3. Lamaran

1057 Kata
Setelah kedua orang tuanya selesai melaksanakan sholat ashar, Komarudin mengajak putrinya untuk duduk di ruang televisi. "Kamu sama Annisa ke luar bentar, ya? Bapak sama Ibuk mau bicara sama Mbakmu dulu," ucap Komarudin pada kedua anaknya. Fariz dan Annisa pun menurut. Mereka memilih bermain ponsel bersama di ruang tamu. Bilqis duduk di dekat sang ayah. "Nduk. Pak Bagaskara mau melamar kamu," ucap Komarudin sembari menatap lurus ke arah putri sulungnya. Bilqis yang sedari tadi tak tenang, dibuat kaget dengan ucapan sang ayah. Gadis itu kembali merasa ketakutan. "Pak Bagaskara yang tadi, Pak?" tanya Bilqis memastikan. "Iya. Pak Bagaskara yang tadi ke sini. Beliau itu dulu juragannya Bapak. Orangnya bekerja di perusahaan yang cukup besar," ujar Komarudin sembari tersenyum senang. "Jadi, gimana menurutmu, Bil? Kamu mau kan menerima lamaran ini? Lumayan loh kamu bisa dapat orang kaya," timpal Minarti. "Tapi, Buk─” "Pokoknya kamu ndak akan nyesel kalau nerima lamaran ini." Belum selesai sang anak menjawab, Minarti kembali memotong ucapan putrinya. "Apa jika Bilqis nerima lamaran dari Pak Bagaskara, Bapak sama Ibuk akan senang?" tanya Bilqis memastikan. "Tentu saja, Nduk. Siapa yang ndak senang putri pertama mereka dilamar oleh anak orang berada. Jadi, kamu mau, ya?" tanya Minarti lagi. Bilqis tak tega jika harus menolaknya. Namun, ia juga tak mau menerima lamaran itu begitu saja. Gadis itu belum mengenal pria yang akan menjadi imamnya. "Bilqis akan pikirkan jawabannya." "Cepet diputuskan ya, Nduk. Kalau bisa terima aja! Kesempatan bagus ini. Soalnya dua hari lagi Pak Bagas mau ke sini lagi buat lamaran resminya," ujar Minarti penuh harap. "Bapak juga setuju itu. Ya sudah. Kamu pikirkan dulu jawabannya. Bapak sama Ibuk akan tunggu jawaban darimu," timpal Komarudin. Bilqis hanya menganggukkan kepalanya. Malam itu Bilqis keluar dari kamarnya. Ia hendak mengambil air wudhu untuk mengerjakan sholat tahajud. Gadis itu pun berpapasan dengan Fariz yang baru saja dari kamar mandi. "Mau sholat, Mbak?" tanya Fariz dengan suara pelan. Bilqis menjawabnya dengan mengangguk. Setelah selesai berwudhu, Bilqis kembali berjalan menuju kamarnya. Fariz ternyata masih berdiri di dekat pintu kamar kedua orang tuanya. "Kenapa belum tidur, Riz?" tanya Bilqis. "Iya, Pak. Makanya sebisa mungkin kita harus bujuk Bilqis biar mau nerima lamaran pernikahan ini," ucap sang ibu dari dalam kamar. "Iya, Buk. Bapak juga tahu." "Kalau Bilqis nikah kan kita jadi sedikit ringan," imbuh Minarti. Bilqis ikut mendengar ucapan dari kedua orang tuanya. Gadis itu sadar telah menjadi beban pada keluarganya. Fariz yang melihat kesedihan di wajah sang kakak langsung menarik lengan ramping itu menuju ruang tamu. "Mbak. Apa bener Mbak mau dilamar sama pria tadi?" tanya Fariz menatap wajah basah sang kakak. Bilqis hanya mengangguk mengiyakan. "Kenapa nggak langsung ditolak saja, Mbak?" "Mbak ndak mau buat Bapak sama Ibuk kecewa, Riz," jawab Bilqis. "Tapi, Mbak. Mbak kan nggak kenal sama dia. Kalau dia jahatin Mbak gimana? Apa lagi usia dia lebih tua dari Bapak." "Iya. Mbak ngerti. Tapi kalau Mbak ndak nerima lamaran ini kasihan Bapak sama Ibuk. Mereka sudah susah payah besarin Mbak, tapi sampai sekarang Mbak belum bisa kasih apa-apa ke mereka," ucap Bilqis dengan wajah sedihya. "Kenapa Mbak ngomong gitu? Mbak kan udah terlalu sering mengalah buat Fariz sama Annisa. Untuk kali ini, Fariz minta Mbak pikirin kebahagiaan Mbak sendiri," ucap sang adik sembari menggenggam kedua tangan kakaknya. "Fariz nggak mau Mbak sedih," imbuhnya. Bilqis menatap kedua mata sang adik yang mulai berkaca-kaca. Perasaan bersalah kembali muncul. 