7. Gara-Gara Mati Lampu

1064 Kata
Beni dan Bilqis melewati sore mereka di rumah baru. Hingga melewati senja mereka masih tak banyak bicara. Bilqis pun masih memakai jilbabnya. Gadis itu masih malu untuk menampakkan mahkotanya pada sang suami. Malam itu Beni memasukkan motor kesayangannya ke dalam rumah. Memasukkannya ke ruang tamu. Kemudian laki-laki itu membersihkan dirinya. Lalu menghampiri sang istri yang tengah membereskan makan malam mereka. "Bilqis. Kalau sudah selesai gue mau bicara sama lu," ujar Beni sembari menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Bilqis pun menoleh menatap suaminya. Rambut laki-laki itu sudah kembali pirang. "Iya, Mas." Kini keduanya berada di dalam kamar. Mereka duduk saling berjauhan meski pada sisi ranjang yang sama. Bilqis memilih menatap lantai keramik di bawah kakinya. Gadis itu semakin gugup karena ia tahu malam itu merupakan malam pertama bagi mereka. "Bilqis," panggil Beni sembari menatap wajah istrinya yang menunduk. "I-iya, Mas Beni," balas Bilqis memberanikan diri untuk membalas tatapan suaminya. Namun, pandangannya kembali tertunduk. "Gue cuma mau buat kesepakatan sama elu," ujar Beni dengan tatapan serius. "Kesepakatan apa, Mas?" Bilqis kembali menatap wajah suaminya. "Begini. Sebelumnya gue cuma mau kasih tahu ke elu kalau pernikahan ini sebenernya bukan rencana gue. Ini semua rencana Papah sama Mamah gue," jelas Beni. Bilqis diam menyimak. "Lalu gue mau bilang ke elu, meski kita udah sah jadi suami istri, tapi gue masih punya kehidupan gue sendiri. Lu juga sama, lu boleh melakukan apa yang lu inginkan. Gue nggak akan ngelarang," sambung Beni. "Jadi maksud gue, gue nggak akan ngekang lu buat melakukan ini itu. Lu juga nggak berhak ngekang gue demikian. Lagi pula ... Kita masihlah orang asing yang tinggal di rumah yang sama. Gimana?" tanya Beni. Bilqis diam sejenak. Mencerna ucapan suaminya. Ia terkejut karena baru pertama kalinya ia diberikan pilihan. Bukankah itu hal yang bagus untuknya? "Baiklah. Sambil kita saling mengenal, insyaAllah itu bukan masalah bagi saya," balas Bilqis akhirnya setuju. "Bagus." Beni tersenyum puas. "Ya udah gue mau tidur. Lu juga tidur!" imbuhnya sembari naik ke atas ranjang. Merebahkan tubuh dan memasang selimutnya. Memunggungi Bilqis. "I-iya," balas Bilqis. Ada sebuah bantal guling yang terpasang di tengah-tengah tempat tidur besar itu. Gadis itu kemudian melepaskan jilbabnya. Membiarkan rambut panjangnya tergerai. Lampu pun sudah diganti dengan lampu tidur sedari tadi. Bilqis lalu ikut membaringkan tubuhnya dan ikut masuk ke dalam selimut yang sama dengan Beni dalam diam. Pasangan baru itu pun kini sama-sama berusaha memejamkan kedua mata mereka. Baru beberapa menit mereka berbaring, tiba-tiba listrik mati. Lampu tidur pun ikut padam. Membuat kamar itu semakin gelap gulita. Beni yang belum tidur, duduk untuk meraih ponsel di atas meja kecil di sebelah ranjang. Ia menyalakan senter untuk memeriksa sekitar. Termasuk memeriksa sang istri. Lampu senter pada ponselnya menangkap sesuatu. Beni seketika membulatkan kedua matanya. "AAAAAAAAA!" teriak Beni ketakutan. Laki-laki itu pun terjatuh dari atas ranjang dengan suara gedebum. "Mas Beni? Mas? Mas Beni kenapa?" tanya sang istri sembari merangkak mendekati Beni yang masih menggenggam ponsel dengan senter yang masih menyala. "Pergi! Pergi!" seru Beni lagi saat sosok putih berambut panjang semakin mendekat ke arahnya. "Kenapa saya harus pergi? Mas Beni ndak apa-apa, kan? Apanya yang sakit?" tanya sang istri. Listrik kembali menyala. Lampu tidur di kamar itu kembali menyinari ruangan. Beni membuka kedua matanya. Betapa kesalnya ia karena sosok yang telah membuatnya takut tak lain adalah