bc

BeBi: Jodoh karena Terpaksa

book_age16+
1.0K
IKUTI
14.4K
BACA
love-triangle
love after marriage
arranged marriage
badboy
goodgirl
independent
gangster
bxg
spiritual
wife
like
intro-logo
Uraian

Karena pandemi, Bilqis Salsabila terpaksa harus menganggur. Suatu hari ia mendapatkan lamaran pernikahan dari seorang pria paruh baya. Ia yang tak enak hati menjadi beban keluarga akhirnya menerima lamaran itu. Ternyata ia harus menikahi putra bungsu dari kenalan ayahnya; Beni Saputra. Pria yang menjadi suaminya adalah tipe pemberontak pada kedua orang tua. Ia bahkan merupakan anggota geng motor di kota itu dan terkenal sebagai preman yang ditakuti oleh preman lainnya.

Akankah kehidupan pernikahan mereka berjalan dengan semestinya? Apakah cinta akan tumbuh di antara keduanya bahkan ketika cinta pertama mulai mengusik kehidupan rumah tangga mereka?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Listen
"Dari mana saja kamu?" tanya seorang pria paruh baya yang memiliki kumis tebal di atas bibirnya. Seorang anak muda berusia sekitar dua puluh lima tahun menatap pria itu dengan tatapan malas. "Main," jawab pemuda itu. "Main sampai jam sebelas malam? Kau pikir kau itu siapa? Nggak malu apa sama tetangga?" tanya pria itu menatap tajam putranya. "Pah. Aku kan anak laki-laki. Mau main sampai malam juga bukan urusan Papah. Apalagi aku udah besar," jawab sang anak lalu berjalan meninggalkan ayahnya yang masih duduk di ruang televisi. "Beni! Ben! Kurang ajar kamu sama orang tua," panggil sang ayah dengan suara keras. Namun, putranya tak menghiraukan panggilan itu. Ia memilih berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Pintunya ia banting dengan keras. Menggetarkan tembok pada kamar itu. "Sabar, Pah. Sabar. Nanti kedengeran tetangga." Sang istri mencoba menenangkan pria itu. Pemuda itu mengunci pintu kamarnya. Lalu ia rebahkan tubuhnya di atas kasur. Meletakkan helm dan jaket yang sedari tadi ia bawa di dekat ranjangnya. Wajahnya terlihat kesal. Kemudian ia memukul tembok yang berada tepat di sampingnya beberapa kali. Menumpahkan kekesalan hingga buku-buku tangannya sedikit memar. "Sialan," umpat pemuda itu sembari mengacak rambutnya yang berwarna pirang. Hingga lelahnya tiba, pemuda itu pun memejamkan kedua kelopak matanya. Mencoba beristirahat dari semua perasaan kacau dalam hatinya. Seberkas rasa frustasi pun sempat bahkan sering menghampirinya. Membuat pemuda itu memilih diam dan sering pergi dari rumah. Pagi pun menyapa. Menampakkan senyuman mentari yang hangat. Kehangatan yang mampu memberikan semangat pada setiap makhluk hidup yang tinggal di planet bumi. Namun, hal itu tak berlaku bagi seorang pemuda yang kini sedang beranjak dari kasurnya. Rambut pirangnya acak-acakan. Wajahnya memang tergolong tampan, tatapannya tajam, hidung mancung, serta rahang yang tegas. Anting-anting perak pun ikut menghiasi kedua telinganya. Menambah kesan liar penampilan pemuda itu. Bersamaan dengan rasa malas ia melangkahkan kakinya untuk mengambil pakaian ganti. Menarik sebuah kaos berwarna putih serta celana jeans yang robek pada bagian lututnya. Kemudian ia menyambar handuk dan berjalan keluar kamar, menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. "Kenapa kamu bangun kesiangan? Dasar anak nggak tahu diri!" hardik sang ayah saat pemuda itu melewati ruang makan. Pria itu sudah memakai kemeja dan setelan jas yang rapi. Ia kini tengah berbenah untuk berangkat kerja. Sang anak hanya berjalan tanpa mengindahkan ucapan sang ayah. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya kembali. Sang ayah bertambah geram dengan kelakuannya. "Dasar anak nggak bisa diatur. Ya sudah, Mah. Papah berangkat dulu. Suruh dia menyusulku ke kantor!" perintah pria itu pada sang istri. "Iya, Pah. Hati-hati ya di jalan," balas sang istri sembari mencium punggung tangan kanan suaminya. Lalu mengantarkan pria itu hingga keluar rumah. "Beni, nanti kamu ikut Papahmu ke kantor! Kau disuruh Papah untuk bekerja di sana!" ujar sang ibu saat putranya sudah keluar dari kamar mandi. "Kenapa harus Beni, Mah? Kan sudah ada Mas Ardan yang kerja di kantor," jawab pemuda bernama Beni itu dengan santai. "Masmu kan juga mengurus istri dan anaknya. Setidaknya kamu juga bisa seperti kakakmu. Kau kan sudah dewasa, harus mulai bisa bertanggung jawab," balas sang ibu mencoba memberi nasihat. "Aku sibuk, Mah. Sudah ku bilang berulang kali kalau aku nggak mau kerja