'Ya Allah. Apa yang harus hamba lakukan?' batin gadis itu. "Mbak akan pikirkan keputusan ini," ujar gadis itu sembari tersenyum lembut. Lalu mengusap kepala adiknya yang sekarang sudah lebih tinggi darinya. "Ya udah. Kamu tidur, ya? Mbak mau sholat dulu," ucap Bilqis sembari berjalan kembali memasuki kamarnya. *** Pagi pun tiba. Minarti kembali menanyakan keputusan sang anak perihal lamaran pernikahannya. Bilqis pun sudah membuat keputusan. "Gimana? Kamu nerima lamaran ini, kan?" tanya Minarti. "Bismillahirahmanirrahim. InsyaAllah Bilqis akan menerimanya, Buk," jawab gadis itu. Sang ibu langsung sumringah mendengar keputusan itu. Sedangkan Fariz kaget mendengarnya. Tak menyangka sang kakak akan mengorbankan kebahagiaannya dan memilih berbakti pada keinginan kedua orang tuanya. "Mbak! Kenapa Mbak malah nerima keputusan sepihak ini?" tanya Fariz. "Fariz! Kamu masih kecil jadi ndak tahu apa-apa," ucap Minarti. "Tapi, Buk ...." "Sudahlah, Riz. Mbak ndak papa kok." "Tapi, Mbak ...." "Beneran Mbak ndak papa, Riz," ucap Bilqis sembari tersenyum lembut. Tak menampakkan kesedihannya. "Dengar kan, Riz? Ya udah. Kalau begitu nanti sore kamu belanja buat besok malam, ya? Nanti Ibuk kasih uangnya," ucap Minarti. "Nggih, Buk." "Nanti kamu antar mbakmu belanja!" perintah Minarti pada putranya. Fariz hanya diam. Anak laki-laki itu memilih kembali ke dalam kamarnya. Hingga sore tiba, Minarti kembali mengingatkan putrinya untuk berbelanja. Fariz pun dengan terpaksa mau mengantar sang kakak pergi membeli belanjaan untuk persiapan lamaran besok. Tak rela sebenarnya ia dengan keputusan sang kakak. Anak laki-laki itu sangat menyayangi Bilqis. Baginya, Bilqis adalah kakak terhebat yang ia punya. Kakak yang selalu mengalah untuk adik-adiknya. Bahkan tak pernah sekali pun Fariz melihat atau mendengar kakaknya mengeluh. "Ini catatannya ya, Bil. Dan ini uangnya," ujar Minarti dengan senang hati. "Nggih, Buk," balas Bilqis sembari memakai masker dan helmnya. "Ya sudah. Sana! Hati-hati di jalan!" "Nggih, Buk. Assalamu'alaikum," ucap Bilqis dan Fariz bersamaan. Motor matic itu pun pergi meninggalkan rumah Bilqis. Kedua kakak beradik itu saling diam. Hingga sang adik lah yang mulai membuka suara. "Mbak. Mbak sudah yakin dengan keputusan Mbak ini?" tanya Fariz sembari melirik kaca spionnya. "Iya, Riz. InsyaAllah Mbak sudah yakin dengan keputusan ini," balas Bilqis menatap kaca spion di depannya. "Aku tahu Mbak cuma nggak mau buat Bapak sama Ibuk sedih. Tapi bukan berarti Mbak harus mengorbankan kebahagiaan Mbak juga," tutur remaja itu. "Sudah Mbak bilang. Mbak ndak papa, Riz," ucap Bilqis. "Loh, Riz? Kelewatan ini. Tokonya kelewatan, Riz!" seru Bilqis saat sang adik terus melajukan motornya menjauhi toserba yang biasanya mereka datangi. Fariz hanya terdiam. Terus melajukan motornya sampai ke kota. Tak menghiraukan kepanikan sang kakak. Ia terus melaju sampai ke sebuah supermarket yang berada di tengah-tengah kota. Supermarket yang masih buka dengan memperhatikan protokol kesehatan. "Loh. Kok berhenti di sini?" tanya Bilqis saat motor itu terhenti pada parkiran supermarket. "Belanja di sini aja, Mbak. Fariz denger ada diskon. Lumayan, kan?" ucap Fariz datar. Bilqis pun turun dari motor dan melepaskan helmnya. Fariz mengajak sang kakak untuk masuk ke dalam supermarket. Benar saja, ada potongan harga untuk beberapa produk termasuk produk makanan yang ia butuhkan. Hal ini karena sudah cukup lama tempat itu sepi pembeli. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN