bagian 6

1122 Kata
Setelah kejadian malam itu, Kayla sedikit menghindari Satria. Karena, ia berpikir kejadian malam itu adalah suatu kehilafan. Satria pun terus meminta maaf kepada Kayla karena merasa tak enak. Meskipun yang ia lakukan bukan kemauan dirinya. Ia juga sedang hilang kesadaran. Satria sungguh tak ingat, namun ketika ia bangun dirinya dan Kayla tak mengenakan apapun. Di lehernya juga terdapat kissmark. Sehingga ia tak bisa menyangkal, bahwa ia telah berbuat sesuatu terhadap Kayla. Kini Kayla tengah menatap laptopnya. Hanya menatap, namun tak menyentuhnya. Hari ini pikirannya amburadul, sehingga tak focus dengan pekerjaanya. “Kenapa gue kepikiran bocah itu terus, sih,” ujar Kayla.  Perempuan itu memijit pelipisnya. Ia berusaha melupakan kejadian itu tapi tak berhasil. Hingga akhirnya ia terkejut, ketika Fitri datang. “Bos! Lu kenapa, dah?” tanya Fitri ketika melihat Kayla yang tengah menekan dadanya sambil menghela napas. “Lu ngagetin,” jawab Kayla ketus. “Ya … maaf! Oh … iya, di luar ada tamu. Buruan turun, ya. Gue lagi gak bisa ngeladeni tamu. Karena sibuk ngurus buat bokingan nanti malam,” kata Fitri kemudian keluar dari ruangan Kayla. Kini Kayla bangkit, dan menatap wajahnya di pantulan cermin, sambil menepuk-nepuk pipinya ia berkata,”ayolah, Kay. Udah lah, gak usah dipikirin. Lagipula dia Cuma bocah, dan sebelumnya juga lu udah sering dipakai banyak orang. Yang perlu  lu lakuin sekarang adalah … menjauh dari bocah itu.” Kayla terus menenangkan dirinya. Terus mencoba untuk melupakan kecelakaan malam itu. “Semua yang terjadi tanpa sengaja, dan gue gak bermaksud kaya gitu,” ujarnya lagi. Setelah cukup lama curhat dengan diri sendiri, akhirnya Kayla memutuskan untuk menemui tamu itu. Kayla menyapa tamunya dengan ramah, dan duduk di shofa. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya Kayla kepada pasangan kekasih yang akan menikah itu. “Gini, Mbak. Rencananya saya  mau boking untuk bulan depan. Kira-kira bisa, gak?” kata si perempuan. “Bisa. Mbak mau tema seperti apa? Biar nanti gaunnya bisa menyesuaikan.” Setengah jam berlalu. Akhirnya, selesai juga menemui tamu. Kayla memijit pelipisnya yang terasa pusing, entah ini sudah yang berapa kalinya. Ia duduk bersandar di shofa, hingga akhirnya tertidur. Ketika Kayla tertidur, tiba-tiba Satria datang. Pemuda itu duduk di samping Kayla, sambil memandangi perempuan cantik itu. “Kamu cantik banget, Mbak. Gue gak tahu, ini perasaan apa. Yang gue tahu saat ini, gue selalu ingin melihat, dan selalu rindu,” ujar Satria sambil menyingkirkan rambut Kayla. Pas sekali Riza, dan Fitri lewat, dan melihat kelakuan Satria yang sok romantic. “Liat noh, si bujang. Kayaknya dia beneran, deh. Naksir sama Kayla,” bisik Riza. Fitri mengangguk, dan berkata,”iya … udah kelihatan banget sih, dari kelakuannya, dan tatapan matanya ke Kayla.” “Iya … tapi, menurut aku, sih. Cocok aja sama Kayla. Satria gak bocil-bocil amat, kok,” ujar Riza. Belum sempat Fitri menjawab perkataan Riza, tiba-tiba Satria menyadari kehadiran Riza, dan Fitri. “Eh … mending lu bawa itu si Kayla ke ruangannya, biar dia bisa istirahat,” kata Riza, Fitri mengangguk.  “Gak papa emang?” tanya Satria dengan suara pelan . “Tenang aja, asal jangan macem-macem. Gue getok lu kalau sampai ngelakuin aneh-aneh,” kata Fitri. Akhirnya, dengan senang hati … Satria membopong Kayla menuju ruangannya. Satria merebahkan tubuh Kayla ke shofa. Pemuda itu melepas sepatu yang Kayla kenakan. Pemuda itu tersenyum ketika melihat Kayla yang tertidur pulas . “Cantik banget, sih.” Entah sudah berapa kali Satria memuji Kayla. Satria melirik ruang kerja Kayla yang terlihat sangat elegan. Tatapan Kayla tertuju, pada buku diary berwarna hitam. Hati Satria tergerak, ingin tahu isi buku itu. Pemuda itu mendekat ke mejar kerja Kayla dengan langkah pelan, agar Kayla tak tahu. “Hem … maaf ya, Mbak. Bukannya aku kepo. Tapi Cuma pengen tau dikit,” kata Satria sambil memegang buku itu. Satria mulai membuka lembar pertama, namun kosong. Kemudian pemuda itu membuka ke lembar ke dua. Ia mengreyit, karena di kertas itu hanya tertulis ‘Aku bukan orang baik, pantas saja Tuhan gak mau ngasih aku pasangan yang terbaik.’ Lalu ia membuka lembar ke tiga. Lagi-lagi ia mengreyit karena membaca tulisan Kayla ‘Iya, gue tau. Gue buruk, makannya lu tinggalin gue.’ “Maksud dia apa, ya? Dia ditinggal pas lagi sayang-sayangnya?” Satria bertanya-tanya karena heran dengan isi dairy Kayla yang simple, tapi nusuk. Belum sempat membaca lagi, tiba-tiba Kayla terbatuk. Sehingga membuat Satria terkejut, dan langsung menaruh buku diary Kayla kembali. Di lain sisi, Kayla terbangun, ia membuka matanya. Samar-samar ia melihat Satria yang sedang berdiri sambil tersenyum ke arahnya. Kayla terkejut, perempuan itu langsung bangkit, dan duduk. “Ka—kamu, ngapain di sini?” tanya Kayla, perempuan itu melihat pakaiannya, dan ia bernapas lega karena masih berpakaian lengkap. “Aku Cuma nungguin, Mbak aja, kok.” Jawab Satria. Pemuda itu mendekat ke arah Kayla, dan duduk di samping gadis itu. Kayla menatap Satria waspada, takut jika kejadian yang tak diinginkan terulang kembali. “Santai aja, Mbak. Aku di sini gak akan macam-macam,” ujar Satria, seakan tahu apa yang sedang Kayla pikirkan. “Terus mau ngapain ke sini?” tanya Kayla. “Aku Cuma mau minta maaf, atas kejadian malam itu. Aku bener-bener gak sadar, Mbak.  Aku takut, nantinya  Mbak malah mikir macam-macam ke aku.padahal, kejadian malam itu tanpa sengaja, itu juga bukan keinginan aku,” kata Satria menyesal. Kayla menghela napas pelan. Sebenarnya, ia juga tak menyalahkan Satria, tapi untuk saat ini, ia masih merasa canggung ketika bertemu dengan Satria. “Aku gak nyalahin kamu. Sebenarnya aku yang salah, karena udah bawa kamu nginep di rumah aku. Tapi, aku tanggung jawab, karena kamu teman aku. Gak mungkin juga kan, kalau aku tinggal di klub, dalam keadaan mabuk. Aku juga minta maaf,” jawab Kayla. Satria tersenyum lega, ketika mendengar jawaban Kayla. “Aku janji, kejadian itu gak akan keulang lagi. Aku mohon sama, Mbak. Tolong jangan jauhi aku,” ucap Satria, sedangkan Kayla hanya diam. Bingung harus menjawab apa. Satria yang greget karena Kayla tak membuka suara, akhirnya mengenggam tangan Kayla. “Plis! Aku mohon, jangan jauhi aku ya, Mbak.” Kayla merasa risih, dan langsung melepaskan genggaman tangan Satria. “I—iya,” jawabnya terbata. Satria girang bukan main, ia merasa lega, dan senang. “Makasih, Mbak.” “Ya, udah. Kamu pulang, gih. Aku capek, kepalaku pusing, dari tadi mual. Aku pengen istirahat,” ujar Kayla sambil memijat pelipisnya. Satria terkejut ketika mendengar ucapan Kayla. Ia takut jika Kayla hamil. Bukannya tak mau tanggung  jawab, tapi ia belum memiliki pekerjaan tetap, untuk meminang gadis, apalagi hidup berumah tangga. “Jangan-jangan, Mbak---“ ucap Satria terpotong. “Apa?” tanya Kayla bingung. “Ha—hamil.” Sepontan Kayla menjitak kepala Satria. Sehingga membuat pemuda itu mengaduh, Karena sakit. “Hamil, matamu,” jawab Kayla.   *********    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN