Cahaya matahari musim semi di Milan mulai menyelinap masuk melalui celah-celah tirai sutra di penthouse mewah itu. Bagi Jenny, pagi ini tidak membawa kehangatan, melainkan rasa sakit yang berdenyut di kepalanya. Kelopak matanya terasa berat, namun saat ia perlahan membukanya, pemandangan langit-langit kamar yang asing dan elegan menyambutnya. Jenny terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan serpihan ingatannya. Aroma kopi yang samar bercampur dengan wangi parfum maskulin yang mahal menyeruak masuk ke indra penciumannya. Jenny merasakan kain seprai yang sangat lembut bersentuhan dengan kulitnya yang polos. Detik itu juga, kesadaran menghantamnya seperti palu godam. Jenny menoleh ke samping dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, seorang pria tertidur dengan posisi menyamping, mem

