bagian 10 gara-gara bakso beranak

1310 Kata
"Kamu gak boleh capek-capek! Ingat anak kita ada di dalam perut kamu," kata Satria mengingatkan Kayla Yang tengah sibuk berkutat pada laptop. Kayla sangat risih, karena baginya ... Laki-laki yang duduk di sampingnya itu penganggu. Padahal ia hanya duduk, tak melakukan aktivitas apapun. "Gak usah lebay, deh. Aku gak papa. Lagian ini pekerjaan kecil," jawab Kayla malas. Sumpah! Ia sangat menyesal, harusnya kejadian ini tak terjadi padanya. Tapi kenapa ia begitu ceroboh, dan sulis mengontrol hawa napsu. Karena berhadapan dengan Satria adalah ujian Terberat yang tak bisa ia tahan. Karena, Kayla tak tahu, jika ia dijebak oleh Satria. "Bukannya aku lebay Mbak sayang. Aku cuma gak mau, kamu dan calon bayi kita kenapa-kenapa," ujar Satria, dan berhasil membuat Kayla tambah kesal. "Udah, deh. Kalo kamu cuma mau ganggu aku mending keluar aja dari sini." "Iya ... Iya aku minta maaf, jangan marah-marah dong. Nanti kalau kamu kena kolestrol gimana? Kasian bayi kita Sayangku," jawab Satria. Sumpah! Kayla jengkel bin gedhek. Sudah berani bocah baru gede itu memanggilnya sayang. "Emang kamu gak kerja? Kok di sini terus?" tanya Kayla iseng-iseng. Karena memang Satria terlihat jarang masuk kerja akhir-akhir ini. "Aku ijin, Mbak." "Ijin? Buat apa?" "Ya buat jagain mbak, dan calon anak kita," jawab Satria. Kayla memutarkan bola matanya, dan berkata,"katanya mau nikahin aku, kok kerja aja males-malesan. La terus ... nanti nafkahin akunya gimana?" Satria menggaruk tengkuknya tak gatal, ketika mendengar perkataan Kayla. Pemuda itu salah tingkah, dan merasa tersindir. "Ya gimana lagi, aku kan cemas sama Mbak," jawabnya. "Buat apa cemas? Aku bisa jaga diri sendiri." "Ya udah lah. Gak usah bahas! Cepet buruan kerjaan mbak di selesaikan, habis ini kita bahas masalah pernikahan kita," kata Satria. Dalam hati, Kayla berkata,"dih ... Siapa juga yang mulai ngebahas. Males banget gue." Kayla mencari cara, agar Satria enyah dari hadapannya. Seketika ... Ide cemerlang terlintas dalam pikirannya. "Sat," panggil Kayla, dan membuat Satria menoleh ke arahnya. "Kenapa, Mbak?" "Kayaknya aku ngidam," jawab Kayla. Satria antusias, ketika mendengar bahwa Kayla ngidam. Inilah yang Satria tunggu, ngidam pertama dari seorang yang ia taksir. "Apa, mbak? Cepet bilang?" Kayla nampak berpikir, kemudian menjawab,"Aku pingin makan bakso beranak, tapi yang anaknya ada tujuh." "Hah? Jangan yang susah-susah, dong," jawab Satria agak keberatan. Kayla mulai dengan jurusnya, ketika Satria menolak. Yaitu, merajuk, dan bibirnya dimonyongkan 5 centi. "Ya udah. Kalau gak mau! Gak usah," jawab Kayla dengan nada marah. Ia pura-pura ngambek. Satria yang melihat Kayla seperti itu menjadi gemas, dan tak bisa menolak. "Ya udah, iya. Aku cariin. Tapi jangan ngambek ya," kata Satria. Seketika membuat Kayla tersenyum kembali. "Harus dapat!" "Iya." "Yang anaknya ada tujuh! Gak boleh kurang, gak boleh lebih," kata Kayla lagi. "Iya, Mamoy," jawab Satria. "Apa itu mamoy?" "Mama gemoy," jawab Satria. "Makasih Pacil," kata Kayla. "Kok pacil?" "Papa Kecil." Satria mengacungkan jari jempolnya sambil tertawa, dan segera melesat pergi. Mencari bakso beranak yang anaknya ada tujuh. Ketika Satria enyah dari hadapannya. Kayla bersorak girang. ***** Cuaca hari ini sangat tidak bersahabat. Panas menusuk kulit. Satria melirik ke sana kemari, sambil menaiki motor. Semua ia lakukan, demi seorang Kayla yang sedang ngidam. "Duh ... Dari tadi gue gak liat tukang bakso." Satria masih tak menyerah. Sudah 10 menit ia menelusuri jalanan. Tak ada ia jumpai penjual bakso. "Bisa ngamuk mamoy gue," ujar Satria. "Coba, deh. Gue cari lagi ke arah sana," katanya lagi. Setelah keliling ke sana -ke mari, akhirnya. Akang bakso ia lihat. "Akhirnya." Satria menghampiri tukang bakso itu. Semoga, Dewi Fortuna hari ini berpihak padanya. "Mang. Ada bakso beranak gak? Yang anaknya ada tujuh?" tanya Satria ke Mang bakso itu. "Di sini gak ada bakso beranak, Mas," jawab Mang bakso itu. Seketika membuat Satria lemas. "Duh ... Masa gak ada sih, Mang? Istri saya lagi ngidam, nih," ujar Satria. "Serius, Mas. Kita gak bikin bakso beranak." "Hm ... Ya udah, lah. Makasih ya Mang." Akhirnya, pemuda itu memutuskan untuk mencari lagi. Tak butuh waktu lama. Akhirnya, ia menemukan bakul bakso. Pemuda itu membaca sepanduk yang terpasang di warung itu. "Bakso beranak," lirihnya. Sambil tersenyum. Akhirnya, turunlah dia dari motor, dan segera melesat ke warung itu. "Bakso beranaknya masih ada gak, Mas?" "Masih, Mas. Mau berapa?" tanya Si penjual. "Satu aja. Tapi yang anaknya ada tujuh," kata Satria, membuat si penjual bingung. "Maksudnya, yang isi baksonya ada tujuh bakso kecil-kecil?" tanya Si penjual. Satria mengangguk. "Buat istri saya, Mas. Lagi ngidam. Katanya pengen bakso beranak yang isinya tujuh, gak boleh kurang, dan gak boleh lebih," kata Satria menjelaskan. "Kayaknya isinya lebih dari tujuh, mas. Gimana? Kalau misal di potong dulu? Terus isinya dikurangi. Mau gak?" tanya si Penjual. Satria nampak berpikir. "Saya bilang ke istri saya dulu, Mas." Satria mengambil gawainya, dan segera menelpon Kayla. "Halo ... Mamoy." "Kenapa?" "Kalau misal baksonya di potong dulu, terus isinya dikurangin biar bisa pas tujuh gimana?" tanya Satria. "GAK MAU! AKU MAUNYA BAKSO YANG UTUH, GAK MAU POTONG-POTONGAN! TITIK!" kata Kayla di sebrang sana dengan suara nyaring, sepontan membuat Satria menjauhkan gawainya dari kuping. "Iya, Mamoy iya. Tunggu, ya. Abangnya biar bikin baksonya. Jangan marah-marang, ingat! Kolestrol mempengaruhi janin," ujar Satria sok tahu, dan sambungan telepon di putus sepihak oleh Mamoy, alias Kayla. "Mas ... Mohon maaf banget, istri saya maunya bakso utuh. Kalau saya minta tolong dibikinkan bakso beranak yang anaknya ada tujuh gimana? Saya bayar lebih gak papa, deh. Plis! Demi istri saya yang lagi ngidam. Kasian nanti anak saya, kalau ngiler gimana?" Satria memohon dengan wajah memelas. Awalnya Tukang bakso itu tidak mau menuruti Satria, tapi dengan paksaan Satria, akhirnya Si tukang bakso itu mau membuatkan bakso beranak yang anaknya ada tujuh. Setengah jam Satria menunggu, akhirnya bakso beranak sudah jadi. "Berapa, mas?" tanya Satria. "Lima puluh ribu aja," jawab tukang bakso itu. Namun, Satria memberikan lembaran uang berwarna merah muda ke Tukang bakso itu. "Ambil semuanya ya, Mas. Makasih loh, semoga istri saya gak ngamuk," kata Satria. "Sama-sama, Mas. Semoga nanti pas lahir, anaknya gak ileran ya, dan jadi pengusaha bakso sukses," jawab tukang bakso itu, membuat Satria terkekeh. Setelah mendapatkan bakso keinginan Kayla, akhirnya Satria bergegas pulang. Semoga Mamoy-nya suka, dan gak ngambekan lagi. Beberapa menit kemudian. Satria telah sampai di kantor Kayla. Pemuda itu mengreyit ketika ada mobil sport yang parkir di halaman butik Kayla. "Mobil siapa, ni?" Tapi Satria tak ambil pusing, ia berpikir mungkin saja itu mobil tamu Kayla. Ketika Satria ingin masuk ke ruangan Kayla, tiba-tiba Fitri mencegahnya. "Kenapa?" "Jangan masuk dulu. Sini bantuin gue," kata Fitri menarik paksa Satria. "Entar dulu, aku mau kasih ini ke Mamoy," kata Satria melepaskan cekalan Fitri. "Nan-ti---" ucapan Fitri terjeda karena sudah tak bisa menahan Satria untuk tidak ke ruangan Kayla. "Duh ... Bandel banget si itu abg," lanjutnya. Satria tersenyum, membayangkan bagaimana ekspreksi wajah Kayla ketika tahu, bahwa Satria berhasil membawa makanan yang ia inginkan. Tapi ... "Mamoy," kata Satria terkejut, ketika melihat Kayla sedang berpelukan dengan seorang laki-laki. Dan itu membuat Kayla sekaligus laki-laki itu terkejut, dan melepaskan pelukannya. "Tega kamu, Mbak," kata Satria kemudian meninggalkan Kayla. Tapi ... Ia balik lagi, karena lupa sesuatu. "Ini baksonya. Seperti yang mbak mau. BAKSO BERANAK YANG ANAKNYA ADA TUJUH," kata Satria kemudian pergi lagi. Kayla merasa tak enak dengan Satria, dan menatap sinis ke laki-laki yang tadi memeluknya. "Ini semua karena, Om! Udah gue bilang gak usah datang lagi ke kehidupan gue! Gue udah jijik, eneg, dan pengen bunuh lu!" kata Kayla. "Om kangen sama kamu." "Waluyo bin Lahab! Bisa keluar sekarang?! GUE GAK MAU DI GANGGU!" Kayla menjerit sekencang-kencangnya, hingga terdengar di telinga Riza, dan Fitri. "Oke... Om bakal pergi! Tapi inget, ya. Om bakal ke sini lagi." "Bodo amat!" Yeah, akhirnya Om-om m***m bernama Waluyo itu pergi. Kayla bernapas lega. Tapi juga merasa bersalah, pasti Satria salah paham. "Duh ... Ngambek tuh pasti bocah," kata Kayla. "Eh ... Tapi kalau dipikir-pikir, biarin aja dia ngambek. Jadi kan, gue bisa tenang gak ada yang gangguin," katanya lagi. "Ah ... Mendingan gue makan bakso aja, deh." ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN