Seseorang yang berjalan di samping Pak Adi itu membuat Chindai terlonjak. Entah sejak kapan mata berwana hitam terang Lintar menemukannya di tengah-tengah hilir mudik anggota ekstrakurikuler musik. Chindai mengedarkan netra, mencari seseorang yang diharapkan. Lintar … mantan ketua jurnalis? Seketika banyak teka-teki mampir di pikiran Chindai, mengingat kehadiran Lintar di kejadian tempo hari. “Mohon perhatiannya. Sebagian dari kalian pasti sudah tahu, tetapi apa salahnya kenalan lagi agar lebih terjadi chemistry. Dia baru sempat hadir karena kemarin-kemarin lagi sibuk. Silakan, Nak, menyapa semua.” Chindai termasuk malas berinteraksi dengan orang baru, makanya memperhatikan Lintar—yang dari aura saja sudah membikin tidak nyaman—dirinya langsung enggan. Pun ia tidak suka cara laki-laki

