***
Raihan memandangi serius ke arah kertas putih yang kini ada dalam pegangannya. Pria itu membaca ulang isi kontrak tersebut. Kehadiran Ariza Zulkarnain membuatnya dilema. Meskipun keduanya sudah memiliki pasangan masing-masing, tidak menutup kemungkinan mereka bisa bersama di masa depan. Dia dan istrinya pun sepakat untuk mencari pasangan lain.
"Baca apa? Serius banget!"
Adriana bertanya malas. Dia baru saja pulang dari jalan-jalan. Seperti biasa, ia menenteng barang belanjaan. Wanita itu sudah terbiasa belanja. Tidak membeli pakaian sehari seolah ia tidak makan dua hari. Kepuasan batin Adriana jauh lebih besar dari kepuasan fisik.
"Awak kenapa baru pulang sekarang? Tengoklah jam di ponsel awak. Ni sudah jam 22:40. Awak ni dah bersuami. Ape orang cakap nanti bila awak sering keluyuran macam ni."
Raihan menaruh surat perjanjian yang ada di tangannya ke dalam laci nakas. Dia memperbaiki posisi duduknya. Pria itu menatap punggung Adriana yang terbungkus gaun merah.
"Apaan sih, Mas Raihan. Bukannya setiap malam aku seperti ini? Ini adalah gaya hidupku. Tolong jangan ikut campur. Pernikahan ini hanya sementara, Mas. Setelah harta warisan orang tuaku jatuh ke tanganku. Lalu harta warisan Datuk Razif jatuh ke tanganmu. Maka saat itulah kita akan berpisah. Tolong jangan lupakan itu."
Memang benar. Raihan tertegun. Dia merubah posisi duduknya menjadi berbaring. Kata-kata Adriana terngiang di kepalanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Adriana bukanlah pengalihan hatinya. Sementara ada masa lalu yang siap membayangi hari-harinya.
Ariza Zulkarnain diberkati dengan kecantikan, kesopanan, dan tutur kata yang lembut. Wanita itu penuh perhatian. Jika terus melihat Ariza setiap hari, Raihan tidak yakin bisa menahan perasaannya. Ariza sangat mudah membuat siapa pun jatuh hati kepadanya.
"Kenapa diam?"
Adriana memberikan perhatian penuh pada pria itu. Dia yang ingin melepaskan satu anting di telinga kanannya terpaksa menghentikan kegiatannya. Wanita itu menoleh ke arah suaminya yang tampak galau. Seperti pria muda yang baru saja diputuskan pacarnya.
"Karena saya tak nak cakap apa pun." Jawaban Raihan sukses membuat Adriana memutar bola matanya.
"Maksud saya. Saya tak nak berseteru terus dengan awak. So, saya pilih silent. Sebuah perdebatan tu, akan berakhir pabila satu pihak memilihkan untuk mengalah. Saya memilihkan untuk mengalah." Raihan menambahkan kalimatnya.
Adriana mengangguk-angguk. Matanya tertuju pada pakaian tidur Raihan. Itu adalah hadiah pernikahan mereka. Sebenarnya itu pakaian tidur pasangan. Adriana selalu memakai pasangannya. Entahlah, melihat Raihan memakai baju itu membuat pikiran Adriana melayang. Seolah ada harapan dibalik tindakan suaminya.
"Kamu benar, Mas. Kita memang tidak harus selalu bertengkar. Kita akan menjadi teman. Partner yang gila harta. Bukankah itulah alasan kita bersama?" Adriana menyisipkan sedikit gurauan di dalam kalimatnya.
"Oke, saya pun pikir macam tu."
Raihan memejamkan matanya. Dia berniat untuk tidur. Jika ia terus dalam keadaan sadar. Bisa-bisa ia tak akan berhenti memikirkan Ariza Zulkarnain. Itu tidak sehat baginya. Mengingat Ariza sudah memiliki pacar.
"Jangan tidur dulu. Aku belikan kamu martabak. Bukankah kamu suka makan makanan pinggir jalan? Lekas bangun sebelum martabaknya dingin."
Raihan membuatkan burger untuknya hari ini. Entah malaikat apa yang merasuki Adriana sehingga sudi membelikan martabak untuk bukan suaminya. Sangat bukan Adriana! Wanita itu hanya berpikir untuk membalas jasa pria itu. Apalagi burger buatan Raihan sangat enak. Sangat berbeda dengan buatan MC D.
"Awak ni baik seperti ni. Ada yang sedang direncanakan ke?" canda Raihan.
"Takde. Eh, maksud aku enggak gitu! Aku beli martabaknya supaya kamu senang. Biar kita enggak bertengkar terus." Adriana ingin sekali menepuk kepalanya yang secara refleks mengikuti gaya bicara Raihan yang aneh. Gara-gara itu, Raihan terkekeh-kekeh.
"Bila awak pakai bahasa Malaysia. Itu lebih elok. Bila awak pandai bercakap macam saya. Insya Allah. Saya kan jadikan awak istri sungguhan," canda Raihan.
"Ih. Memangnya siapa yang mau jadi istri kamu. Plis deh jangan ge-er. Kita menikah cuma karena harta ya. Sekali lagi menikah karena harta. Bukan karena cinta!" tegas Adriana.
"Yelah. Tahu pun. Dah. Saya keluar dulu. Bila tak! saya kan tengok awak lepas baju."
Masih menyengir, Raihan melangkah menjauhi istrinya. Langkah kaki pria itu semakin dipercepat supaya Adriana tidak memukul punggungnya dengan keras. Raihan sudah pernah merasakan pukulan wanita itu. Rasanya benar-benar sakit. Mungkin karena tangan itu jarang digunakan bekerja keras sehingga tenaganya terlampau banyak.
***
Raihan membuka kotak martabak yang dibeli istrinya. Memang menggiurkan! Adriana membeli dua kotak. Raihan masih merasa sedang bermimpi bahwasanya Adriana mau membelikan martabak itu untuknya.
"Wanita tu memang misterius!" bisik Raihan pada dirinya sendiri.
Pria itu menyantap dengan lahap. Jika ia tidak memakan semua martabak itu maka akan berakhir di tempat sampah. Itu mubasir! Raihan tak akan biarkan makanan mubasir sebab ia paham seperti apa cara menghargai makanan.
"Ya ampun! Rakus betul kamu, Mas Raihan! Kamu sudah habiskan satu kotak martabak. Lalu kotak lainnya kamu babat habis juga. Sebenarnya perutmu itu terbuat dari apa?"
Adriana berkomentar sambil berjalan ke arah suaminya. Dia mengintip martabak yang ada di dalam kotak. Masih tersisa lima potong. Adriana tidak mengambilnya. Itulah sebabnya Raihan menyodorkan satu untuknya. Adriana tidak menolak. Dia menerima pemberian Raihan karena merasa itu sebagai simbol pertemanan mereka.
"Bila saya tak makan, siape yang nak habiskan? Saya nih cuma hargai makanan." Raihan mengambil satu potong martabak lagi, kemudian menyumpal mulutnya dengan makanan itu. Perut Raihan terasa penuh. Akan tetapi ia kasihan bila makanan itu tidak habis.
"Macam mane nak habiskan ni. Saya rase perut saya ni dah penuh." Raihan bergumam. Dia berhenti sejenak menyantap makanan yang ada di hadapannya. Disandarkan kepalanya di sofa kemudian mengambil napas.
"Aku enggak bisa habisin ya, Mas. Pokoknya kompromi sama perut kamu. Atau kalau enggak mau makan sekarang, masukin ke freezer, besok Mas Raihan makan lagi." Adriana sempat makan bersama Alessandra. Perutnya tak sekuat perut Raihan.
"Yelah. Saya nak istirahat badan dulu. Nanti baru lanjut lagi."
Sepotong martabak di tangan Adriana belum habis. Dia bahkan kesusahan menyantap satu irisan sana. Wanita itu masih sibuk menguyah saat Raihan memperhatikannya sambil senyum-senyum. Adriana selalu jengkel melihat senyuman itu.
"Apa lagi ini? Kamu pengin hina aku lagi ya, Mas. Sekarang kamu jujur deh! Kamu ngetawain apa lagi?"
"Sudut bibir awak tu ada sisa makanan! Awak bersihkan lah tu. Saya tak nak bersihkan. Awak pikir, ni drama Korea ke?"
Raihan tidak akan menunjukkan sikap romantis. Pria itu hanya memberikan tisu kepada istrinya agar istrinya mengelap sisa makanan itu sendiri. Adriana menjeling. Namun, ia tetap membersihkan sisa makanan di sudut bibirnya.