Mata Chindai melebar sempurna kala menginjak ruang musik yang dimaksud Bagas. Beberapa saat ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, tetapi seseorang yang dicarinya tak tampak, padahal bukti masih jelas di ponselnya. Pada akhirnya, Chindai mengernyih dihadapkan senyum miring Michelle yang berdiri tegak di tengah-tengah ruangan. “Kak—” “Cari Bagas itu di kelasnya, bukan di sini, Chindai …, Chindai. ” Michelle maju langkah demi langkah, agaknya mengancam. Tatapan gadis itu begitu tajam, menusuk di kedalaman netra Chindai yang mendadak sayu. Chindai berusaha menyadarkan diri sebab terkejut. “Ada apa, Kak?” “Puas, Bagas tolak gue dengan cara yang enggak berperikemanusiaan? Bahkan setelah tolak gue, dia ke rumah lo. Hebat!” “Gaskeun, Chell!” Chindai melirik seseorang di belakang Mich

