54. | Maaf

1013 Kata

Sengaja berlama-lama menaruh ujung sendok di depan bibirnya, Bagas bergerak menyuap sendiri. Ekspresi datarnya melongok mimik penuh harap Chindai akan rasa nasi goreng yang dimasak. Berniat jail, Bagas kembali mengunyah dan tawanya hampir lepas menyadari kekesalan gadis cantik itu. “Santai, dong, Ndai. Ini bukan Master Chef, lho.” “Seporsi seratus ribu, Mas.” Chindai memangku dagu, pun menatap Bagas tidak berkedip. Meskipun jantungnya terasa nyaris ingin terlepas, ia berusaha terlihat santai sebab takut berakhir malu jika terus terlihat seperti orang bodoh. Kapan lagi Chindai bisa sedekat ini dengan sosok yang disukainya. “Bayarnya sudah pakai cinta, Neng.” “Enggak kenyang makan cinta doang, Mas.” “Enak banget, Inai.” Bagas dalih memuji tulus. Senyum di bibirnya menunjukkan laki-laki

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN