“Gas, di sana doi lo, bukan?” Tawa Bagas gencat berbarengan mengikuti arah telunjuk Bella. Benar saja, dari rambut sebahu lurus dan siluet poni pagar itu pun ia tahu siapa sosok di baliknya. Bagas menajamkan netranya yang berkabut emosi di per sekian detik. Bagaimana mungkin … Inai-nya selalu mempermainkannya entah kenapa. Bagas sadar, Chindai—gadis yang menjadi perhatiannya—tidak sendirian, justru bersama orang yang sungguh ingin dihabisinya. Iya yakin tidak salah, bahkan tanpa melihat wajah yang tidak terlalu jelas itu ... dirinya sudah bisa menebak jika Chindai beringin dengan Lintar. Adel bertahan untuk tak meneriaki nama Chindai. “Kak Bella kenal Kak Ndai?” “Gebetan kakakmu, Del, masa Kakak enggak tahu.” Bella mesem lugu dan cepat-cepat menggeleng. Ia tertawa setelahnya begitu mel

