"Iya, Bu. Maaf ya saya belum sempat memperkenalkan diri." Bilqis tersenyum sembari menganggukkan kepala.
"Iya. Nggak apa-apa, Mbak. RT sini santai kok orangnya. Oh iya perkenalan dulu, Mbak. Saya Minah. Mbak siapa namanya?" tanya Minah.
"Saya, Bilqis, Bu."
"Oh, Mbak Bilqis. Saya Yuni. Ini Bu Piyah dan yang ini Bu Donah," ujar Yuni memperkenalkan teman-temannya.
"Salam kenal ya, ibu-ibu sekalian," ucap Bilqis.
"Iya, Mbak. Oh iya. Nama suaminya siapa?" tanya Donah.
"Mas Beni, Bu."
"Oh. Mas Beni. Lha cocok, ya? Beni-Bilqis. Sama-sama huruf B," sambung Piyah.
"Iya, Bu Piyah," timpal Yuni.
Bilqis hanya tersenyum membalas keramahan tetangganya. Gadis itu pun sudah selesai memilih belanjaan.
"Pak. Sudah," ucap Bilqis menyerahkan barang belanjaannya pada si tukang sayur.
"Ya, Mbak. Saya hitung dulu," balas si tukang sayur.
"Mbak Bilqis. Tadi malam saya kok dengar suara teriakan di rumah Mbak. Apa jangan-jangan pas lagi malam pertama suaminya kesal karena mati lampu?" tanya Minah. Rumah wanita itu ternyata berada tepat di samping rumah Bilqis.
Gadis itu bingung mau menjawab apa. Ia hanya bisa terkekeh paksa karena malu.
"Ini, Mbak. Totalnya empat puluh lima ribu," ujar si tukang sayur sembari menyerahkan belanjaan Bilqis yang sudah dikemas dalam sebuah kantong kresek.
"Ini, Pak. Pas, ya," ucap Bilqis sembari menyerahkan pecahan uang dua puluh ribu dan lima ribu.
"Makasih, Mbak."
"Iya, Pak. Ibu-ibu sekalian, saya pulang dulu, ya? Permisi," ucap Bilqis masih menahan malu.
"Ya, Mbak. Duh. Gemes kalau lihat pengantin baru," ucap Yuni diikuti anggukan yang lainnya.
Bilqis berjalan cepat memasuki rumahnya. Wajahnya sudah memanas karena malu dengan perkataan tetangga barunya. Wajahnya bertambah memanas saat ia melihat suaminya yang berjalan santai menuju kamar hanya dengan mengenakan handuk saja.
"Astaghfirullah. Mas Beni!" pekik Bilqis sembari memalingkan wajahnya.
Beni menoleh menatap sang istri yang berdiri di dekat pintu pemisah antara ruang tamu dan ruang makan. "Kenapa, sih?" tanya Beni.
"I-itu! Kenapa ndak pakai baju?" tanya Bilqis masih memejamkan kedua matanya.
Beni memutar kedua bola matanya. Padahal di rumah ia sudah terbiasa seperti itu. Ingatlah Beni. Kini kau tinggal bersama anak gadis. Kau sudah tak berada di rumah lamamu lagi.
"Oh. Gue habis mandi." Beni berjalan mendekati pintu kamar. Bilqis pun bergegas lewat menuju dapur.
"Oh iya. Itu yang cuci pakaian gue, elu?" tanya Beni menghentikan langkah sang istri.
"I-iya, Mas."
"Makasih, ya."
"Hm." Bilqis menganggukkan kepala dan melanjutkan langkahnya.
Kedua pasangan itu pun sarapan bersama. Beni merasa sedikit tenang tinggal di rumah barunya. Ternyata benar kata sang ibu. Gadis yang menjadi istrinya itu benar-benar penurut. Mungkin Beni akan sedikit mempertahankan ikatan pernikahannya dengan Bilqis. Ia masih penasaran. Mengapa gadis sepertinya mau menerima lamaran dari pria sepertinya? Apakah ada tujuan terselubung? Seperti mendapatkan kekayaan dari keluarganya?
***
Pagi itu Bilqis kembali membangunkan suaminya. Kali ini ia memberanikan diri untuk menepuk pelan lengan Beni.
"Mas Beni. Kita sholat subuh berjamaah, yuk!" ajak Bilqis. Pasalnya ia belum melihat suaminya melaksanakan sholat wajib sehari sebelumnya.
Pria itu menggeliatkan tubuhnya. Kedua matanya sedikit terbuka. Melihat wajah sang istri yang sedang menatapnya.
"Lu sholat duluan aja! Gue masih ngantuk," balas Beni kembali merapatkan selimut.
"Tapi ...."
Beni membuka kedua matanya. Menatap tajam gadis di depannya sembari memberikan isyarat penolakan. Kemudian kembali memejamkan kedua matanya.
"Baiklah," gumam Bilqis sembari menjauh dari tubuh suaminya.
Gadis itu kembali melaksanakan sholat sendirian. Imamnya masih memilih menemani mimpi. Hingga gadis itu selesai sholat pun Beni masih enggan turun dari tempat tidur. Dengan sabar Bilqis hanya membiarkan pria itu. Ia memilih untuk melakukan pekerjaan rumahnya sembari menunggu kedatangan tukang sayur.
Beni terbangun pukul tujuh pagi. Pria itu beranjak dari kasurnya. Berjalan ke luar menuju kamar mandi. Sang istri tak ia temukan di dalam rumah. Sarapan pun sudah matang dan siap di atas meja makan. Gadis itu ternyata sedang menjemur pakaian di depan rumah. Terlihat dari jendela kaca. Beni pun membiarkan sang istri melakukan pekerjaanya. Memilih mandi.
Setelah selesai menjemur pakaian, Bilqis membawa ember masuk ke dalam rumah melewati pintu samping. Ia mendengar pintu kamar mandi yang terbuka. Beni pun muncul dengan hanya memakai celana pendek saja. Rambut pirangnya basah.
"Astaghfirullah, Mas Beni. Saya minta kalau habis mandi bajunya dipakai sekalian," ujar Bilqis sembari berjalan cepat menjauh dari suaminya.
"Memangnya kenapa? Ini kan rumah gue," balas Beni santai.
"Tapi kan malu, Mas." Bilqis pun memilih mengambil piring dari dapur menuju ruang makan.
Beni ikut berjalan melewati ruang makan menuju kamarnya. Mengambil kaos dan memakai celana jeansnya. Laki-laki itu pun keluar dengan anting-anting perak yang sudah kembali terpasang pada kedua telinganya. Lalu ia berjalan ke ruang makan.
"Sarapan dulu, Mas Beni," tawar Bilqis yang sudah melepaskan jilbabnya lagi. Rambut panjangnya tampak basah sehabis keramas.
"Ya." Beni ikut duduk pada salah satu kursi plastik.
Sebagai istri yang baik, Bilqis mengambilkan nasi dari dalam magic com pada piring suaminya. Beni hanya membiarkan sang istri melayaninya.
"Mas Beni mau makan apa?" tanya Bilqis.
Beni pun mengambil piring berisi nasi panas dari tangan sang istri. "Gue ambil sendiri aja," ujarnya.
"Baiklah."
Keduanya kembali saling diam. Hanya terdengar suara pelan sendok dan piring yang saling beradu. Setelah selesai, Bilqis segera membereskan piring dan gelas kotor. Beni masih duduk diam pada kursinya.
Beberapa menit kemudian, Bilqis sudah kembali dari dapur. Beni menatap sang istri yang hendak mengambil alat pel.
"Lu nggak capek apa?" tanya Beni heran melihat sang istri yang begitu rajin membersihkan rumah.
"Eh? Ndak kok, Mas," balas Bilqis sembari tersenyum.
"Sebentar deh. Lu jangan ngepel dulu. Gue mau ngomong sama lu," ucap Beni sembari memberi isyarat pada sang istri agar mendekatinya.
Bilqis menurut dan meletakkan kembali alat pel tersebut. Gadis itu pun duduk kembali pada kursi plastik yang tadi ia duduki. Beni meraih sebuah amplop kertas berwarna cokelat. Ia kemudian menyerahkan amplop itu pada sang istri.
"Ini buat lu," ucapnya.
"Apa ini, Mas?" tanya Bilqis sebelum menerima amplop yang disodorkan padanya.
"Ini hak elu. Kemarin gue lupa kasih. Ini maskawin yang kemarin," jelas Beni kembali menyodorkan amplop cokelat tersebut. "Terima aja! Nggak usah kebanyakan mikir," imbuhnya.
Kedua tangan Bilqis menerima amplop itu dengan gugup. "Te-terima kasih, Mas," cicitnya.
"Hm."
"I-ini banyak sekali, Mas Beni," ucap Bilqis saat melihat sejumlah uang di dalam amplop.
"Itu memang hak elu. Jumlahnya lima belas juta. Lu bisa gunain uang itu sesuka elu," jelas Beni.
Bilqis menatap tak percaya suaminya. Gadis itu bahkan lupa dengan jumlah maskawin yang diucapkan Beni ketika mengikrarkan janji suci. Baru kali ini ia menerima uang sebanyak itu.