di kantor. Aku nggak suka," balas sang putra sembari berlalu pergi, kembali ke dalam kamarnya. Beni langsung mengambil jaket dan helmnya. Laki-laki itu memakai jaket dan menenteng helm. Berjalan menuruni tangga dan langsung keluar rumah tanpa berpamitan pada sang ibu. "Beni! Kamu mau ke mana?" tanya sang ibu setengah berteriak. Menyusul Beni yang sedang mengeluarkan motornya dari garasi. "Beni mau keluar Mah. Mau ngadem," jawabnya sembari memakai helm. "Beni! Dengerin Mamah!" ujar sang ibu merebut kunci motor. "Kenapa sih, Mah?" Beni mau tak mau menatap sang ibu. "Beni, dengerin Mamah! Kamu tuh anak bungsu kami. Kamu juga baru saja lulus kuliah. Setidaknya mulai sekarang kamu ikut Papah kerja di kantor! Mau jadi apa kamu kalau nggak nurut kata orang tua?" ucap sang ibu. Beni menghela napasnya. "Mah. Aku akan cari kerja. Tapi nggak di kantor temen Papah. Aku nggak suka kerja di sana." "Terus kamu mau apa? Mau ngebengkel dengan teman-teman gengmu yang ugal-ugalan itu?" tanya sang ibu sembari berkacak pinggang. "Stop, Mah. Jangan hina mereka! Mamah nggak tahu apa-apa tentang mereka." "Memang kenyataannya begitu, kan? Kau itu nggak pernah mau dengerin nasihat Mamah sama Papah." "Memangnya Papah sama Mamah pernah dengerin aku?" tanya sang anak menatap wajah ibunya dengan kesal. Ia lalu merebut kembali kunci motornya. "Udahlah, Mah. Aku mau pergi dulu. Di rumah ini nggak ada yang mau dengerin aku sekali saja," ujar sang anak sembari berlalu. Meninggalkan sang ibu dengan motor GL-nya. Motor GL itu kini tiba di depan sebuah bangunan seperti bengkel. Beni segera memasuki tempat itu dan sudah disambut beberapa pria dewasa lainnya yang sedang sibuk dengan motor mereka. "Yo, Ben! Kenapa muka lu? Kusut gitu kaya baju belum disetrika?" tanya salah seorang temannya. Beni duduk pada sebuah bangku. "Males gue, Mon. Di rumah selalu diatur-atur sama Nyokap Bokap gue." "Dahlah, Ben. Ini masih pagi. Jangan marah-marah lah. Nih sebat dulu," tawar pria yang tadi menyapa Beni. "Iya, Mon." Beni langsung menyambar sebatang rokok yang ditawarkan. "Ngomong-ngomong yang lain mana? Kok belum pada kelihatan? Cuma ada lu sama mereka berdua," tanya Beni penasaran sembari mengembuskan asap rokoknya. "Masih pada molor kali. Elu aja yang kepagian," ejek Temon. "Cailah." "Oh iya, Ben. Kenapa sih lu nggak ikut Bokap lu aja? Kan Bokap lu tajir, kerja di perusahaan juga. Kenapa lu malah ikut geng ini?" tanya Temon. "Denger ya, Mon. Gue nggak mau hidup gue diatur, dipaksa-paksa dengan kemauan mereka. Tanpa peduli sama apa yang gue inginkan. Gue bukan robot," balas Beni menatap tajam ke arah kawannya. "Cailah. Pakai ngomong sok bijak. Ya tapi terserah lu deh. Bener kata lu. Hidup lu ya punya lu sendiri." "Udah deh. Gue lagi males bahas itu. Mendingan bahas yang lain aja sambil nunggu yang lain dateng," protes Beni. "Ya udah. Kita bahas Nesya aja gimana? Pacar lu itu," ucap Temon sembari menaik turunkan kedua alisnya. "Ck. Gue bukan pacarnya lagi." "Kenapa?" "Asal lu tahu, ya? Ternyata dia cuma cewek matre yang deketin gue karena harta bokap gue. Setelah dia tahu gue nggak mau terima tawaran Bokap, dia langsung minta putus. Asem nggak, tuh?" umpat Beni kesal. "Ckckck. Sayang. Padahal Nesya itu cewek seksi dan aduhai yang pernah gue temui," ucap Temon. "Pikiran lu benerin, Tong! Bodi mulu lu pikirin," ejek Beni. "Widih. Kalian udah di sini aja," sapa seorang pria yang lebih tua dari Temon dan Beni. "Iya, Bos," jawab Temon. "Ya udah. Nih makanan buat kalian. Gue yang traktir," ucap pria itu. "Widih, Bos. Lagi punya duit, nih?" tanya Temon. Beni hanya menatap mereka berdua dari tempat duduknya. Menikmati rokok. "Iya. Gue habis dapet bayaran." "Mantap. Sekali-sekali ajakin gue kerja juga dong, Bos. Biar dapet duit banyak juga kaya Bos," usul Temon. Pria yang dijuluki Bos itu diam sesaat. "Lain kali mungkin, ya?" "Yo, Ben! Nih kopi buat lu!" ucap pria itu sembari melempar sekaleng kopi pada Beni. Dengan sigap Beni menangkap kaleng itu. "Thanks, Kak Net," ujar Beni. "Yoi." Sebenarnya Beni tak terlalu nyaman berada di lingkungan itu. Namun, kehangatan yang diberikan anggota geng motor tuanya itu membuatnya betah bertahan di sana. Bahkan pria dua puluh lima tahun itu bisa belajar banyak tentang dunia perbengkelan. Andai saja kedua orang tuanya memberi dukungan, ia mungkin akan segera membuka bengkel sendiri. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook