Teman Baru

1581 Kata
"TUAN PUTRI NACHELLA MEMASUKI RUANGAN!" Teriak seorang penjaga yang berada tepat di depan sebuah pintu besar berwarna emas. Nachella menatap tajam pria tersebut yang dengan sadar atau tidaknya telah membuat telinganya berdengung. Mungkin jika pria penjaga itu lebih lama berteriak maka akan membuat telinganya seketika menjadi b***k, alias tidak bisa mendengar. Pintu besar itu terbuka perlahan, menimbulkan sedikit angin yang membuat surai merah gadis itu sedikit bertebaran. Dilihatnya tiga orang pria yang kini sedang melihat kearahnya saat pintu sudah terbuka sempurna. Langkah gadis itu perlahan memasuki ruangan, diiringin dengan salam dengan suara seringan lonceng. "Salam Yang Mulia Raja, Salam Putra Mahkota, Salam Pangeran Kedua" ucapnya sembari menundukkan badannya 90 derajat. "Bangunlah!" ucap seorang pria dengan suara berat penuh ketegasan di pelafalannya. "Kau, kau bisa memanggilku ayah. Kenapa melakukan formalitas seperti itu?" Tanyanya. Nachella segera menegakkan tubuhnya kembali, kemudian berjalan menghampiri Alexander yang notabennya adalah ayahnya sendiri. Pria itu nampak sangat gagah dengah setelan santai namun tetap terkesan formal berwarna hitam, dengan ukiran berbentuk naga berwarna emas di jubah kebesarannya dan sedikit ukiran lebih ringan di bagian kerah berwarna merah. Jika saja tubuh dan jiwanya aslinya yang terdampar disini, sudah di pastikan ia akan mengejar-ngejar cinta ayahnya itu yang bisa terbilang sangat tampan untuk usia seorang raja yang sudah menginjak kepala empat. "Aku ingin saja" ucap Nachella dengan datar yang kini tanpa aba-aba langsung mencium pipi Alexander membuat si empu langsung berdehem pelan. Hohoho, dia lucu, teriak Nachella dalam hati. Dengan cepat Nachella menjauh dari Alexander, kemudian duduk di kursi yang berada tepat di seorang pria tampan kedua setelah ayahnya yang mengenakan pakaian santai berwarna hijau. Di depan pria itu terdapat seorang pria yang ia yakini lebih tua daripada pria di sampingnya. Seorang pria dengan wajah sangat tampan, rahang lancip menampilkan sisi tegasnya, bulu mata panjang lentik, dan jangan lupa mata berwarna emas khas keluarga Courlage. Pria itu mengenakan pakaian santai berwarna merah namun dengan ukiran rumit di bagian kerahnya berwarna emas. "Belum cukupkah kau melihat kakak tampanmu ini?" Ucap pria itu dengan senyum mengembang. Wow, dia sangat pede sekali. Tampan sih, tapi gak gitu juga!, Pikir Nachella. Nachella membuang wajahnya malas. Dia memang tidak berniat untuk menjawab pertanyaan pria yang belum ia ketahui namanya itu. Bagaimana jika dia salah sebut? Yang ada bisa rumit masalahnya. Nachella mengedarkan matanya, mencari makanan yang bisa ia makan sebagai pembuka. Matanya menatap penuh minat ke arah piring yang letaknya tidak jauh dari pria tampan nomer dua. Namun dia tidak bisa bilang, karena ia masih takut salah sebut nama. "Leon, jangan ganggu adikmu! Dan kau Alaskar, ambilkan dia puding! Aku rasa dia menginginkan itu" ucap Alexander. Nachella berbinar mendengar ucapan Alexander yang seolah tau isi otaknya. Pria tampan nomer dua mengambilkan piring berisi puding ke depannya, lalu mengambilkan sebuah sendok kecil yang langsung ia letakkan di atas piring. Oh, jadi dia itu Alaskar sedangkan pria itu Leon. Huhu, keluargaku penyuplai bibit unggul, pikir Nachella. Leonard Fordeblicth Courlage, kakak pertama Nachella sekaligus Pangeran Mahkota Kerajaan Froxy. Usianya kini 13 tahun dan telah menyelesaikan pendidikan akademinya selama 6 tahun yang dimulai saat dirinya berusia 7 tahun, waktu yang cukup singkat dan langka bagi para putra mahkota dan para pria bangsawan namun hal biasa bagi keluarga Courlage yang terkenal akan kepintarannya dalam banyak hal. Sama dengan Leon, Alaskar Fordeblicth Courlage yang merupakan kakak kedua Nachella juga menyelesaikan waktu akademinya dengan sangat singkat. Dirinya masuk ke akademi saat berusia 4 tahun dan kembali ke istana tahun ini saat usianya baru 10 tahun. "Makasih, Kak Alaskar" ucap Nachella yang langsung melahap puding dengan semangat. ⚜⚜ Nachella melangkahkan kakinya menyusuri lorong istana yang nampak kurang hidup. Disana hanya terdapat beberapa pohon buah seperti apel dan apel lagi, karena memang hanya itu pohon buah yang di tanam di dalam istana. Bahkan tamannya saja hanya berisikan tiga pohon apel dengan hiasan air terjun di tengah taman. Tidak ada tumbuhan lain, apalagi bunga bunga yang tentunya dapat mempercantik istana. Nachella mendengus pelan, rasanya ia ingin membeli beberapa bibit bunga lalu menanamnya di taman dan sepanjang lorong agar terlihat lebih hidup dan dapat menyegarkan mata siapa pun yang melihatnya. "Ah, mengapa aku tidak memikirkannya? Mungkin jika izin ke ayah aku akan diizinkan pergi ke pasar dan membeli beberapa bibit bunga, seperti mawar, melati, semuanya indah. Eh kok jadi kesitu, pokoknya macam-macam bunga. Aku akan membelinya!" Ucap Nachella penuh semangat. Dia berbalik arah, menuju ruang kerja ayahnya yang berada di istana utama. Sedangkan tadi dia sedang berada di istana teratai, tempat tinggal kedua kakaknya dan dia tinggal. Kakinya berlari kecil menuju sebuah ruang kerja yang ukurannya telihat jauh lebih besad tiga kali lipat dibanding kamarnya. Wajar saja, karena ruang itu merupakan kamar tidur yang merangkap sebagai ruang kerja sekaligus tempat paling aman untuk menyembunyikan beberapa arsip dan dokumen penting kerajaan yang tentunya di jaga ketat oleh pengawal, penjaga bayangan, Alexander sendiri, dan juga sihirnya yang sulit sekali untuk di patahkan. Kenapa Nachella bisa tau hal itu? Tentu saja karena dirinyalah penulis dunia yang sedang ia masuki saat ini. "Aku ingin bertemu dengan ayah" ucap Nachella pada seorang penjaga saat dirinya sudah berada tepat di sebuah pintu besar berwarna emas dengan ukuran naga dan phoenix. "Ampun, Tuan Putri. Saya akan minta izin kepada Yang Mulia Raja, Anda tunggulah disini terlebih dahulu" ucap penjaga itu yang langsung mengetuk beberapa kali pintu emas itu hingga suara berat memintanya untuk masuk. Perlahan pintu besar itu terbuka, menampilkan sebuah ruangan penuh dengan warna emas yang menyilaukan mata. Pria penjaga itu masuk, dengan masih menyisakan sedikit rongga pada pintu yang tentunya muat untuk Nachella lewati. Dengan perlahan, Nachella memasuki ruangan tersebut. Matanya berbinar melihat sekeliling yang di penuhi dengan emas, beberapa lukisan Alexander dengan pakaian kebesarannya dengan seorang wanita cantik dengan gaun dan jubah kebesaran serta mahkota yang mengkilap. Bisa Nachella yakini jika itu adalah ibu dari Nachella asli. Wanita itu nampak sangat cantik dengan surai berwarna merah sama sepertinya, mata berwarna biru laut, bibir tipis. Dia terlalu menawan untuk bisa disebut cantik. Entah mengapa melihat semua itu, membuat hati Nachella sedih. Ia merasa rindu akan sosok wanita itu yang telah lama meninggalkannya karena sakit parah beberapa tahun lalu. Hingga tanpa sadar, butiran air keluar dari pelupuk matanya. Dirinya sesekali sesenggukan sembari mengusap kedua pipinya yang telah basah dengan air matanya. "Nachella" ucap seorang pria dari balik punggungnya. Nachella memutar tubuhnya, menghadap ke arah Alexander yang tengah menatapnya dengan sendu. Dengan cepat kaki mungilnya berlari dan berhamburan ke pelukan Alexander, menumpahkan semua tangisannya disana. "Kau merindukkan ibumu ya?" Ucap Alexander sembari mengelus surai merah Nachella perlahan. Tanpa di ketahui siapapun, wajah Alexander telah memerah. Matanya ikut merasakan panas melihat anak perempuannya yang menjadi sangat rapuh di pelukannya. Belum lagi dengan tangisannya yang kian membasahi baju yang dikenakannya. "Dia, dia sudah tenang bersama Dewi Anocia, sayang. Ibumu sudah tidak sakit lagi" ucap Alexander berusaha menguatkan dirinya sendiri yang tenang bersusah payah agar tidak ikut menangis di hadapan putri satu-satunya. "Ayah, kenapa ibu harus pergi? Aku kangen ibu" ucap Nachella lirih. Runtuh sudah pertahanan Alexander, kini dirinya ikut menangis. Mengingat kembali semua yang ia lalui bersama dengan Lauryl, istri tercinta sekaligus ibu dari anak-anaknya. Wanita yang sangat berani, baik hati, penuh perhatian dan kasih sayang. Dia yang sangat cantik hingga mampu membuat siapapun yang melihatnya akan langsung jatuh hati. Beruntunglah bagi Alexander yang dapat memilikinya, menjadi satu-satunya lelaki yang di cintainya, memiliki tiga orang anak darinya, meskipun sumpah seumur hidupnya tidak dapat bertahan lama karena takdir berkata lain. Wanita yang di cintainya di racun oleh pelayannya sendiri selama bertahun-tahun, membuat tubuhnya semakin lemah hingga beberapa kali muntah darah yang kerap kali ia sembunyikan. Wanita itu sangat kuat, hingga tidak ada satupun orang yang tau tentang penyakit yang di deritanya. Hingga seminggu sebelum dirinya meninggal, Lauryl pingsan disusul dengan kejang hebat disertai dengan muntah darah. Disitulah baru Alexander ketahui, jika selama ini wanita yang dicintainya telah diracuni. Dirinya memanggil tabib terbaik ke seluruh penghujung negeri, namun tidak dapat menemukan satu tabib pun yang dapat menyembuhkan istrinya. Hingga 7 hari setelah kejang tersebut, istrinya Lauryl meninggal menyisakan duka yang mendalam bagi dirinya, ketiga anaknya, pekerja istana, dan para rakyat yang ikut turun ke jalan menebar warna putih di depan gerbang kerajaan. Sehari setelah itu, barulah dalang dibalik meninggalnya sang permaisurinya di ketahui, dengan penuh amarah dirinya langsung memenggal kepala wanita itu lalu menggantungnya di gerbang istana selama satu minggu yang setelah itu langsung dibuang ke hutan agar dimakan serigala dan binatang buas lainnya. "Nac.. Nachella. Sudah jangan menangis lagi" ucap Alexander sembari memberikan jarak sedikit tubuhnya dengan Nachella agar dirinya dapat melihat wajah gadis itu yang selalu menenangkannya. Diraihnya kedua tangan gadis itu. Seutas senyum tipis ia paksakan, meskipun matanya tidak bisa berbohong jika dirinya juga telah menangis sama seperti gadis di hadapannya. Alexander berjongkok menyamai tinggi gadis itu, tangan kanannya mengusap pipi Nachella perlahan. "Ibumu sudah tenang disana. Permaisuri Lauryl sudah bersama dengan Dewi Anocia. Dia sudah tidak sakit lagi, Nachella tidak mau kan liat ibu sakit lagi?" Tanya Alexander yang langsung dibalas gelengan kepala Nachella. "Sekarang Nachella kembali ke kamar ya. Istirahat, Nachella kan baru bangun dari pingsan kemarin" ucap Alexander yang diakhiri dengan mencium kening Nachella sebelum gadis itu pergi dan berlalu bersama angin. Sepeninggal Nachella, mata Alexander tidak dapet menahan tangisnya. Tangan kanannya ia gigit dengan kencang, agar tidak ada yang dapat mendengar tangis dan isakannya. Matanya kembali menatap hangat lukisan yang berada tepat di atas kepalanya. Lukisan seorang wanita yang sangat ia rindukan. Lukisan seorang wanita yang sangat ia cintai, melebihi dirinya sendiri. Lukisan Lauryl, sang istri, ibu, sekaligus permaisuri kerajaan ini. "Aku merindukanmu, istriku" ucapnya. *bersambung.. 1576 kata 10 Sep 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN