2. Keluarga

1041 Kata
Seorang gadis berjilbab syar'i tengah membersihkan rumahnya. Ia merupakan lulusan Madrasah Aliyah Negeri dua tahun yang lalu. Memiliki cita-cita tinggi yang sayangnya harus ia kubur dalam hati. "Pak, Buk, Bilqis pengen banget nerusin kuliah," ujar gadis berusia dua puluh tahun itu pada kedua orang tuanya saat mereka tengah menikmati acara televisi. "Nduk. Biaya kuliah itu mahal. Sedangkan Bapak sama Ibuk ini cuma buruh. Apa lagi sekarang masih pandemi. Cari duit aja susah, apa lagi mau bayar kuliah. Bayar biaya sekolah adik-adikmu aja harus mikir-mikir dulu. Pinjam sana sini," balas sang ibu. "Iya. Bapak juga ndak sanggup kalau harus biayai kamu kuliah," timpal sang ayah. "Iya, kok, Pak, Buk. Bilqis ngerti. Bilqis cuma kepengen aja. Nanti deh Bilqis cari kerja lagi," balas sang anak mencoba menutupi kekecewaannya. "Nah. Bagus itu. Kerja dulu, cari duit. Habis itu kan bisa bantu Bapak sama Ibuk di masa sulit ini. Kamu kan anak pertama kami. Harapan kami," tukas sang ibu. "Iya, Buk. Doain Bilqis biar segera dapat kerja, ya?" "Iya." Setelah pembicaraan itu, Bilqis memasuki kamarnya. Ada adik bungsunya yang sedang duduk mengerjakan pekerjaan rumah. "Nisa sudah selesai belum pe-ernya?" tanya Bilqis pada gadis kecil berusia sepuluh tahunan itu. "Sudah, Mbak." "Ya udah segera kumpulin tugasnya." "Hapenya masih dipakai Mas Fariz, Mbak," balas Annisa. "Ya udah. Sambil nunggu hapenya, sini Mbak teliti dulu kerjaan kamu," ucap Bilqis sembari mengecek pekerjaan rumah sang adik. Bilqis duduk pada kasur besar tempat ia dan sang adik tidur bersama. Maklum saja, di rumahnya hanya ada tiga kamar. Satu untuk kedua orang tuanya, satu untuk Fariz, dan ia harus berbagi kamar dengan adik bungsunya. "Bagus. Udah bener semua ini, Nis. Kamu memang pinter," puji Bilqis pada sang adik. "Kan diajari sama Mbak," balas sang adik ikut memuji kakaknya. Seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun muncul dari pintu yang terbuka. Menampakkan dirinya yang masih memakai seragam sekolah. "Mbak, Nis. Nih hapenya udah," ujarnya sembari memasuki kamar dan memberikan ponsel pintar itu pada sang adik. "Kelasmu sudah selesai, Riz?" tanya Bilqis pada sang adik laki-laki. "Udah, Mbak." Fariz ikut duduk di samping Bilqis. Sedangkan Annisa menerima ponsel itu dan langsung memotret tugasnya untuk dikirim kepada sang guru. "Mbak. Aku tadi denger Mbak lagi ngomong tentang kuliah sama Bapak sama Ibuk. Kalau Fariz sih dukung banget keinginan Mbak. Siapa sih yang nggak pengen punya kakak yang bisa jadi chef terkenal," ujar remaja laki-laki itu. Bilqis menatap sang adik sembari tersenyum lembut. "Makasih atas dukungannya ya, Riz. Doakan saja semoga Mbak bisa dapat kerja. Terus uangnya bisa buat bantu biaya sekolah kalian dan ... bisa buat tambahan kuliah Mbak nantinya. Mbak juga pengen banget punya toko kue atau restoran sendiri." "Iya, Mbak. Fariz ngerti itu cita-cita Mbak sejak lama," balas Fariz sembari tersenyum. "Makasih, Riz." "Nisa juga seneng kok kalau Mbak bisa jadi chef hebat. Nisa dukung deh. Masakan Mbak kan enak-enak. Ya, nggak, Mas?" Annisa ikut menyampaikan pendapatnya. "Duh. Adek-adekku ini memang yang terbaik. Kalian sekolah yang pinter, ya! Biar bisa lebih baik dari Mbak," ujar Bilqis sembari memeluk hangat kedua adiknya. *** Beberapa hari telah berlalu. Bilqis belum juga mendapatkan pekerjaan. Malu rasanya jika harus menganggur di rumah saja. Akan tetapi, kenyataannya memang banyak tetangga yang bahkan lebih dewasa darinya harus pulang kampung karena di-PHK. Karena pandemi korona yang berkepanjangan ini lah banyak pekerja yang terpaksa harus diberhentikan. "Di internet ada ndak lowongan pekerjaan?" tanya Bilqis pada adik laki-lakinya. "Bentar Fariz cariin," balas Fariz seraya menggeser-geser layar pada ponsel pintarnya. "Adanya kaya gini, Mbak." Anak laki-laki itu menunjukkan hasil yang ia dapat pada sang kakak. "Wah. Ini lulusan S1 semua. Mbak ndak termasuk," ucap Bilqis sedih. "Ya udah Mbak sabar aja. InsyaAllah setelah pandemi ini berakhir, Mbak akan dapat pekerjaan yang Mbak inginkan," hibur Fariz pada kakaknya. "Amiin, amiin. Makasih, Riz." "Sama-sama." "Bil. Tolong buatin teh, ya! Ada tamu," ucap sang ibu pada putri sulungnya. "Iya, Buk. Ada berapa tamunya?" tanya Bilqis sembari berjalan mendekat ke arah sang ibu. "Satu aja, kok. Kanalannya Bapak," balas sang ibu. "Baik, Buk. Segera Bilqis buatin." "Fariz tolong beliin kue di warung, ya? Ini uangnya," perintah sang ibu lagi sembari memberikan selembar uang dua puluh ribuan. "Nggih, Buk." Bilqis dan Fariz segera melaksanakan tugas mereka. Di ruang tamu rumah sederhana itu, Komarudin, sang ayah, tengah berbincang dengan tamunya yang dulu merupakan majikannya. "Sudah lama banget loh saya ndak ketemu Pak Bagaskara," ujar Komarudin. "Lama banget malah. Oh iya kusen yang dulu dibuat Pak Komar itu masih bagus loh. Padahal sudah lebih dari sepuluh tahun," ucap Bagaskara. "Itu karena kayu yang dipilih, Pak Bagas. Kayunya berkualitas bagus," balas Komarudin. "Bener banget, Pak Komar." "Loh, Buk. Minumnya mana?" tanya Komarudin pada sang istri. "Lagi dibuatin sama Bilqis," balas Minarti. Beberapa saat kemudian, Bilqis keluar dengan nampan berisi tiga cangkir teh panas dan kue yang baru saja dibeli oleh Fariz. Segera saja gadis itu menawarkan minuman dan kue yang ia bawa pada sang tamu. "Monggo minuman sama kuenya, Pak," tawar Bilqis dengan sopan. "Loh. Ini Bilqis yang dulu masih kecil itu, kan?" tanya Bagaskara pada pria paruh baya di hadapannya. Bilqis pun menatap tamu pria berjas rapi yang sedang menatapnya. "Iya, Pak," jawab Komar. "Wah. Sudah jadi semakin cantik kamu, Nduk," puji Bagaskara. "Sudah punya pacar belum?" tanya Bagas menatap gadis berjilbab itu. Bilqis melirik ke arah ayah dan ibunya. Takut mendengar pertanyaan seperti itu dari seorang pria yang bahkan lebih tua dari sang ayah. "Belum. Memang kami larang untuk pacaran," jawab Komarudin. Bilqis mencoba tersenyum. "Sa-saya permisi dulu ya, Pak," ujar Bilqis sembari berjalan mundur dan menghilang dari balik tirai yang memisahkannya dengan ruang tamu. "Kenapa, Mbak?" tanya Fariz yang sedang duduk di ruang makan sembari menonton televisi bersama Annisa. Bilqis duduk di samping adiknya. "Itu. Tamunya Bapak kok aneh." "Aneh gimana, Mbak?" tanya Fariz. "Tadi pas Mbak tawarin minum malah tanya-tanya Mbak udah punya pacar belum," jawab Bilqis. "Ya Allah. Sudah tua kok tanyanya gitu? Nggak malu apa?" "Sudahlah. Mungkin Mbak aja yang salah ngira." Bilqis berdiri lagi untuk kembali ke dapur. Mengembalikan nampan. Setelah kurang lebih satu jam lamanya, tamu itu berpamitan pukul empat sore. Bilqis pun membereskan cangkir dan piring tempat kue yang ia sajikan. Sang ayah beralih memasuki ruangan lain. "Bil. Habis Bapak sama Ibuk sholat ashar, ada yang mau Bapak bicarakan sama kamu," ucap Komarudin dengan garis wajah yang serius. "Nggih, Pak." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN