bagian 13 di prank alam semesta

1110 Kata
Pagi-pagi Kayla sudah terganggu karena kegaduhan di ruang dapur. Perempuan itu mengucek mata, dan menghampiri sumber suara. Matanya membesar ketika melihat seorang lelaki sedang memakai dapurnya, dan ternyata, adalah Satria. Lelaki itu sedang memasak nasi goreng. Kayla merasa tidak enak, semenjak ia hamil, Satria selalu menginap di rumahnya, dan Satria selalu bangun pagi untuk mengurusnya, seperti memasak, dan membuatkan s**u hamil. "Gak usah repot-repot, Sat. Kamu selalu gini,” kata Kayla membuat Satria yang sedang memasak menoleh ke arahnya. "Sama sekali gak repot, mamoy,” jawab Satria. Kayla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kadang ia merasa minder, Satria bisa masak. Kenapa ia tak bisa? "Kamu kerja, kan? Udah sini biar aku aja, kamu siap-siap.” “Aku shif siang, mbak. Tenang aja,” jawab Satria. Satria tidak merasa direpotkan. Lelaki itu justru sangat senang ketika dirinya merasa dibutuhkan oleh Kayla. Meskipun ia tahu, Kayla belum bisa membalas rasa cintanya. Namun, Satria yakin, suatu saat nanti ia akan mendapatkan cinta Kayla seutuhnya. “Udah siap.” Satria menyajikan masakannya di meja makan, Kayla tersenyum haru. “Pedes gak, nih?” tanya Kayla. “Enggak. Kan tadi malam mamoy bilang sakit perut,” jawab Satria. Ketika ingin duduk, tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Kayla ingin berdiri, namun Satria menahannya. "Biar aku aja," kata Satria. Kayla mengangguk, dan melanjutkan sarapan paginya. Satria membuka knop pintu, dan terkejut ketika melihat siapa yang datang. Dia adalah Waluyo. "Cari siapa?” Waluyo memasang raut wajah yang sulit diartikan. Melewati Satria begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Satria. "Gimana? Udah mendingan?" tanya Shafa kepada Yumi. Brak. Waluyo menggebrak meja, Kayla yang sedang berada di ruang makan terkejut mendengar dobrakan itu. “Ada apa, Sat?” Kayla berteriak. Namun … Satria tak menjawab pertanyaan Kayla. Mungkin, pemuda itu tak mendengarnya. Akhirnya Kayla memutuskan untuk menghampiri Satria. Belum ada dua langkah, Kayla terkejut ketika mendapati kehadiran Waluyo. “Apa-apaan nih? Ngamuk di rumah orang!” kata Kayla dengan nada jengkel. “Kamu yang apa-apaan. Udah di telpon berkali-kali gak aktif,” jawab Waluyo. “Jelas gak aktif, karena gue udah ganti nomor,” ujar Kayla. Waluyo marah mendengar jawaban Kayla, bisa-bisanya perempuan itu mengganti nomornya tidak member kabar setitikpun. “Kamu mau menghindar terus dari om?” tanya Waluyo. “IYA! Karena gue udah gak sudi kenal sama lu. Lu udah bikin hidup gue hancur,” ujar Kayla berapi-api. “Dasar! Kacang lupa kulit.” “BODO AMAT!” Waluyo ingin menampar Kayla, namun dihalangi oleh Satria. Pemuda itu tak rela, jika calon istrinya disakiti oleh siapaun. “Jangan sampai tangan kotor anda nempel di pipi calon istri saya!” kata Satria wajahnya mulai memerah karena mulai terpancing emosi. Waluyo terkejut mendengar pengakuan Satria. “Kamu mau nikah sama bocah ini, Kay?” tanya Waluyo mengejek. “Gak akan kejadian. Karena takdir kamu itu adalah hidup bersama om,” lanjutnya. “Cih, gak sudi,” kata Kayla. Melilhat Kayla yang seakan tambah ngelunjak, Waluyo tambah marah, dan mendorong perempuan itu hingga terjatuh, perut Kayla terkena ujung meja. Dalam sekejap, Kayla terjatuh dan kesakitan. Ia meringis, dan menjerit. Satria yang melihat itu langsung menghampiri Kayla. “Ah … sakit,” kata Kayla. Ia takut terjadi sesuatu dengan janinnya. “Mamoy, mana yang sakit?” tanya Satria panic. “Perut aku, hiks.” Kaya terus menggerang kesakitan, karena Waluyo sangat kencang ketika mendorong  Kayla. “Kita ke rumah sakit, ya?” tanya Satria, Kayla mengangguk. Ketika ingin membopong Kayla, Satria melihat b****g Kayla ada bercak darah, dan itu cukup membuat Satria overthingking. “Ada darah, Mbak,” kata Satria. Kayla menangis sejadi-jadinya, ia takut keguguran, dan kehilangan janinnya untuk yang kedua kalinya. “Sabar ya mbak. Kita ke rumah sakit sekarang.” “Kamu bisa nyetir?” “Bisa,” jawab Satria. “Kalau ada apa-apa sama janin gue, gue bakal tuntut lu Waluyo!” kata Kayla dengan nada marah, dan tatapan benci menahan sakit. Sedangkan Waluyo merasa biasa saja. Ia merasa seperti de javu. Kejadian ini persis ketika dulu saat Kayla akan menikah dengan Alfa. “Kalau aku gak bisa miliki kamu, maka orang lain juga gak berkah miliki kamu,” desis Waluyo. **** Di perjalanan. Kayla terus memengan perutnya yang terasa nyeri akibat benturan. Satria terus menguatkan Kayla agar bertahan. “Sabar, Mamoy. Kita hampir sampai,” kata Satria. “Sakit, Sat.” “Gimana nasib bayi kita? Aku gak mau kehilangan anak ini,” ujar Satria. “Kamu tenang aja. Semua akan baik-baik saja,” jawab Satria mengelus puncak kepala Kayla. Setelah beberapa menit. Akhirnya, mereka sampai di rumah sakit. Satria membopong Kayla. Kini Kayla sudah berada di ruangan Dokter kandungan. Dokter mulai memeriksa Kayla. Beberapa menit kemudian. “Bagaimana keadaan janin saya, Dok?” tanya Kayla. “Janin?” tanya Dokter heran. “Iya, saya ini sedang hamil,” jawab Kayla. “Maaf, ibu. Gak ada janin di dalam rahim ibu,” kata Dokter. Kayla, dan Satria terkejut mendengar penjelasan Dokter. “Maksud Dokter saya keguguran?” tanya Kayla. Dokter tersenyum. “Bukan Ibu. Ibu sedang menstruasi, dan ini sudah saya kasih obat pereda nyeri, untuk menghilangkan nyeri di perut ibu karena benturan, dan nyeri haid,” jawab Dokter. Satria yang mendengarkan melongo. Ternyata … ia salah. “Ta—tapi, Dok. Saya telat haid, dan waktu pakai test pack, hasilnya positif,” ujar Kayla masih tak percaya. “Iya, Dok. Istri saya juga keluar darah pas habis kebentur perutnya,” timpal Satria. “Telat haid itu karena mungkin ibu terlalu stress,” jawab Dokter. “Terus … masalah test pack. Apakah ibu melihat tanggal kedaluwarsanya?” Kayla menggeleng. “Nah … mungkin saja test pack itu sudah kedaluwarsa sehingga hasilnya tidak sesuai dengan kenyataan,” kata Dokter. Setelah beberapa menit berbincang dengan Dokter akhirnya Kayla, dan Satria memutuskan untuk pulang. Di mobil. Kayla masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi dengannya hari ini. “Aku gak hamil, Sat,” kata Kayla. “Iya, mbak. Ternyata kita salah,” ujar Satria. “Iya,” jawab Kayla. Pantas saja akhir-akhir ini emosinya sulit terkontrol, dan mudah baperan, ternyata efek menstruasi, dan ia baru sadar ketika dia bilang ke Satria bahwa perutnya sakit, adalah tanda-tanda menstruasi. “Dokter gak mungkin salah, kan?” tanya Kayla memastikan. “Nggak, dong. Apalagi tandi yang periksa kamu Dokter kandungan,” jawab Satria. “Kok bisa, sih?” Kayla masih heran. “Lucu, ya?” tanya Satria balik. “Gak jadi nikah dong kita?” tanya Satria lagi, dan tertawala mereka hingga terpingkal-pingkal. Bisa-bisanya dia di prank Test pack. Setidaknya, beban Kayla berkurang satu, karena tidak jadi menikah. Sekaligus ia merasa beryukur karena ternyata ia tidak keguguran. Yang artinya, semua baik-baik saja. “perut kamu masih sakit?’ tanya Satria, Kayla menggeleng.   ***********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN