bagian 4 (Kencan yang gagal)

2172 Kata
“Asli, deh. Gue sebel banget layanin tamu satu ini,” omel Fitri. Riza hanya mendengarkan gadis itu nyerocos agar hatinya tak mbedegel. Karena percuma, jika Riza menyauti pasti Riza juga akan kena semprot. “Mau nikah ribet amat. Yang nikah siapa, yang repot siapa. Udah gitu, mau yang riweh-riweh lagi, jadi bikin males,” lanjutnya. Kali ini Riza menghela napas, dan berkata,”Udah lah, ini kan juga pekerjaan kita, sabar aja. Lagi pula gaji lu kan sepadan sama kemumetan otak lu.” “Bodo amat, dah. Gue mau laporan dulu sama bos,” jawab Fitri kemudian meninggalkan Riza. Ketika ingin mengetuk pintu, ternyata Kayla sedang marah-marah, Fitri mendengar itu. Akhirnya, mengurungkan niatnya untuk tak menganggu Kayla terlebih dulu. “Kok cepet amat?” tanya Riza. “Si Bos lagi marah-marah, makanya gue gak jadi temuin dia. Takut ganggu, dan takut kena semprot,” jawab Fitri. Di lain sisi. Ia bersusah payah untuk menetralkan rasa kesalnya terhadap Waluyo. Setelah berhasil membuat dirinya hancur, kini dengan percaya diri terus mengejarnya. Kayla terduduk, tapi kemudian menangis, ia teringat masa-masa dulu, masa pada saat dirinya hancur-sehancurnya. “Why? di saat gue udah mau melupakan, mereka para masalalu datang lagi?” lirihnya. Sejak kejadian beberapa tahun lalu, Kayla menjadi amat sangat membenci Waluyo. Karena ulah laki-laki itu, hidupnya hancur. Andai saja Waluyo tak ikut campur tentang masalah hidupnya, ia pasti sudah bahagia bersama Alfa, dan ia tak akan kehilangan calon anaknya. Kayla melihat dirinya di pantulan cermin, perempuan itu mengusap air matanya, dan menguatkan diri. “Lu harus kuat, Kay. Lu bukan perempuan lemah!” katanya. Tak lama kemudian, Fitri datang lagi. “Kay, maaf. Bukannya mau ganggu, tapi di luar ada Glen,” kata Fitri, Kayla menghela napas. “Mau apa lagi, sih dia?” tanya Kayla, Fitri menggeleng. Akhirnya, Kayla bergegas untuk menemui Glen. Terlihat dari kejauhan, Glen sedang duduk sambil memegang pelipisnya. “Mau ngapain lu?” tanya Kayla. Glen menatap wajah Kayla dengan cemberut, seketika itu juga membuat Kayla bingung. “Lu gimana, sih? Katanya cewek yang lu kenalin cantik, nyatanya nggak, Cuma menang filter, dan cantik di foto doang,” ujar Glen kesal. Kayla yang tadinya badmood jadi tertawa, dan duduk di samping Glen. “Lu maunya yang kaya gimana, sih?” “Cantik, tajir, putih, bening baik, pengertian,” jawab Glen. Kayla menggeleng, mantannya yang satu ini benar-benar gak tahu diri. “Lu ngaca, dong. Muka kaya babi aja minta cewe yang speknya kaya bidadari,” jawab Kayla. Glen tambah cemberut. “Anjir, lu. Kalau ngomong nyakitin banget. Ya udah lah, kalau gitu gue mau kita balikan. Gak usah jodoh-jodohin gue sama orang lain, gue Cuma mau lu,” jawab Glen, Kayla begidik ngeri, dan menggelengkan kepalanya. “Ogah!” tolak Kayla mentah-mentah kemudian pergi meninggalkan Glen. Fitri mengambil kesempatan itu, dan mencoba untuk mendekati Glen. “Mendingan sama gue aja, Glen. Gue jomblo, loh,” tawar Fitri. Glen melirik. “Lu mau?” tanya Glen, Fitri mengangguk. “Jadi babu gue?” lanjutnya. Fitri yang tadinya tersenyum langsung mingkem, Glen memang kurang ajar, tapi bagaimanapun ia juga sangat berguna bagi hidup Kaylam, karena Glen saat ini menjadi WO kebanggan Kayla setelah Riza, dan Fitri. Tapi, semenjak kejadian beberapa tahun lalu, cukup menyadarkan Glen, bahwa memaksa akan memperkeruh suasana. Saat ini hidup Glen jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Meskipun masih suka mengejar, dan merayu Kayla, ia tak menggunakan cara kasar, dan curang, ia biarkan mengalir, dengan cara memberikan perhatian kecil untuk Kayla, meskipun Kayla tak pernah menghargainya, dan hanya menganggap dirinya sebagai bulu hidung yang terbang. Tapi, dengan perubahan Glen yang sekarang, cukup membuat Kayla terhibur karena tingkah laki-laki itu. Glen yang sekarang cenderung lebih humoris, dan lebih bersabar ketika menghadapi segala ujian. **** Terlihat tegar di luar, tapi hancur di dalam. Itu adalah gambaran hidup Kayla saat ini. Namun, ia selalu berterimakasih pada Tuhan, dan juga tubuhnya, karena sudah kuat dalam menghadapi setiap cobaan yang telah menimpanya. Kadang masih tak habis pikir, jika dirinya kini hanya hidup sendiri. Kayla mengelus perutnya, ia masih merasa sedih ketika kehilangan calon buah cintanya, andai saja ia bisa menjaga pasti bayinya akan lahir ke Dunia. Namun, Kayla berpikir lagi, jika ini semua adalah salah Alfa, dialah yang telah membunuh calon anaknya. “Kenapa dia bisa setega itu ke gue?” tanya Kayla pada dirinya sendiri. Ia teringat dengan perkataan Alfa dulu, jika ia akan menerima Kayla seburuk apapun, Alfa tak akan mempermasalahkan. “Bulshit, omong kosong semuanya. Buktinya lu ninggalin gue,” katanya lagi. Kepercayaan yang sudah dihancurkan, dan hati yang pernah disakiti, cukup membuat hati Kayla mati rasa, bahkan untuk mempercayai, dan menerima laki-lakipiun ia harus berpikir dua kali, karena hatinya seperti mati rasa. Bagi Kayla, berharap pada seseorang adalah kebodohan. Selagi masih bisa sendiri, tak perlu repot-repot meminta seseorang untuk membahagiakan diri sendiri. “Berharap dibahagiakan seseorang itu … ibarat menyapu daun gugur, saat masih ada angin. Percuma!” Kata-kata itu yang selalu terpatri di otak Kayla. Kayla yang sekarang adalah Kayla yang kuat dari sebelumnya, karena ia sudah terlatih jatuh, dan patah hati. Ketika sedang asik melamun, tiba-tiba Riza datang dengan hebohnya, dan berhasil membuat Kayla terkejut. “Bangke! Apa-apaan sih, Za!” ujar Kayla kesal, sedangkan Riza nyengir. “Ada bocah, nyariin elu,” kata Riza. “Hah? Siapa?” Kayla terkejut. “Udah, deh. Sekarang lu turun aja,” kata Riza kemudian keluar dari ruagn Kayla. Kayla yang terlihat sembab karena habis menangis langsung mengaca untuk melihat kondisi dirinya saat ini. Ia tak ingin orang lain tahu dengan kesedihannya. Setelah dirasa cukup, akhirnya Kayla memutuskan untuk keluar dari ruangannya. Di ruang tamu. Terlihat pemuda berkaos oblong berwarna putih, dan menggunakan celana jeans tengah duduk sambil memainkan gawai. Kayla tahu, siapa pemuda itu. “Satria,” panggil Kayla membuat sang empunya nama menoleh. Pemuda itu langsung berdiri, menaruh ponselnya di saku celana. “Hai, Mbak,” sapa Satria. Kayla tersenyum, dan menyuruh Satria duduk lagi. “Ada apa, nih?” tanya Kayla. Satria cengir-cengir sendiri, dan juga salah tingkah. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kayla yang melihat Satria bingung sendiri. “Ada apa?” tanya Kayla. “Em … gini, Mbak. Anu … aku mau ngajak Mbak keluar,” kata Satria malu-malu, ia berharap Kayla mau. “Ke mana emang?” “Malam ini aku ada jadwal manggung, nah … aku mau ngajak mbak. Mbak mau kan?” tanya Satria masih ragu. “Manggung?” “Iya, di cafe. Mbak mau, kan?” tanya Satria. Kayla Nampak berpikir. Ingin menolak, tapi tak enak. “Duh … gimana, ya. Hari ini kerjaan aku banyak. Next time aja kali, ya,” tolak Kayla halus. Satria dengan wajah lesu menjawab,”ini kan malam minggu, masa kerja mulu. Sekali-kali refresh tu otak.” Kayla menatap Satria sinis, sambil mencubit lengan pemuda itu. “Kerjaan aku lebih penting. Dari pada malam mingguan gak jelas,” jawab Kayla. Satria semakin ragu mengajak Kayla. Ketika gadis itu menolaknya. Dengan sisa usaha kepedeannnya, pemuda 20 tahun itu berusaha untuk merayu Kayla. “Plis, dong. Temenin aku, baru pertama kali nih manggung. Lagi pula, bukan keluar malam yang gimana-gimana, kok. Ini jelas, loh. Kan sama aku,” kata Satria. Kayla memutarkan bola matanya, bocah tengil ini bisa aja ngerayunya. Dengan terpaksa akhirnya Kayla menjawab,”ya udah, aku mau ganti baju dulu.” Kayla dengan malas langsung masuk ke ruangannya. Untuk ia selalu membawa baju cadangan. Beberapa menit kemudian. “Mpok, lu cantik bener, dah,” kata Riza saat melihat Kayla menggunakan baju style abg. Celana jeans, dan mengenakan kemeja. Make up Kayla juga terlihat natural seperti gadis yang berusia 19 tahun. Satria sampai terpesona, melihat Kayla, matannya sampai tak berkedip, mulutnya menganga. “Yok, berangkat,” ajak Kayla sambil membenarkan tas selempangnya, tapi Satria malah masih melongo menatap Kayla. Riza, dan Fitri saling senggol melihat gelagat Satria, pergibahan akan segera dimulai. “Liat, noh. Naksir tuh bocah sama Kayla,” kata Fitri. “Ho.oh. Dari gelagatnya udah kelihatan,” jawab Riza. “Za, Fit. Gue keluar dulu. nanti kalau gue kemalaman, lu berdua pulang duluan aja. Gue bawa kunci cadangan,” kata Kayla. “Siap, bos,” jawab Riza, dan Fitri kompak. Fitri dengan sifat julidnya mulai memfoto Kayla, dan Satria yang akan pergi. “Hana harus lihat ini. Ini momen langka, loh. Seorang bocil berhasil ngerayu Kayla, dan baru kenal lagi,” ujar Fitri, kemudian mengirimkan foto Kayla, dan Satria ke Hana. **** Di cafe. Kayla duduk sambil meminum kopi yang ia pesan, sambil sesekali melirik Satria yang sedang manggung, bersama ke dua temannya. Mata Kayla mulai berkaca-kaca ketika Satria menyanyikan lagu Vegetoz, dengan judul Saat Kau Pergi. Kayla mengelap air matanya menggunakan tangan. Entah mengapa, hatinya jadi mellow ketika mendengarkan lagu itu, seakan menggambarkan masalah percintaanya yang gagal. Ia jadi teringat dengan Alfa, ketika meninggalkannya. “Duh … sakit banget d**a gue,” katanya sambil menekan-nekan dadanya. Satria melihat Kayla yang terlihat aneh. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya selesai sudah Satria manggung, pemuda itu langsung menghampiri Kayla, disusul kedua temannya. “Hay,” sapa Satria. “Udah selesai?” tanya Kayla tanpa membalas pertanyaan Satria. Oji duduk di samping Satria. Oji ini adalah teman kerja Satria, mereka berdua memiliki hobby yang sama di dunia music. Alhasil, Oji, dan Satria memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan. Manggung ketika diundang untuk mengisi acara, atau menyanyi di cafe. Oji menatap Kayla dari atas sampai bawah, jujur ia menggagumi kecantikan Kayla yang alami. Perempuan itu masih terlihat seperti gadis berusia belasan tahun. “Sat, ini mbak-mbak yang lu certain kemarin?” tanya Oji, Satria mendelik menatap Oji, seolah mengisyaratkan agar Oji tak kepo, dan membeberkan semua curhatan Satria ke Kayla. Bisa malu nanti dia. Seakan mengerti, akhirnya Oji terdiam sejenak, kemudian menatap Kayla lagi. “Hay, Mbak. Kenalin aku Oji, teman Satria,” kata Oji sambil menjabat tangan, Kayla membalasnya. “Kayla,” jawab Kayla. Melihat Oji genit ke Kayla, Satria langsung menarik tangan Oji. “Kalau aku Hendra, Mbak cantik,” ujar salah satu teman Satria lagi yang duduk di samping Oji. Kayla dengan senang hati menerima jabatan tangan Hendra. Satria kesal, melihat tingkah temannya yang sok kegatelan itu, ketika di depannya disuguhi cewek cantik. “Udah, gak usah lama-lama! Mendingan kalian pergi sono,” ujar Satria dengan sarkas. Akhirnya membuat kedua temannya itu cemberut, dan mau tak mau harus pindah posisi. “Iya, deh iya. Yang lagi PDKT mah gak bisa diganggu. Ya udah, yok. Kita pergi aja, Hen,” kata Oji sambil menyindir Satria. Sedangkan pemuda yang bernama Satria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa salah tingkah karena sindiran Oji. Selama beberapa menit setelah Oji, dan Hendra pergi. Kini hanya tersisa Kayla, dan Satria. Dua manusia berbeda jenis kelamin itu terdiam. Satria yang diam karena bingung mau berbicara apa. Sedangkan Kayla yang dingin, seperti tak ingin membuka pembicaraan, dan malah asik memainkan gawainya sendiri. “Mbak,” panggil Satria. Namun, Kayla masih focus pada gawainya. “Sayang,” panggil Satria iseng, dan sepontan membuat Kayla menatapnya. “Apa tadi? Sayang?” tanya Kayla. Satria salah tingkah lagi. “Lah habisnya, Mbak aku panggil gak nyautin,” jawab Satria. “Oh … sorry. Iya ada apa?” “Menurut, Mbak. Penampilan aku gimana?” tanya Satria. “Bagus, kok. Keren,” jawab Kayla. “Makasih. Aku mau tanya, dong. Tadi aku liat Mbak kaya nangis, dan nepuk-nepuk d**a. Kenapa, Mbak?” pertanyaan Satria membuat Kayla terdiam, bingung harus menjawab apa. Jujur saja ia sudah tak ingin, jika mengingat masalalu, karena terlalu sakit ketika mengingatnya. “I—itu, karena … terlalu menghayati aja mungkin,” jawab Kayla berbohong. “Ah … masa, sih. Ngomong-ngomong, pacar mbak marah gak? Kalau aku ngajak mbak jalan?” tanya Satria khas menggunakan bahasa Kadal, bin Buaya. “Aku gak punya pacar,” jawab Kayla masih santai. Satria yang mendengarnya merasa senang. “Wah … kebetulan banget, aku juga belum punya pacar,” jawab Satria. “Kamu pengen punya pacar?” tanya Kayla iseng, Satria mengangguk. “Aku saranin, ya. Seumuran kamu itu mending gak usah mikir pacar dulu. focus ke masa depan, dan gapai cita-cita kamu,” tutur Kayla. Namun, Satria tak setuju dengan perkataan Kayla. “Punya pacar kan buat nambah semangat, Mbak,” jawab Satria tak mau kalah. Kayla tersenyum mendengar jawaban Satria. “Pacaran buang-buang waktu!” “Kata siapa? Justru pacaran itu kan buat seleksi jodoh. Dia baik atau buruk buat kita,” ujar Satria tak ingin kalah argument. “Kalau mau serius mah langsung datang ke orang tuanya, nikahin secepetnya. Pacaran? Nyampe dua atau tiga tahunan. Kalau gak cocok kan putus ujung-ujungnya. Buang-buang waktu kan? Kalau nikahkan niatnya baik, pasti nanti juga Tuhan kamu kasih yang baik,” jawab Kayla santai, namun Satria berhasil tersindir. “Ya iya, sih. Tapi, kan---“ “Udah lah. Pulang yuk, udah malam,” ajak Kayla. Satria belum meng-iyakan tapi Kayla sudah nyelonong begitu saja. Akhirnya terpaksa, pemuda itu mengikuti Kayla. Padahal dia ingin berduaan lebih lama, namun apalah daya. dia hanyalah seorang bocah, yang sepertinya mencintai embak-embak. Dalam hati Satria berkata,”Oh … ternyata maunya dinikahi, to. Gak mau dipacarin dulu.” ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN