Di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan aroma bunga lavender yang terasa tenang, walau kini nampak berbalik dengan keadaannya saat ini. Ruangan tersebut kini dipenuhi oleh kerumunan yang tengah berbisik harap-harap cemas dihatinya memperhatikan seorang gadis kecil yang tengah terbaring di kasurnya.
Tanpa mereka sadari, tangan gadis itu perlahan bergerak, membuat gerakan pelan di kasurnya. Perlahan kelopak matanya terbuka, menampilkan iris mata biru kristal yang mampu menghanyutkan siapa saja yang melihatnya.
"Agh!" Erangnya saat merasa sakit di kaki kanannya.
Terdengar beberapa derap kaki menghampirinya. Perlahan sebuah tangan memegang tangannya, lalu beralih pada kakinya yang sedari tadi terasa sakit.
"Ah, sakit. Ka.. kalian, siapa?" Ucap gadis itu yang kini telah membuka matanya sempurna setelah sedari tadi mengumpulkan kesadarannya.
"Tuan Putri, apa yang terjadi?" Tanya salah satu diantara kerumunan depan pintunya yang tampak bingung.
Matanya mengedar, dahinya mengernyit melihat orang-orang dengan pakaian aneh tengah mengelilinginya dengan tatapan aneh yang semakin membuat gadis itu heran. Belum lagi dengan ruangan luas bernuansa putih yang ia tempati, ranjang berwarna emas dengan beberapa ukiran rumit tidak lupa dengan untaian kain-kain berwarna putih yang menjuntai hingga ke bawah ranjang.
Putri? Oke, aku berarti masih mimpi. Mimpi yang sangat indah, ucap gadis itu dalam hati sembari senyum-senyum sendiri yang membuat orang di sekitarnya semakin terbingung.
Belum sempat baginya menenangkan diri, sebuah derapan langkah diikuti suara menggelegar bersamaan dengan pintu yang banting hingga terbuka lebar mengagetkannya membuatnya sedikit terperanjat kaget.
"MINGGIR KALIAN!" Perintah pria dengan tegas.
"Kau siapa?" Tanya gadis itu saat melihat seorang pria yang terlihat sangat tampan penuh kharisma memasuki ruangan yang ia tempati.
Pria itu hanya terdiam di tempat, sebelum melanjutkan langkahnya mendekatin gadis itu yang kini mengernyit bingung.
Tak!
Sebuah jitakan mendarat sempurna di kepalanya, jitakan itu bahkan terasa lebih sakit dari jitakan yang pernah diberikan guru killernya.
"Auw" ringis gadis itu.
"Kau melupakanku? Berani sekali kau!" Ucap pria itu yang semakin ia yakini berusia 30an.
Melupakannya?, Pikir gadis itu dalam hati.
Dahinya mengernyit, membuat beberapa lipatan kecil memanjang tipis "Memang siapa kau?" Tanya gadis kecil itu.
"Nachella. Ini ayah kamu" jelas pria itu.
"OH"
"Eh, tunggu! Nachella? Siapa Nachella?" Tanya gadis itu.
"Kau, Nachella Neiderfold Courlage. Putri satu-satunya Alexander Courlage, Raja Negara ini" jelas pria itu.
Mata gadis itu mengerjap beberapa kali mendengar penuturan pria di depan yang saat ini mengaku bahwa dia adalah ayahnya.
Nama itu, Nachella? Itu kan!!, ringis gadis itu yang tak lain adalah Nachira.
Nachira memukul pipinya beberapa kali hingga membuat pipinya menimbulkan bekas kemerahan. Ia rasanya ingin segera terbangun dari tidurnya seperti yang ia yakini sedari awal jika semuanya hanya mimpi. Pipinya ia cubit kencang, hingga tanpa sadar ia meringis sakit lalu menghentikan aksinya sebentar yang kini mulai menjadi pusat perhatian.
"Nachella, apa yang kau lakukan?" Ucap Alexander sembari menarik tangannya yang hendak mencubit pipinya kembali.
"I.. Itu.. A.. Aku" ucap Nachira terbata.
Alexander membuang wajahnya ke sudut lain ruangan, mata tajamnya menusuk layaknya pedang yang siap menebas kepala siapa saja yang di tatapnya.
