sudah dihangatkan serta wedang uwuh panas sangat menyegarkan. Yuval sungguh tergugah bagaimana kalau tiap hari dilakukan seperti ini menyenangkan sekali tiap pulang kerja disediakan penganan sekelas café, Yuval senyum sendiri.
“Kenapa senyum sendiri ?” Alma curiga.
“Nggak ini pastry dan minumannya enak sekali, nikmat ya kalau tiap hari disediakan seperti ini.”
“Ya datang saja ke sini gak apa-apa tiap hari juga yang penting bayar bukan.” Alma terbahak diikuti Yuval.
“Kan aku bayar tiap awal bulan kalau kita menikah.” Canda Yuval tapi membuat keduanya terdiam sesaat, Yuval juga merasa keceplosan mengatakananya.
“Hmmm… Alma,”
“Ya… ada apa kok berhenti.”
“Begini.. kita sudah ketemu beberapa kali nih, aku merasa cocok dan nyaman bersama kamu, kamu gimana?” Yuval mulai serius.
“Ya aku pun sama merasa santai saja barengmu.” Alma tidak menutupinya.
“Gimana kalau kita seriusin saja. Bukan masalah cepat atau lambat. Toh kita yang sudah pacaran lama juga bisa putus, belum tentu jadi seperti aku juga kamu pacaran dulu. Jadi tidak ada alasan belum mengenal atau sudah mengenal lama menjadikan orang akan langgeng."
“Hmmm gimana yaa… berasa terlalu cepat saja, aku merasa putus baru kemarin tiba-tiba ada laki-laki lain masuk ke kehidupan begitu cepat. Inget kita ngobrol banyak pas disaat saya putus. Walau sebelumnya pernah ketemu .” Alma bingung menghadapi kejadian saat ini, harus bagaimana menanggapinya. Jujur dia butuh teman, tapi terlalu cepat untuk melangkah terlalu jauh.
“Ya gimana kita coba dulu bareng, karena menurutku cepat atau lambat sama saja, lambat kalau memang belum jodoh ya tetep dipisahkan. Cepat kalau memang jodoh ya tetap akan menikah.
Kita tidak tau ke depan akan seperti apa.” Alma mengangguk tanda setuju perkataan Yuval.
“Jadi kita gimana, hari ini kita jadian ?”
“Ya kita coba,” Alma mengangguk.
Yuval berdiri menarik tangan Alma lalu memeluknya, “kita sama-sama mengobati luka yang dibuat pasangan kita sebelumnya.”
Alma mengangguk sambil terisak.
“Kenapa kamu menangis? kamu merasa terpaksa?” Yuval mendengar isakan Alma, menarik bahu Alma menjadikan mereka berhadapan.
“Kalau kamu belum bisa mencintaiku gak apa-apa pelan saja, bukankan tresno suko kulino.
Percaya saja pada peribahasa itu. Karena adanya peribahasa karena berulang terus kejadian jadilah suatu peribahasa.”
“Hanya teringat kelakukuan Jea, aku ga nyangka saja harus putus.” Alma berusaha menghentikan tangisan dengan berkali-kali mengusap matanya dengan punggung lengan.
“Kita berusaha untuk menjadi lebih baik untuk pasangan masing-masing.” Yuval mengecup kening Alma.
“Terima kasih kamu mau menerimaku.” Yuval menggenggam tangan Alma, ga nyangka bisa secepat ini jadian sama Alma, dia bersyukur punya adik yang begitu peduli sama dia, sampai berusaha mendekatkan dia dengan Alma.
“Besok kita bikin acara makan-makan bersama Gani dan Gama ya, kita rayakan kebersamaan kita.” Gak lama kemudian Yuval pamit, karena memang sudah terlalu malam.
“Gimana kalau Jessy diundang juga, gak apa-apa dia sama pacarnya juga.” Alma inget sama temennya, karena ketika dia jadian juga diajak makan-makan sama Jessy.
Yuval mengangguk setuju.
Alma mengantar sampai depan sekalian mengunci cafenya.
Yuval meninggalkan café dengan hati yang riang penuh kegembiraan membayangkan hari-hari ke depan akan bersuka cita. Ada hal yang dirindukan kembali.
“Makasih Gama, gue sekarang dapat cewek wanita idaman banget."
***Bersambung
Jangan lupa tap ?nya ?