bagian 11 keraguan Kayla

1156 Kata
Satria terus mengetok pintu, memanggil Kayla. Sudah 2 jam lelaki itu ada di depan rumah Kayla. Namun, sang empunya enggan membuka pintu, dan tak mempersilahakan sang tamu untuk masuk. Kayla masa bodo, karena memang sedang tak ingin diganggu. "Mamoy sayang, tolong buka!" teriak Satria. Kayla yang sedang sibuk dengan pekerjaanya menjadi terganggu. Satria terlalu berisik. Akhirnya,Kayla memutuskan untuk membuka pintu. Satria tersenyum ketika gadis pujaannya nampak. "Kamu kenapa, sih?" tanya Satria. Kayla melipat tangannya di depan d**a. Tak mau melihat wajah Satria saat ini. Karena masih marah, sebab Satria tak mengangkat telponnya saat sedang butuh-butuhnya. "Kamu kenapa ke sini? Ganggu tau gak?" kata Kayla marah. "Kenapa Mbak yang marah? Harusnya kan aku!” "Lah kamu marah kenapa? Emangnya aku ada salah?" Satria mendesah pasrah. Lelaki itu terduduk lemas. "Kemarin itu siapa? Kenapa sampe peluk-pelukan? Mbak gak tau apa sakitnya aku kaya gimana?" lirih Lelaki itu. Kayla terpaku mendengar jawaban Satria. "Kenapa cemburu? Aneh banget.” “Wajar aku cemburu, Mamoy itu calon istri aku, calon ibu dari anak kita,” jawab Satria. Kini Kayla duduk di samping Satria, bersandar di pintu. Malas rasanya ketika melihat anak kecil ini merajuk, alhasil Kayla terpaksa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Sekadar untuk menenangkan hati bocil itu. Cerita keluar dari mulut Kayla, jika dulu Waluyo sangat terobsesi padanya, dan ingin sekali memiliki Kayla. Hingga segala cara Waluyo lakukan, karena hanya ingin mendapatkan Kayla. Namun, perempuan itu tak menceritakan tentang masalalunya  yang gagal menikah, karena ketika ia mengingat hal itu, sama saja ia mengingat luka lama yang selama bertahun-tahun ia usahakan untuk melupakan. “Jadi … sampai sekarang dia masih ngejar-ngejar, Mbak?” tanya Satria. “Ya seperti yang kamu lihat kemarin,” jawab Kayla. “Udah gak marah?” tanya Kayla, Satria menggeleng. “Pacil minta maaf ya. Udah mengabaikan telpon mamoy berkali-kali,” kata Satria sambil mengenggam tangan Kayla, namun perempuan itu melepaskan genggaman Satria. “kalau gak di ancam, gak ke sini kan lu?” tanya Kayla dengan nada sengak. “Ya gimana gak panic, mamoy bilang mau aborsi, kalau aku gak ke sini,” jawab Satria. “Aku bakal jagain Mbak, dan akan bahagiakan Mbak sampai kapanpun, karena Mbak adalah tanggung jawab aku sekarang,” kata Satria. Seketika Kayla terdiam, merasa kecewa. Kenapa? Karena teringat kejadian dulu, ketika dirinya keguguran. Kayla juga teringat ketika dulu, Alfa pernah bilang, akan menjaga, dan menemani dirinya sampai kapanpun, tapi buktinya, ia malah ditinggalkan dengan cara yang paling menyakitkan. Namun, Kayla langsung membuang jauh-jauh pikiran itu. Ia tak ingin meng-ingat-ingat kembali. "Aku boleh tanya sesuatu?’ tanya Kayla. “Boleh, tanya apa?” “Kamu pernah pacaran sebelumnya?” tanya Kayla. “Pernah.” “Putus?” “iya.” “Karena?” “Diselingkuhi,” jawab Satria. “Sakit?” “Biasa aja, karena aku gak mau ambil pusing sama orang yang gak serius, dan gak menghargai aku. Berati … itu jawaban tuhan, kalau dia gak baik buat aku,” jawab Satria. “Kalau mbak pasti banyak mantan ya?” tanya Satria, Kayla terkekeh. “Kamu serius mau nikahin aku?” tanya Kayla. “Serius.” “Kamu gak tahu latar belakang aku. Aku bukan orang baik-baik. Kita juga baru kenal. Kamu tahu sendiri, kan? Aku bukan perempuan kalem. Aku pernah dijamah, ditiduri, dan … aku mantan p*****r,” kata Kayla. “Semua orang yang tahu menganggap aku ini sampah,” lanjutnya. Satria membungkam mulut Kayla dengan jari telunjuknya. “sstt. Aku udah tahu, mbak,” kata Satria. “Maaf, ya. Bukannya aku lancang. Aku pernah baca buku diary, Mbak,” lanjutnya. “Hah? Kapan?” Kayla terkejut, karena ia sama sekali tak pernah menuliskan tentang dirinya ketika menjadi p*****r, namun Satria menjelaskan bahwa ia tahu masalalu Kayla dari foto Polaroid yang tertempel di buku diary Kayla yang bertulis tangan’meskipun gak halal, tapi aku bersyukur, karena masih bisa beli kuota, dan dempul muka’. “Aku terima mbak apa adanya.” “Aku gak peduli bagaimana latar belakang, dan masa lalu mbak. Ketika aku bilang mantap, berarti aku serius sama Mamoy,” ujar Satria. Kayla tersenyum kecut, kata-kata Satria sungguh mirip dengan kata-kata Alfa dulu. “Ah basi,” kata Kayla. “Satu lagi. dulu aku pernah hamper menikah, tapi gagal. Semenjak saat itu, aku jadi terlalu pemillih masalah jodoh. Eh … ini malah aku hamil sama kamu, lucu ya. Haha.” “Ya gimana, mbak. Udah takdir, ya ini aku orang yang terpilih, dari sekian banyaj orang yang terseleksi. Ngomong-ngomong, mbak gagal nikah sama si Glen yang kemarin jenguk Mbak Hana?” tanya Satria. “Bukan, lah.” “Terus siapa?” “Udah lah, jangan dibahas, aku lagi berusaha move on,” jawab Kayla, dan Satria mengangguk paham. “Kamu mau nginep di sini?” tanya Kayla. “Emang boleh?” Kayla menganguk. Satria menerima tawaran Kayla untuk menginap si rumahnya. Lelaki itu tidak menolaknya, malah senang, artinya  malam mini ia akan mendapat jatah mantap-mantap.Seutas senyum tercipta dari lelaki tampan itu, membayangkan ketika nanti sudah nikah dengan Kayla. Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar, Kayla memakai daster, dan Satria hanya memakai boxer. Satria menyuruh Kayla agar tidur di lengannya. "Tadinya aku mau ngejauhin kamu, dan mau milih Kak Aldo buat jadi pacar aku.” Kayla memulai topic pembahasan. “Kenapa?” “Kamu masih kecil. Masih muda, masa depanmu masih panjang,” jawab Kayla. “Umur bukan tolak ukur seseorang untuk menjadi dewasa,” jawab Satria, dan Kayla setuju. “Jujur, ya. Aku gak cinta sama kamu. Aku mau nikah sama kamu karena aku gak mau anak ini lahir tanpa ayah, aku juga gak mau kalau harus mengorbankan, dan menjebak orang lain agar bertanggung jawab.” “Kalau kita sering bareng, cinta itu bakal tumbuh.” Lagi-lagi jawaban Satria membuat Kayla takjub. Entah pelet apa yang sudah Satria beri, sehingga membuat seorang Kayla yang gengsian luluh, meskipun belum cinta. Kini posisi mereka saat ini saling berhadapan. Satria terus memandang wajah Kayla. "Kamu cantik," kata Satria. "Dari dulu aku cantik,” jawab Kayla bangga. Satria Memeluk tubuh perempuan itu, dan membelai wajah Kayla. Ia merasa Jatungnya seakan berdegub kencang tak karuan. Keringat dingin mengucur deras. Satria semakin mendekatkan wajahnya, terasa sangat embusan itu tepat di wajah Kayla. "Sat...." Belum selesai Kayla berbicara, pemuda itu sudah melumat bibir tipis perempua di sampingnya itu. Tangan Satria tak tinggal diam. Meremas gunung besar Kayla. Muka Kayla memerah, menahan malu karena dirinya tidak menggunakan BH. "Ah... Sat, aku susah napas," kata Kayla. Perempuan itu mendorong tubuh Satria. Satria semakin menerkam Kayla, dan menindihi gadis itu. Tangannya masuk ke dalam daster. “Jangan kasat-kasar, inget ada dedek di dalam perut,” kata Kayla. Dan … pertarungan panas segera dimulai. "Jangan ragukan aku ya, Mbak,” kata Satria di sela permainan mereka. "Aku berhak ragu, karena pernah percaya tapi dikecewakan,” jawab Kayla. “Aku gak akan mengecewakan.” “Kita lihat aja, sampai kapan kamu bertahan.” “Selamanya aku akan bertahan. Sampai  kapanpun,” kata Satria.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN