Chindai yang sepanjang perjalanan termenung dan memikirkan perkataan Bagas, mulai tidak bisa menutupi raut bahagianya memandang gedung putih di depan sana. Terlalu sering datang membuat Chindai hapal luar biasa. Ia menoleh ke spion, Bagas menatapnya dengan senyuman menenangkan. “Kenapa bawa aku ke sini?” “Nurutin kemauan kamu.” “Kata—” “Turun, gih. Bentar lagi hujan.” Bagas menurunkan tunjang motor, serta melepaskan pelindung kepalanya dan Chindai yang berkaca-kaca. “Lho, kenapa nangis?” “Hari Minggu kemaren aku udah beli tiga, berarti kesempatanku tinggal satu novel.” Setelah merapikan helai rambut Chindai yang agak berantakan, Bagas meletakkan jari-jarinya di kedua pundak gadis itu. “Aku bilang bulan depan. Artinya, sekarang kamu masih bebas beli berapa aja.” “Tapi, Kak—” “Kalo u

