6. Hari Pernikahan

1003 Kata
Seminggu telah berlalu dengan cepat. Hari pernikahan pun tiba. Pernikahan yang terhitung singkat itu dilaksanakan dengan sederhana dan hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Meski demikian, protokol kesehatan tetap dijalankan dengan sebaik mungkin. Beni dengan jas, celana, dan peci berwarna putih sudah duduk di depan penghulu. Tak lupa dengan sarung tangan karet dan masker medis. Bilqis pun duduk tak jauh dari calon suaminya. Mengenakan dress dan kerudung berwarna putih bersih. Riasan bold tetap cocok pada wajah cantiknya yang tertutup. "Bismillahirahmanirrahim. Saudara Beni Saputra bin Bagaskara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Bilqis Salsabila binti Komarudin dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan uang senilai lima belas juta rupiah, tunai, tutur sang penghulu dengan tegas. Beni menarik napas. "Saya terima nikah dan kawinnya Bilqis Salsabila binti Komarudin dengan maskawin yang disebut di atas, tunai." "Bagaimana para saksi? Apakah sah?" tanya sang penghulu sembari menatap ke sekeliling. "Sah!" seru para hadirin yang merupakan kerabat dari kedua mempelai. Acara dilanjutkan dengan pemasangan cincin kawin pada jari manis kedua mempelai. Beni dengan tenang bisa memasangkan cincin di jari manis gadis yang kini sah menjadi istrinya. Sedangkan Bilqis memasangkan cincin itu dengan gugup. Hal ini karena ia baru pertama kali menyentuh pria selain ayah dan adik laki-lakinya. "Selamat menempuh hidup baru, Ben," ujar sang kakak, Ardan, memberi ucapan selamat pada adiknya. "Makasih, Mas," balas Beni dengan senyuman yang ia paksakan. Siang itu Ardan hadir bersama istri dan anaknya. Ia senang akhirnya sang adik dapat melepas masa lajangnya. Meski Ardan tak tahu jika sang adik dipaksa oleh ayahnya untuk menikahi gadis pilihannya. Setelah acara ijab qobul selesai, semua yang hadir pun menikmati acara syukuran. Menyantap beberapa hidangan yang sudah disediakan. Semua biaya pernikahan ditanggung oleh pihak mempelai pria. Hal ini karena Bagaskara lah yang pertama kali memiliki ide untuk menikahkan putra bungsunya. Sore itu Bilqis diboyong oleh keluarga suaminya. Gadis itu membawa barang-barang miliknya yang jumlahnya memang tak banyak. Annisa terus-terusan menempel pada sang kakak. "Mbak ... Annisa ndak mau ditinggal Mbak Bilqis," rengek anak kecil itu dengan kedua mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Bilqis tak tega meninggalkan adik kecilnya. Namun, kini ia sudah menjadi istri orang. Dengan lembut tangan Bilqis mengelus kepala bertutupkan jilbab itu. "Mbak ndak ninggalin kamu kok, Nisa. Mbak kan cuma pindah rumah aja. Lagi pula besok-besok Mbak bisa ketemu kamu lagi," hibur Bilqis. "Mas, Beni. Jangan ambil mbaknya Annisa." Gadis itu kini beralih merengek pada kakak iparnya. Beni hanya menatap dalam diam gadis kecil itu. Kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang malah mirip dengan seringaian. 