“Cowok model gimana lagi, sih? Yang mau kalian comblangin ke gue?” tanya Kayla kesal.
“Udah, deh. Lu itu nurut aja sama kita. Pasti kali ini lu gak akan kecewa,” kata Hana, Fitri mengangguk.
“Lu pasti suka, deh,” timpal Fitri. Sedangkan Kayla malas menjawab, karena menolakpun ia percuma. Hana, akan melakukan seribu satu cara untuk meluluhkan hati Kayla. Kadang Kayla berpikir, ia seperti perempuan yang tak laku. Padahal, kalau dia niat pasti sperempuan yang tak laku. Padahal, kalau dia niat pasti sperempuan yang tak laku. Padahal, kalau dia niat pasti sekarang sudah menikah. Tanpa menunggu lama, dan tanpa pacar-pacaran.
“Jujur ya. Gue itu sebel kalo kalian mulai jodoh-jodohin gue sama cowok. Kesannya gue itu jelek banget,” kata Kayla.
“Udah, gak usah bawel! Mending sekarang lu keluar, si Anton udah nungguin di ruang tamu,” kata Hana. Sambil menarik tangan Kayla agar gadis itu berdiri.
Kayla mendelik kesal, ketika tahu bahwa Hana, dan Fitri member tahu rumahnya.
“Kenapa lu undang ke sini? Gue pikir nanti ketemuan aja di luar. Ih, gila banget sih lu!” Kayla jengkel, dan kembali duduk.
Fitri nyengir kuda ketika melihat Bos, sekaligus sahabatnya itu cemberut. Berbeda dengan Hana, wanita yang tengah berbadan dua itu melipat kedua tangannya di depan d**a. Dengan raut wajah tak kalah sengit dari Kayla, Hana menatap sahabatnya itu tajam.
“APA?” tanya Kayla nyolot.
“Lu bisa nurut, gak?” kata Hana tak kalah nyolot. Fitri yang menyaksikan kedua perempuan yang akan beradu mulut itu kebingungan untuk melerainya.
“Lagian lu ngeselin! Ngapain pake ngundang dia ke rumah gue segala. Bikin males aja. Gue itu ogah, kaya yang dulu-dulu. udah gue tolak tetep aja ke rumah gue. Risih tau gak?!” ujar Kayla panjang lebar.
“Ya udah, sih. Kalau lu gak mau mah,” kata Hana. Wanita itu cemberut, dan duduk di kasur Kayla. Hana menatap Kayla tajam, tapi berkaca-kaca.
“Duh … mulai, deh,” lirih Fitri kebingungan, ia sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Seperti biasa, jika Hana sudah merajuk seperti itu, mau tak mau Kayla harus mau. Karen jika Hana sudah seperti itu, artinya perintah tidak akan bisa terbantahkan. Jika Kayla tak nurut maka Hana akan mengadu ke Alvin, dan Alvin akan memarahi Kayla dengan segala cerocosannya, hingga membuat kuping Kayla sumeng.
“Oke! Gue jabanin. Tapi inget, ini terakhir kalinya, ya? Kalau gak cocok, gue gak sudi dijodoh-jodohin lagi,” kata Kayla, sepontan membuat Hana langsung tersenyum kembali.
Dengan setengah hati, Kayla berjalan dengan malas, raut wajahnya berubah jadi judes. Hana sumpringah, sedangkan Fitri terus menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Yang sabar ya, bos,” kata Fitri, Kayla melirik Fitri sinis.
Di ruang tamu, Nampak seorang laki-laki berkemeja biru laut sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Laki-laki itu terlihat keren, maskulin, dan bersih.
Dengan senyum terpaksa, Kayla mencoba untuk menyapa laki-laki bernama Aldo itu.
“Hay,” sapa Kayla. Aldo yang masih memainkan gawainya langsung melihat kearah Kayla. Kayla tersentak ketika melihat laki-laki itu. Ternyata Aldo adalah kakak kelas Kayla dulu, yang sempat naksir dirinya, namun selalu Kayla tolak.
“Loh! Kok kakak, sih?” tanya Kayla heran, dan terkejut.
Aldo berdiri, dan tersenyum. Kemudian menarik tangan Kayla agar duduk. Fitri, dan Hana saling melirik, dan mengacungkan jempolnya.
“Ya udah, Kak. Aku tinggal ke belakang dulu, ya,” kata Hana mohon pamit.
“Selamat bersenang-senang,” timpal Fitri.
“Ih … sialan. Temen b*****t emang,” lirih Kayla tak terdengar oleh Aldo.
“Mau makan di mana?” tanya Aldo.
“Terserah,” jawab Kayla khas perempuan ketika di tanya sesuatu. Akhirnya, Aldo memutuskan untuk mengajak Kayla ke coffe shop.
Beberapa menit kemudian.
Kayla, dan Aldo telah sampai. Lelaki menawarkan Kayla untuk memesan menu. Setelah memesan menu. Kini Kayla berkutat pada gawainya. Sedangkan Aldo memandang wajah Kayla, yang kini bertambah cantik.
“Kamu sekarang udah berubah, ya. Yang gak berubah Cuma sifat juteknya,” kata Aldo memecahkan keheningan. Sepontan membuat Kayla menghentikan aktivitasnya bermain gawai.
“Hahaha … masa, sih. Perasaan aku biasa aja, deh.”
“Kamu tambah cantik,” kata Aldo. Kayla hanya menanggapinya dengan senyuman.
Setelah beberapa menit berlalu, makanan telah siap. Waiters menghidangkan makanan pesanan Kayla, dan Aldo.
Di sela dinner mereka, tiba-tiba Kayla mendengar lagu ‘akhir tak bahagia’. Ada satu lirik yang membuat Kayla menghentikan aktivitasnya. Dipertemukan semesta walau berakhir tak bahagia. Sangat dengan masalalu Kayla yang menyakitkan. Berharap ia sudah menemukan tambatan hati yang pas, namun ternyata ia berlabuh pada hati yang salah. Hingga akhirnya, ia terjerumus dalam lubang derita yang menyakitkan.
Aldo memerhatikan raut wajah Kayla yang berubah menjadi sedih. Aldo jadi teringat tentang masalalu yang pernah Kayla alami pasca gagal menikah. Aldo juga turut ikut prihatin, masalah yang pernah Kayla alami bukanlah masalah sepele, yang dengan cepat bisa terlupakan begitu saja.
“Kamu kenapa, Kay?” tanya Aldo, ketika melihat Kayla yang sedang menyeka air matanya.
Kayla menggeleng lemah, sambil tersenyum. Seraya menjawab,”gak papa, kok. Cuma keinget yang sedih-sedih aja.”
Aldo mengusap air mata Kayla. Namun, Kayla segera menepis tangan Aldo.
“Kamu masih belum move on?” tanya Aldo hati-hati, karena tak ingin membuat Kayla tersinggung, dan sakit hati.
“Jangan bahas itu, Kak. Aku masih mencoba melupakan rasa sakit itu. Meskipun sulit,” jawab Kayla.
“Maaf. Bukan maksudku untuk membuka luka lama kamu. Tapi, Kay. Kamu harus segera bangkit, kamu berhak bahagia,” ujar Aldo.
Kayla tersenyum kecut, ketika mendengar kata bahagia.
“Aku udah bahagia,” jawab Kayla.
“Bohong.”
“Kok bohong? Serius lah. Buktinya aku menikmati hidupku yang sekarang,” jawab Kayla dengan senyuman.
“Senyuman kamu hanya topeng. Padahal hati kamu masih terluka,” timpal Aldo.
“Gak usah sok tau.” Kayla mulai memakan makanannya kembali. Tak ingin jika Aldo semakin membahas masalalunya yang menyakitkan itu.
“Aku siap jadi obat penawar untuk kamu. Kalau kamu bersedia jadi pasangan aku, gak akan ada lagi air mata kesedihan, yang ada hanya air mata bahagia. Kamu tau kan? Betapa sukanya aku ke kamu? Dari dulu, hingga sekarang gak berubah,” ujar Aldo panjang lebar.
Kayla menggeleng. Perempuan itu meletakkan garpunya di atas meja.
“Gak semudah itu, dan aku belum kepikiran untuk menjalin hubungan lagi dengan laki-laki. Karena … tanpa laki-lakipun, aku bisa hidup. Segala kebutuhan tercukupi, dengan hasil jerih payah sendiri,” jawab Kayla, berhasil membuat Aldo kicep.
“Aku udah selesai, yok kita pulang,” ajak Kayla, karena dirinya sudah tidak mood.
*****
Kayla, dan Aldo sudah sampai di rumah Kayla.
“Mau mampir dulu gak?” tanya Kayla basa-basi. Padahal dalam hati, ia berharap Aldo segera pergi.
“Gak usah, aku langsung pulang aja,” jawab Aldo, membuat Kayla lega.
“Hati-hati, ya. Aku masuk dulu,” ujar Kayla. Aldo mengangguk, dan melambaikan tangannya.
Ketika ingin masuk ke rumah. Tiba-tiba Kayla dikejutkan dengan kehadiran Satria yang sedang duduk, sambil melipat kedua tangannya di d**a. Kayla juga melihat Fitri, Riza, dan Hana yang sedang asik memakai masker, sambil bersantai-santai ria di shofa.
“Kok kamu ada di sini?” tanya Kayla heran.
“Iya, tuh. Bocil, dari tadi ngeyel. Ngajak ke klub mulu,” ujar Fitri, namun tak di gubris Kayla, karena memang pada dasarnya Kayla bertanya pada Satria.
“Aku nunggu mbak dari tadi. Habis dari mana aja?” tanya Satria. Kayla mengreyit, merasa heran dengan tingkah Satria. Daripada menghadapi Satria yang gak jelas, akhirnya Kayla memutuskan untuk pergi ke kamar.
“Tadi siapa? Cowok mbak?” tanya Satria.
“kenapa kepo?” jawab Kayla sambil melangkah pergi.
“Dih … pengen tau aja,” jawab Satria.
“Lu kenapa, Sat? cemburu?” tanya Fitri.
“Cie cemburu,” timpal Riza.
“Lu masih kecil, tong. Jangan berharap sama Kayla. Dia gak cocok buat, lu. Dia udah tante-tante,” ujar Hana dengan pedasnya.
Satria tambah kesal.
“Kalian kapan pulang, sih? Ganggu mulu,” kata Satria kesal.
“Dih … kita mah kalau pulang dua bulan sekali,” jawab Riza.
Satria mendengus kesal. Entah mengapa, rasanya tak suka ketika melihat Kayla pergi dengan laki-laki. Apakah … Satria benar-benar suka dengan Kayla? Entahlah … ia juga bingung. Karena yang ia rasakan saat ini, ia terus memikirkan, dan merasa rindu dengan mbak-mbak satu itu.
“Mbak Fit, jadi gak?” kata Satria.
“Jadi apaan?”
“Katanya mau ke klub?”
“Ya sabar! Kayla aja baru pulang. Gak sabaran banget sih,” jawab Fitri sewot.
“Terus gue gimana kalau kalian tinggalin?” tanya Hana sok dramatis.
“Minta jemput Ayang Papi lu, lah,” jawab Riza.
“Ngeselin banget sih, lu.”
****
Beberapa menit kemudian. Setelah melewati beberapa cobaan untuk membujuk Kayla agar ikut.
Suara music, bau alcohol, dan rokok mengingatkan Kayla akan masalalunya ketika menjadi p*****r. Perempuan itu juga memerhatikan para wanita-wanita yang tengah menggoda lelaki. Ia juga melihat wanita yang sedang menari di panggung yang hanya mengenakan bra, dan celana hot pans.
Ketika sedang asik mengamati suasana di klub itu. Tiba-tiba Satria datang membawakan Kayla sebotol anggur merah, dan menuangkannya ke dalam gelas, tanpa basa-basi Kayla langsung meneguknya.
Satria duduk di samping Kayla sambil merokok. Sedangkan Riza, dan Fitri tengah berjoget di tengah kerumunan itu.
“Minumnya gak usah banyak-banyak, ntar mabuk repot,” kata Kayla mengingatkan Satria.
“Aku Cuma minum sedikit, mbak. Lagi pula aku sebenernya gak bisa mabuk,” ujar Satria.
Satu jam kemudian. Satria terkapar, sambil ngelantur. Kayla yang masih setengah sadar berusaha untuk membantu Satria untuk bangun, meskipun kini kepalanya terasa sangat berat, tapi ia masih sedikit kuat. Kayla meminta Riza untuk membopong Satria, namun tak bisa. Karena Fitri juga mabuk parah. Untung saja Riza tak minum, jadi aman.
Di dalam mobil. Satria duduk di samping Kayla. Mulutnya terus nerocos, mengucapkan kata-kata ngelantur.
Melihat kondisi Satria yang mabuk parah. Akhirnya, Kayla memutuskan untuk membolehkan Satria untuk menginap di rumahnya.
Kayla memapah pemuda itu untuk menaiki anak tangga menuju kamarnya, sambil sesekali memegang kepalanya yang berat.
“Bandel banget dibilangin. Udah tau gak bisa mabuk, malah minum banyak,” ujar Kayla.
Setelah sampai di kamarnya. Kayla merebahkan tubuh Satria di atas ranjang, ia juga melepaskan baju Satria, agar pemuda itu tidak merasa gerah. Setelah dirasa cukup, akhirnya Kayla memutuskan untuk membersihkan dirinya.
Beberapa menit kemudian.
Kayla telah selesai melakukan ritual mandinya, gadis itu mengenakan daster. Kemudian mematikan lampu, dan tidur di samping Satria. Ia memejamkan matanya, karena kepalanya sudah mulai berat, dan mengantuk.
Ketika ingin memejamkan mata, tiba-tiba Satria memeluk Kayla. Antara sadar, dan tak sadar, Kayla membalas pelukan Satria. Kini wajah mereka sangat dekat, sehingga deru napas mereka sangat terasa. Satria yang masih mabuk kini menaiki Kayla. Pemuda itu mencium wanita yang kini ada di bawahnya. Sangat angresif, sehingga tak memberi akses untuk Kayla bernapas.
Kayla yang terbawa suasana akhirnya membalas ciuman Satria.
“Mbak, aku cinta kamu,” ujar Satria disela ciuman mereka. Kayla mendesah kecil, ketika Satria meremas dadanya. Hingga akhirnya Kayla pasrah dibugili Satria.
“Ah … Alfa,” desah Kayla sambil menjambak rambut Satria.
Satria terus memainkan aksinya. Hingga membuat Kayla kelonjotan di bawahnya.
“Pelan … sayang, ah.” Fix kali ini, Kayla sudah terpengaruh dengan alcohol. Ia menganggap bahwa Satria adalah Alfa. Perempuan itu pasrah ketika Satria melakukan hal b***t itu terhadap dirinya.
“Aku … cinta kamu,” lirih Kayla.
“Aku juga cinta kamu,” jawab Satria. Hingga akhirnya pemuda itu ambruk di samping Kayla setelah mencapai puncak kenikmatannya.
****