“Kebetulan. Bagas, sini lo!” Chindai beralih mengikuti mata Rio. Sejenak ia membasahi bibir merah mudanya. Tidak ada kata yang layak menggambarkan betapa mengagumkannya Bagas malam ini, Chindai sampai sulit menahan napasnya. Jas yang sengaja tidak dipakai dan dipajang di bahu, sukses membuat para gadis menjerit tertahan. “Yes. I’m here.” Sejenak Chindai benar-benar, apalagi begitu menangkap raut cengar-cengir Bagas begitu berhadapan dengannya dan Rio. Astaga, ia ingin pingsan saja hari ini. Tampannya Bagas sungguh menyegarkan penglihatan. “Siap banget lo dansa hari ini, Gas?” “Gue enggak main begituan, ya, Yo. Lo aja sama Ify,” gurau Bagas terhadap Rio. “Gue di belakang aja nanti, tim sukses lo untuk king and queen of the year.” “Rencana lo masuk di otak gue, Gas.” Chindai menunduk

