Kayla kesiangan hari ini. Perempuan itu gugup, mencari kunci handuk yang tak kunjung ketemu. Semua gara-gara Satria yang ngepush sampai subuh tadi, hingga akhirnya Kayla kesiangan, padahal hari ini ada jadwal untuk bertemu dengan tamu. Kayla juga bru sadar, jika ternyata Satria sudah tidak ada di kamarnya.
"Bener-bener si Satria, bisa-bisanya dia gak bangunin gue,” gerutu Kayla.
Ketika Kayla menemukan handuknya, dan menarikk handuk itu di meja rias, tiba-tiba Kayla menemukan sepucuk surat.
“Apa ini?”
Kayla mulai membuka surat itu, dan membacanya.
Isi suratnya kira-kira seperti ini.
Mamoy sayang, Pacil kerja dulu. Hari ini, dan seminggu ke depan. Kita gak bisa ketemu dulu. karena pacil disuruh bos ke luar kota. Jangan lupa jaga kesehatan, dan jangan capek-capek. Inget dedek yang di dalam perut.
Kayla merasa geli ketika membaca surat dari Satria, tapi juga merasa terhibur. Satria sunggu romantis. Itu menurutnya. Tapi … entah mengapa rasa ragu menerpanya lagi. seperti ada yang salah. Jujur … sebenarnya ia belum ingin menikah. Rasa trauma di hatinya masih saja terasa.
Lima menit sudah Kayla menatap surat dari Satria, hingga ia lupa jika hari ini buru-buru. Akhirnya, gadis itu segera melesat ke kamar mandi.
Tiga hari kemudian.
Kayla di rumah sendirian, termenung sambil rebahan. Sambil mengelus perutnya yang masih rata. Masih tak menyangka jika di dalam perutnya ada jabang bayi.
Bayangan masa lalu itu kembali muncul, ketika keluarganya hancur, dan ketika ia disakiti oleh orang yang ia cintai. Kayla mengepalkan tangannya. Mengingat sang mantan, perempuan itu selalu ingin marah. Rasa sakit di hatinya belum sembuh sepenuhnya, dan gara-gara Alfa, ia kehilangan bayinya.
"I hate him," lirihnya.
Air mata mengucur lagi.
"Aku kuat. Seberat apapun masalah, aku selalu bisa menyelesaikannya. Kejadian seperti ini sudah biasa. Kenapa aku harus nangis?" kata Kayla, menguatkan dirinya sendiri, ia mengelap air matanya yang mengucur deras.
“Kali ini mamah akan pertahankan kamu. Meskipun mamah gak cinta sama papah kamu. Karena … mamah gak mau kalau kamu ngerasain nasib seperti mamah, yang sampai sekarang gak tahu siapa ayah kandungnya,” kata Kayla sambil mengelus perutnya.
Di sela tangisnya, ia teringat jika dirinya belum mengunci pintu, alhasil ia bergegas turun dari kamar. Ia membuka pintu hanya untuk sekadar melihat suasana di luar. Ketika dirasa cukup, Kayla ingin menutup pintu kembali. Namun … tiba-tiba Kayla melihat ada motor berhenti di depan rumahnya. Perempuan itu menyipitkan kedua matanya karena merasa silau, ketika pandangannya sudah jelas, ia menatap siapa yang datang, dan ternyata adalah Satria. Kayla mengelap sisa air mata dan juga ingusnya, karena tak ingin Pacil melihat ia sedang bersedih. Satria turun dari motor, dan tersenyum kea rah Mamah gemoynya itu, ia datang membawa bingkisan kecil, yakni martabak manis rasa coklat ketan.
"Loh … katanya seminggu, baru tiga hari kok udah pulang?” tanya Kayla heran melihat kehadiran Satria.
“Surpraise,” jawab Satria.
Kayla hanya tersenyum canggung ketika mendengar jawaban Satria, dan itu membuat Satria merasa krik-krik.
Kayla mempersilahakan Satria untuk masuk.
“Mau minum apa?” tanya Kayla lesu.
“Air putih aja,” jawab Satria, dan Kayla bergegas ke dapur mengambil air putih. Tak butuh waktu lama, kini Kayla datang dan memberikan segelas air itu ke Satria.
“Makasih,” kata Satria. Kini Kayla duduk di samping Satria. Namun, tak seperti biasanya, perempuan itu terlihat murung.
Selama beberapa menit, suasana tetap krik-krik, akhirnya Satria memulai pembicaraan.
“Kok sepi, mbak? Pada ke mana?” tanya Satria.
“Pada pulang kampong,” jawab Kayla.
“Mbak kenapa?” tanya Satria.
“Gak papa,” jawab Kayla. Satria menangkup wajah Kayla, pemuda itu menatap calon istrinya. Ia baru ngeh, jika mata Kayla sembab, dan hidungnya merah. Pertanda Kayla sedang tidak baik-baik saja.
“Jujur … ada apa?” tanya Satria. Kayla melepaskan tangan Satria dari wajahnya, dan menjawab,”aku gak papa.”
“Cuma keinget yang dulu-dulu aja,” lanjutnya.
“Sekarang ada aku, Mbak. Jangan kenang masalalu,” ujar Satria.
“Terkadang teori lebih mudah dibandingkan dengan praktek,” jawab Kayla.
“Sakit hati yang aku alami bukan sekadar sakit lalu sembuh. Sebenarnya hati yang retak bisa memaafkan, tapi susah untuk melupa. Tapi … aku susah melakukan keduanya, karena aku gak bisa memaafkannya dengan mudah. Karena---“ ucapan Kayla terhenti.
“Karena apa?” Satria penasaran.
“Karena dia penghancur mental, dan dia penyebab bayiku meninggal,” lanjut Kayla dengan nada miris. Satria prihatin, dan juga terkejut karena ternyata Kayla pernah memiliki anak.
“Maaf, mbak. Sebelumnya mbak udah pernah punya anak?” tanya Satria hati-hati tak ingin membuat Kayla merasa tersinggung.
“Hampir … tapi keguguran,” jawab Kayla.
“Makanya, aku pingin banget pertahankan anak ini. Aku gak mau merasakan sakitnya ditinggalkan untuk kedua kalinya. Walaupun aku gak cinta sama kamu,” kata Kayla lagi, dengan air mata yang mulai membanjiri pipi. Satria sepontan menarik Kayla ke dalam pelukannya, dan perempuan itu tak menolak. Ingin rasanya Satria bertanya lebih dalam, tapi tak tega, karena Kayla terlihat sangat sedih ketika menceritakan masalalunya.
“Jangan nangis lagi. sekarang udah ada aku, Mbak. Aku akan ganti rasa sakit mbak dengan kebahagiaan. Aku janji,” ujar Satria sambil mengelus puncak kepala Kayla.
“Gak butuh janji, butuhnya bukti,” jawab Kayla di sela tangisannya.
“Iya … aku akan buktikan semuanya,” jawab Satria.
Setelah Kayla tenang. Satria menyuruh Kayla untuk mencicipi martabak yang sejak tadi di diamkan.
“Kasian nih. Martabaknya di kacangin,” ujar Satria, dan Kayla terkekeh.
Kayla menatap Satria dengan tatapan serius.
“Kamu ini anak kecil yang sok romantic, dan sok dewasa. Bisa-bisanya kamu ngehamilin aku,” ujar Kayla, dan itu membuat Satria merinding.
“Aku bukan sok dewasa, Mbak. Kan aku udah pernah bilang dewasa bukan melulu soal usia. Tapi … dilihat bagaimana cara orang itu menyikapi ketika ia sedang terkena masalah. Dan untuk soal sok romantis … aku emang kaya gini ke orang yang aku suka,” jawab Satria panjang lebar.
“Suka doang? Sayangnya enggak?” tanya Kayla menggoda.
“Sayang juga, dong. Kalau gak sayang ngapain aku ngehamilin Mamoy,” jawab Satria.
“Oh … kirain Cuma napsu.”
“Yaw ajar, sih. Aku ini laki-laki normal. Lihat cewek cantik, dan seksi kaya Mbak ya pinginnya nyikat,” jawab Satria jujur.
“Tapi … aku lebih sayang mbak, dari pada napsuku, sejak kita ketemu, dan mbak bantuin aku. Aku selalu kangen sama mbak, dan selalu pingin lihat mamah gemoy ku.”
“Alah gombal. Dasar tukang gombal.”
“Aku Cuma gombal sama orang yang aku suka,” jawab Satria, dan itu membuat Kayla gemas.
Apakah ini jawaban dari doaku Tuhan? Kau hadirkan pemuda ini ke hidup hamba, untuk memberikan kebahagiaan itu?