"Kalian cepat jawab pertanyaanku! Apa yang terjadi pada Nachella?" Tanya Alexander tegas dengan ke arah kerumunan orang yang kini tengah menundukkan kepalanya.
Nachira tahu dengan jelas, bahwa saat ini orang-orang itu tengah ketakutan setengah mati. Belum lagi mata elang terasa menusuk jantungnya.
"Mohon ampun, Yang Mulia. Tuan Putri ketika terbangun langsung seperti itu. Menanyakan siapa kami" ucap salah seorang wanita dari balik kerumunan terdepan. Kepalanya masih menunduk, tapi terlihat jika sekujur badannya bergetar menahan takut.
Alexander kembari melihat Nachira dengan tangan yang masih terus menggenggam tangannya. Mata tajamnya kian meredup saat berhadapan dengan Nachira yang ia kira adalah Nachella anaknya yang kini jiwa entah hilang kemana.
"Sayang, apa yang terjadi? Lihatlah tubuh kecilmu ini, bahkan untuk turun dari kasur ini saja kamu masih sulit. Mengapa kamu justru bermain di danau pesona?" Ucap Alexander sembari mengusap surai gadis itu.
Mata Nachira melihat tangan Alexander yang sedang mengusap rambut panjangnya yang berwarna merah yang bahkan baru ia sadari. Matanya kembali melihat ke tubuhnya yang rupanya benar-benar telah mengecil ke seukuran bocah umur 5 tahun. Bibir mungilnya mendecak kesal, melihat keadaannya saat ini. Tapi setidaknya ada hal baik, dia tidak berubah menjadi seorang wanita jelek. Dengan wajahnya ini ia yakin bahwa siapa saja yang melihatnya akan langsung jatuh cinta.
Tapi tiba-tiba dalam pikirannya melintas kisah akhir pemilik tubuh ini yang sangat mengenaskan di tangan Katterina, sahabat brengs*k nya.
"Hei, apa yang kau pikirkan? Jawab pertanyaanku!" Ucap pria di depannya yang langsung mengalihkan lamunannya.
Apa yang harus aku katakan? Aku tidak mungkin bilang jika aku bukan Nachella. Yang ada mereka akan memanggil dukun dan mengira aku sedang kerasukan, atau bisa jadi mereka akan menghukumku di penjara bawah tanah, di cambuk, di siksa, tanganku di potong, lalu memberikan hukuman penggal, pikir Nachila yang tanpa sadar tubuhnya sudah bergetar penuh ketakutan
"Ah, maafkan aku ayah, aku salah. Aku janji, lain kali aku tidak akan bermain terlalu dekat dengan danau pesona" ucap Nachira yang langsung memeluk Alexander berusaha menyembunyikan ketakutannya.
⚜⚜
Nachira a.k.a Nachella membuka matanya perlahan merasakan hawa dingin yang kian menjalar ke seisi kamarnya yang entah mengapa jendelanya masih dibiarkan terbuka. Padahal hari sudah larut malam membawa hawa dingin semakin terasa menembus kulitnya putih pucatnya hingga ke tulang.
Kakinya kecilnya melangkah turun mendekati meja rias yang berada tepat di depan jendela kamarnya. Dengan perlahan, Nachella menaiki kursi di depan meja tersebut berusaha meraih knop jendela dan menutupnya. Usahanya pun tidak sia-sia, kini jendela tersebut telah sepenuhnya tertutup. Namun hawa dingin masih tetap terasa.
Dengan langkah tergontai, Nachella kembali turun mendekati perapian. Tangannya mengambil beberapa batang kayu panjang kemudian meletakkannya di dalam perapian secara bertumpuk. Setelah menggunung, tangan kanannya meraih lilin yang terdiri dari 3 susun menyamping dengan posisi yang tengah lebih tinggi daripada kanan dan kirinya. Tangannya mengambil salah satu lilin, kemudian mendekatkannya ke kayu cukup lama hingga membuat api kiri mulai menjalan membakar kayu yang lain. Seketika hawa di kamarnya menjadi lebih hangat kembali.
Nachella menjauhkan tubuhnya dari sana, kemudian melangkahkan kakinya menuju meja belajarnya yang di penuhi dengan beberapa tumpuk buku. Entah rasanya ia tidak lagi memiliki minat untuk tidur, oleh karena itu dia lebih memilih menghampiri meja tersebut dan menyibukkan diri dengan membaca buku melewati malam itu.
Matanya mengerjap mendapati buku-buku yang menumpuk di atas meja belajarnya adalah sebuah buku kosong. Dengan terpaksa ia tetap mendudukkan dirinya disana, karena dirinya sudah terlampau nyaman berada di tempat itu dibanding harus kembali ke kasurnya yang belum tentu juga bisa membuatnya tidur. Hingga sebuah ide cemerlang terlintas di otaknya.
Tangannya bergerak lincah, mengambil sebuah buku, pena, dan tinta yang sudah halus. Jari lentiknya menari membuat guratan-guratan halus di buku tersebut yang kini kian memanjang memenuhi lembar kian lembar.
Kkokkokkok.. (anggap suara ayam ya gaes)
Tanpa ia sadari, hari kian menunjukkan warna jingganya bercampur cahaya biru yang kian menghiasi langit. Cahaya mentari perlahan masuk dari celah kamarnya, menggantikan cahaya rembulan yang kian meredup.
Matanya menatap penuh binar bersemangat terhadap hasil kerja kerasnya selama semalaman. Rasanya tidak sia-sia baginya untuk begadang, jika hasilnya begitu semenakjubkan itu. Kakinya kini mulai ia tegakkan hingga mampu menopang tubuhnya yang sudah berdiri penuh semangat sembari memegang buku yang sudah penuh dengan tulisan tangannya.
"Oke kita baca, ulang.." ucapnya penuh semangat dengan senyum yang tidak pernah luntur.
"Pertama.."
Tok!! Tok!! Tok!!
"Haish, mengganggu kemaslahatan umat manusia aja!" Gumam Nachella penuh dengan rasa kesal dan amarah yang coba ia tahan..
"Masuklah!"
Terlihat seorang wanita setengah parubaya dengan pakaian pelayan yang baru ia ketahui beberapa jam yang lalu memasuki ruangan sembari menunduk 90 derajat.
"Salam Tuan Putri Nachella, selamat pagi" ucapnya.
"Selamat pagi, berdirilah!" Perintah Nachella dengan senyum yang ia paksakan mengembang.
"Terima kasih, Tuan Putri"
"Ada apa?"
"Izin menjawab, Yang Mulia Raja meminta anda untuk segera menemuinya dan makan bersama bersama dengan para pangeran" sahut pelayan itu.
"Baiklah, aku akan segera kesana. Terima kasih, kau boleh keluar" ucap Nachella yang langsung di sanggupi pelayan itu yang kemudian menunduk sembari berjalan mundur hingga berlalu dari balik pintu kamarnya.
Nachella berjalan tergontai menuju kamar mandi untuk memulai ritualnya mandinya yang tidak boleh di ganggu oleh siapapun termasuk para pelayan yang tentu saja pernah memintanya agar di bantu oleh mereka yang langsung ia tolak dengan tegas. Dirinya cukup malu untuk di mandikan orang lain, bahkan saat dirinya di dunianya dulu dia sudah mandi sendiri saat usianya 3 tahun. Hebatkan? Tentu saja.
Kakinya terhenti di jejeran lemari yang tersusun rapi di dalam sebuah ruangan khusus yang juga terdapat sebuah kaca berukuran besar. Tangannya membuka sebuah lemari berwarna coklat yang kini menampilkan deretan baju-baju khas anak kecil, meskipun lebih terkesan seperti gaun santai. Matanya mengedar, memilah baju-baju cantik yang tergantung seolah melambaikan tangan kearahnya. Kini matanya tertuju pada sebuah gaun santai berwarna ungu muda dengan sedikit hiasan bunga berwarna putih di bagian bawahnya. Gaun tersebut terlihat lebih ringan dibandingkan gaun lainnya. Dengan cepat tangannya mengambil gaun tersebut, kemudian pergi ke kamar mandi memulai ritual mandinya.
*bersambung..
1453 kata
10 Sep 2021