'Siapa yang ngambil kakak lu,' ucap Beni dalam hati. "Sudah, Nisa. Besok kan Mbak Bilqis bisa main ke sini lagi. Ya?" bujuk Minarti pada putri bungsunya. Ia melepaskan Annisa yang menempel pada Bilqis. Gadis kecil itu pun terpaksa menurut. "Mbak baik-baik ya sama Mas Beni," ucap Fariz sembari memeluk kakaknya. "Iya, Riz. InsyaAllah. Kamu juga jagain Ibuk sama Bapak, ya? Sekolah yang pinter juga," balas Bilqis sembari mengusap kepala adik laki-lakinya saat Fariz melepaskan pelukannya. "Ya sudah kalau begitu. Kami permisi dulu, ya? Kapan-kapan kalian bisa kok berkunjung ke rumahnya Beni sama Bilqis," ucap Lina. "Iya, Bu Lina. Hati-hati di jalan, ya," balas Minarti. Setelah beberapa drama perpisahan, Beni dan Bilqis diantar oleh kedua orang tua Beni menuju rumah baru mereka. Rumah itu terletak di sebuah desa yang tak terlalu jauh dari rumah Bilqis. Lokasinya berada di pinggir jalan. Ada halaman depan sekitar tiga kali sepuluh meter. Samping kiri kanannya terdapat rumah warga yang lain. Hanya terpisah oleh halaman kecil selebar satu meter. Ardan pun menyusul sang adik dengan motor GL kesayangan Beni. Sang ayah ternyata menepati janjinya. Beni senang karena motor kesayangannya sudah bersamanya di rumah baru itu. "Nah. Ini kunci rumah kalian. Ada kunci cadangannya juga di situ," ucap Bagas sembari menyerahkan kunci rumah pada putranya. "Kalian silakan menikmati bulan madunya. Ayo, Pah! Kita pulang!" ajak Lina pada sang suami. "Ndak masuk dulu, Mah, Pah?" tawar Bilqis. "Nggak usah, Nduk. Kami mau pulang dulu saja. Ayo, Dan! Kamu yang nyetir," ucap Lina. "Hati-hati di jalan, Mah," ucap Bilqis sembari mencium punggung tangan kedua mertuanya sebelum mereka pergi meninggalkan rumah itu. Setelah kepergian mobil sang ayah, Beni langsung membuka pintu rumah. Menyeret kopernya sendiri diikuti Bilqis yang juga berjalan di belakangnya sembari menggendong tas besar tempat pakaiannya. Rumah itu seluas delapan kali sepuluh meter. Sudah ada kursi dan meja tamu di ruang paling depan. Gorden berwarna biru muda pun sudah terpasang dengan rapi. Mereka berdua kini berjalan menuju ruangan lain. Ruang makan sekaligus ruang keluarga. Sudah ada televisi dan kulkas di pojok ruangan. Kemudian ada dapur yang sudah terdapat peralatan masaknya. Di dekat dapur ada kamar mandi. Di ujungnya ada pintu keluar yang menghubungkan dengan samping rumah. Kemudian mereka kembali melangkahkan kaki untuk melihat ruangan lain dan terhenti di depan dua buah pintu yang tertutup. Ada dua ruangan yang belum mereka buka. Beni pun membuka pintu yang tepat berada di tengah. Ternyata kamar tidur dengan ukuran tempat tidurnya yang besar. Sudah ada lemari besar, meja rias, dan gantungan baju. Seperai, selimut, dan bantalnya juga sudah tertata rapi. Kamar itu cukup luas jika dibandingkan dengan kamar milik Beni dan Bilqis sebelumnya. Keduanya pun beralih pada ruangan di sebelahnya. Ternyata ruangan itu masih kosong. Bahkan bisa dibilang ruangan setengah jadi karena lantainya belum dipasang keramik. "Letakkan tas lu di kamar!" ujar Beni pada istrinya. "I-iya," jawab Bilqis gugup. Gadis itu segera masuk ke dalam kamar dan membuka lemari pakaian yang cukup besar. Dengan cekatan ia memasukkan dan menata semua pakaiannya ke dalam lemari. Beni pun ikut memasuki kamar. 'Ck. Kenapa cuma ada satu kamar, sih?' sungut laki-laki itu dalam hati. "S-sini, Mas. Bajunya biar saya tata sekalian," tawar Bilqis sembari mengulurkan tangannya. "Ah. Makasih," balas Beni menyerahkan kopernya pada sang istri. Gadis itu pun kembali memasukkan pakaian suaminya ke dalam lemari. Pada tempat yang masih kosong. Keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Kini waktunya mereka memulai kehidupan yang baru. Rumah baru, tempat baru, serta status dan pendamping baru. Meski sebenarnya mereka sama-sama belum siap, akan tetapi mereka berdua harus menjalani kehidupan rumah tangga mereka ke depannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN