“Duh … Kay. Mending lu ke Dokter aja, deh. Badan lu panas, dan muntah-muntah mulu,” kata Fitri, sambil memijit pundak Kayla, kemudian membaluri dengan minyak angin.
“Gue gak papa, ini Cuma masuk angin,” kata Kayla.
“Apa jangan-jangan … lu hamil?” Fitri begidik ngeri, dan Kayla mencubit lengan Fitri, Karena berbicara sembarangan.
“Matamu!” kata Kayla sengit.
Tapi … kalau dipikir-pikir, Kayla juga belum menstruasi. Ia juga jadi ikut kepikiran, bagaimana jika ia benar-benar hamil. Gak lucu kalau dia harus menikah dengan berondong jagung.
“Tapi, ngomong-ngomong, gue juga belom haid,” ujar Kayla, dan Fitri menjitak kepala Kayla.
Perempuan itu mengaduh.
“Kurang ajar, lu. Sama bos sendiri bisa-bisanya ngejitak gue,” ujar Kayla tak terima.
“Gue udah curiga, nih. Jangan-jangan ini anak Satria, ya?!” kata Fitri dengan nada keras, Kayla terkejut matanya mendelik, hingga sepontan membuat tangannya gatal, untuk membungkam mulut lemes Fitri. Namun … ia juga bingung. Dari mana Fitri tahu tentang masalahnya dengan Satria.
“Jangan ngada-ngada, lu,” kata Kayla.
“Alah … juju raja, deh. Waktu kita ke klub, lu tidur,kan. Sama itu abg. Walaupun gue setengah sadar, dan setengah edan. Tapi gue yakin, kok. Gue denger suara lu jadi desah-desah enak. Riza juga denger,” tutur Fitri. Hal itu membuat Kayla malu, namun masih tak percaya. Karena, ia juga tak sadar ketika melakukannya dengan Satria.
“Lu tahu semua? Riza juga? Yang bener aja!” Kayla masih memastikan.
“Kuping gue belon budek kali, bos,” jawab Fitri sambil memijit Kayla.
Kayla menggigit bibir bawahnya. Menahan malu, dan juga cemas. Bagaimana jika ia benar-benar hamil.
“Duh … gue jadi takut. Kalau gue hamil gimana?” tanya Kayla. Fitri memutarkan bola matanya.
“Ya minta dinikahin Satria, lah,” jawab Fitri.
Kayla begidik ngeri, ya kali nikah sama ABG.
“Ogah, banget,” jawabnya.
“Masalah ini, lu jangan bilang-bilang. Apalagi ngebahas di depan Satria. Awas aja! Gue pecat, lu. Gue lagi berusaha buat ngehindar dari dia, supaya gak ke sini terus,” kata Kayla.
“Dih … kalem aja, sih! Takut banget jadi orang,” jawab Fitri judes.
“Anak pintar. Eh … btw, lu punya caranya, ga? Biar itu ABG gak kepedean, dan nyamperin gue terus?” tanya Kayla lagi. Fitri nampak berpikir, sambil memonyongkan bibirnya. Pertanda meminta uang tips, untuk berpikir.
“Apaan monyong-monyong?” tanya Kayla heran.
“Lu tahu, kan? Kencing aja bayar dua rebu,” ujar Fitri mengkode, namun Kayla tak peka.
“Terus … apa hubungannya?” tanya Kayla heran bin gedhek.
“Ya elah. Punya bos kagak peka amat.”
“Makanya to the poin, oneng.”
“Ya gue mau minta ongkos buat mikir, dan susun rencananya,” jawab Fitri. Sepontan membuat Kayla menjitak sahabat, sekaligus karyawannya itu. Meskipun Fitri berbicara seperti itu, tapi niatnya hanya bercanda, dan Kayla paham akan hal itu. Karena, niat Fitri membantu Kayla ikhlas. Ya itung-itung balas budi, karena Kayla sudah mau menampung dirinya di perusahaan Kayla.
******
Peluh keringat membasahi pelipis Hana. Menjerit, dan menjambak rambut suami sudah ia lakukan sejak beberapa jam lalu hingga sekarang. Kontraksi pembukaan 7 sungguh membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak. Hana Adelia, gadis cantik, pintar, dan polos kini akan menjadi seorang ibu
“Yank, sakit. Argh!” Hana menjambak rambut Alvin. Laki-laki yang sebentar lagi menjadi ayah itu hanya meringis, menahan sakit. Karena ia paham, rasa sakit yang ia alami tak sebanding dengan rasa sakit yang saat ini sedang Hana rasakan demi melahirkan buah hatinya.
Alvin dengan sabar mengelus perut sang istri, dan terus mensuport Hana, agar tetap kuat.
“Sabar, Yank. Kamu pasti bisa,” kata Alvin sambil mencium kening Hana.
Detik demi detik berlalu.
Kini Hana sudah pembukaan terakhir, yang artinya perjuangannya untuk melahirkan sudah di depan mata. Dokter, dan para tenaga medis sudah siap untuk membantu proses persalinan Hana.
Dokter menyuruh Hana untuk mengejan.
“Engh! Sakit … Yank!” jerit Hana sambil menjambak rambut Alvin.
“Semangat, sayang.” Kalimat penyemangat selalu Alvin lontarkan. Agar Hana tak menyerah.
“Agh … ini, semua gara-gara kamu, Yank. Kapan kelurnya!” Hana semakin kencang menjambak sang suami.
Dua jam berlalu, akhirnya tangisan bayi pecah di ruangan itu. Hana tersenyum, kemudian menangis haru. Buah hatinya telah lahir ke dunia.
“Selamat, pak, bu. Bayinya laki-laki,” kata Dokter, sambil menyerahkan bayinya agar berada di d**a Hana. Perempuan itu tak kuasa menahan tangis. Ia sangat bahagia, dan terharu.
“Yank … bayi kita ud---“ perkataan Hana terhenti, karena tak mendapati Alvin di sampingnya. Ia sampai celingak-celinguk.
“Dok, lihat suami saya, gak?” tanya Hana. Dokter juga heran, kenapa tiba-tiba Alvin menghilang.
“Tadi, bukannya ada di sini?” tanya Dokter kembali.
“Saya juga gak liat, Dok. Karena focus sama debaynya,” jawab Hana.
Belum sempat Dokter menjawab, tiba-tiba perawat bilang,”Bu … ini suaminya pingsan.”
“Hah? Pingsan?” tanya Hana heran.
Yeah … Alvin syok, karena baru pertama kali melihat persalinan. Mungkin, Alvin kaget kali ya, liat manusia keluar lewat bolongan yang tadinya kecil, jadi kebar. Ya itu, Vin. Makanya jangan coba sia-siakan perempuan. Kerasa juga, kan. Ngilunya ketika melahirkan. Bertaruh nyawa demi melahirkan benih yang tumbuh menjadi manusia, akibat ulah para basoka yang bermain gila di atas kasur. Hahahaha.
*****
Ketika tahu Hana sudah melahirkan. Kayla langsung mengajak Riza, dan juga Fitri untuk bergegas ke rumah sakit. Ia juga sudah membeli perlengakapan bayi. Perempuan itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, ketika mendengar kabar baik itu.
“Za, plis. Nyetirnya ngebut dikit. Gue udah gak sabar pen liat ponakan gue,” kata Kayla.
“Sabar, bos. Lu tahu sendiri Jakarta macet,” jawab Riza.
“Tau, nih. Sabar, dong, Kay. Pasti sampai, kok,” kata Fitri menangkan Kayla.
“Ah … gak kuat. Pen liat babbynya, kira-kira mirip siapa ya? Hana apa Alvin, ya?”
Sepanjang jalan, Kayla terus tersenyum, tak sabar rasanya mengendong bayi Hana, sahabat tersayangnya.
Beberapa menit kemudian.
Akhirnya Kayla, dan kedua sahabatnya telah sampai di rumah sakit. Dengan langkah cepat ia mencari kamar mawar, yakni kamar rawat Hana.
“Santai, aja, bos. Gue capek!” Fitri jengkel, karena Kayla terlalu excited.
“Gak, sabar gue.”
Ketika ingin masuk lift, tiba-tiba….
Bruk.
Kayla menabrak seorang laki-laki hingga terpental.
Fitri, dan Riza sampai teriak. Karena melihat kejadian itu.
Pria yang menabrak Kayla langsung membantunya berdiri, dan meminta maaf. Kayla yang masih terkejut hanya diam. Seketika parfum yang dikenakan lelaki di depannya ini mengingatkannya pada sesuatu. Selama 30 detik Kayla, dan pria itu terdiam, sambil saling menatap. Namun, Kayla tak bisa melihat seperti apa rupa pria di hadapanya karena memakai masker, dan kacamata hitam.
“Maaf, ya. Saya gak sengaja. Gak ada yang luka, ka?”
Kayla terpaku mendengar suara itu, sangat tak asing baginya. Hingga akhirnya ia terpaku, dan hanya menjawab dengan gelengan.
“Ya udah. Kalau gitu, saya permisi dulu,” kata pria itu kemudian berlalu dari hadapan Kayla. Sedangkan … perempuan itu hanya terpaku, sambil menatap punggung pria itu.
Fitri, dan Riza yang panic, langsung menghampiri Kayla.
“Lu gak papa?” tanya Fitri.
“Ada yang luka, gak?” timpal Riza.
Bukanya menjawab, Kayla malah bertanya,”Who dis?”
*****