istrinya sendiri, Bilqis. Pria itu menatap sang istri yang berdiri di hadapannya sembari menatap heran. Gadis itu pun menyilakkan rambutnya ke belakang telinga. Beni berdiri sembari memegangi pantatnya. "Mana yang sakit, Mas? Tadi saya dengar ada suara terjatuh," ucap Bilqis menatap khawatir suaminya. Beni menatap tajam wajah polos sang istri. Ia tak mau mengaku jika dirinya terjatuh karena ketakutan melihat Bilqis yang dikira hantu. Dalam hati ia bertanya, sejak kapan gadis itu melepaskan jilbabnya? "Gue nggak papa. Cuma kaget aja tadi mati lampu," jawab Beni memberi alasan. Pria itu kemudian kembali naik ke atas ranjang. Kembali membaringkan tubuhnya. "Alhamdulillah kalau ndak papa," balas Bilqis. Gadis itu pun melangkahkan kakinya untuk membuka lemari. Jari jemari lentiknya meraih sebuah senter yang ia bawa dari rumah. Ia nyalakan senter itu. Namun sayang, cahayanya sudah meredup dan tiba-tiba mati karena kehabisan baterai. Beni melihat sang istri yang sedang menepuk-nepuk senternya. "Lu ngapain?" tanya Beni masih merasa kesal. Bilqis menatap suaminya. "Ah. Ini, Mas. Mau nyiapin senter kalau-kalau mati lampu lagi. Tapi ini kok baterainya sudah habis," jawab Bilqis. "Sudahlah. Kembali tidur!" perintah Beni kembali membelakangi sang istri. Beberapa saat kemudian, listrik kembali padam. Bilqis masih berdiri di depan lemari. Gadis itu pun meraba-raba untuk menutup kembali lemarinya. Dengan langkah perlahan ia berjalan dengan menyeret kedua kaki dan meraba-raba sekitarnya agar sampai di tempat tidur. Tiba-tiba saja terdengar suara benda terjatuh dan mengenai sesuatu. "Astaghfirullahal'azim," rintih Bilqis saat senter yang ia bawa jatuh menimpa kaki kirinya. "Kenapa, sih?" sungut Beni kembali menyalakan senter pada ponselnya. Laki-laki itu melihat sang istri yang terduduk sembari memegangi kaki kirinya. "Ndak papa, Mas. Cuma kaki saya kejatuhan senter," jelas Bilqis sembari meringis. "Ck. Cepatlah! Gue senteri," ucap Beni memberikan isyarat pada Bilqis. Laki-laki itu memberikan penerangan untuk sang istri. "Makasih, Mas Beni," tutur Bilqis ketika sudah duduk di atas ranjang. "Dah. Tidur! Gue udah ngantuk," ucap Beni sembari mematikan senter pada ponselnya. Lalu menilik jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Ia merutuki petugas PLN yang mematikan listrik malam itu. "Iya, Mas," balas Bilqis kembali membaringkan tubuhnya. 'Besok beli lilin saja buat persiapan. Sama beli baterai baru lagi di warung,' batin Bilqis sebelum berdoa untuk tidur. **** Adzan subuh sudah berkumandang. Bilqis mulai membuka kedua kelopak matanya. Dengan hati-hati ia membangunkan Beni. "Mas Beni. Bangun. Sudah subuh," panggil Bilqis pelan. Beni sama sekali tak bergeming. Bilqis hendak menepuk bahu suaminya. Namun, hal itu ia urungkan. Tak enak hati rasanya. Gadis itu pun membiarkan pria pirang itu dalam buaian mimpinya. Air dingin membasahi wajahnya. Bilqis segera menyelesaikan wudhunya dan kembali ke dalam kamar. Ia raih mukenanya yang ia simpan di dalam lemari. Dalam sunyinya waktu subuh, Bilqis menunaikan kewajibannya. Hingga matahari sudah mulai mengintip dari ufuk timur, Beni masih terlelap dalam tidurnya. Berbeda dengan sang istri. Ya. Gadis itu sedang membersihkan rumah. Menyapu lantai dan merendam pakaian kotor. Setelah selesai mencuci, barulah ia menghampiri tukang sayur yang berhenti di depan rumahnya. Semua pandangan tertuju pada gadis cantik berjilbab syar'i itu. Bilqis terseyum ramah untuk menyapa tetangganya. Senyuman itu pun dibalas oleh mereka. "Wah. Jadi ini tetangga baru kita yang katanya pengantin baru," ucap salah seorang ibu-ibu yang sedang memilih sayuran. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN