Bagas meloloskan Chindai selepas menutup kelas, lalu berjalan mengimpit gadis itu di antara daun pintu. Tangannya masing-masing tersampir di sisis telinga Chindai, ia bermaksud menunggu Inai-nya mengeluarkan sepatah dua kata sebagai penjelasan. Tak hanya itu, Bagas mencoba bertahan agar tidak tersulut emosi. “Lo kebiasaan banget tarik-tarik gue, Kak.” Selain mengomel Chindai merutuki Bagas di dalam hati. Selain itu, ia juga bingung karena kelas Bagas yang sering sekali tidak berpenghuni, bahkan hari ini seharusnya guru masih mengajar. Bagas bergerak menanggalkan kacamatanya, tergolong keheranan Chindai. Mata Bagas betul bermasalah, atau hanya hiasan agar terlihat makin tampan, sih? “Jangan welcome ke Lintar, Inai. Apa begini aja harus gue kasih tahu, hem?” ujar Bagas eksplisit, membuyar

