"Sayang, Nasya gimana?" tanya Meisya begitu melihat sang putra memasuki rumah, pemuda itu lalu duduk di sebelah Samuel dan bersandar manja di bahunya sementara Meisya duduk bersebelahan dengan Fikri. "Ya, gitu deh, Ma. Ngamuk ngamuk enggak terima waktu aku keluar kamar, dia enggak bisa terima waktu aku bilang sampai kapan pun aku enggak bisa cinta sama dia," jawab Abraar, pemuda itu terlihat begitu lelah, lelah akan keadaan yang membingungkan ini. Samuel menepuk nepuk bahunya tanda memberi dukungan. "Bocah itu, maunya apa sih!" gumam Fikri setelah menghela napas kasar. "Maunya aku nyoba buat cinta sama dia Om," jawab Abraar, Meisya dan sang suami saling pandang dengan ekspresi prihatin mendengar apa yang Abraar bicarakan. "Nasya, Nasya emang dia pikir cinta bisa di paksakan!" sahut

