Kayla menatap sinis Satria, yang sejak tadi terus mengikuti dirinya. Perempuan itu sangat risih. Ini semua juga gara-gara Hana. Karena perempuan itu memposting foto Kenzo, nama bayi Alvin, dan Hana di story w******p, dan kebetulan Hana, dan Satria saling save nomor.
Alhasil, Satria tahu, dan menjenguk Kenzo. Tapi, sebelum datang, pemuda itu bertanya terlebih dulu, apakah Kayla ada di sana, dan Hana menjawab 'iya'.
Kayla yang sedang mengendong Kenzo, jadi kesal sendiri. Pasalnya, ia sangat ingin menjauhi bocah abg itu.
Berbeda dengan Satria, pemuda itu malah asik memandangi Kayla, dan membayangkan jika suatu saat nanti ia menikah dengan Kayla, dan memiliki anak. Pemuda itu senyum-senyum sendiri.
Di lain sisi. Fitri menatap Kayla, yang terlihat sangat tak bebas. Karena, bagaimanapun Fitri juga tahu, jika Satria, dan Kayla pernah satu ranjang bersama.
"Biasa aja dong, Sat. Gitu banget liatin Kayla," kata Fitri.
Satria mengerjap, dan salah tingkah. Berbeda dengan Kayla, perempuan itu malah semakin badmood.
Tak lama kemudian, datanglah Glen, dengan wajah sumpringah, dan merekah.
Ia datang membawa banyak buah tangan, termasuk perlengkapan bayi, dan lain-lain. Saat ini, Glen datang membawa perempuan cantik, dan murah senyum.
Pasang mata yang melihat terheran-heran. Karena, pasalnya. Glen sangat bucin dengan Kayla, tapi kali ini ia sudah berani membawa gandengan.
"Selamat, bro!" kata Glen sambil menepuk pundak Alvin.
"Makasih, ya. Btw ... Lu bawa siapa, nih?" tanya Alvin.
Glen tersenyum sambil menatap gadis di sampingnya.
"Cewek gue," jawabnya lantang.
"Namanya Salma," lanjutnya.
Perempuan yang bernama Salma itu tersenyum, ketika Glen menyebutkan namanya.
"Hai ... Aku Salma. Salam kenal ya semua," katanya ramah.
"Hi ... Sal, aku Hana, istri Alvin." Hana memperkenalkan diri.
Fitri mengulurkan tangannya, dan disambut hangat oleh Salma.
"Gue Fitri."
"Kalau aku Satria, mbak." Satria memperkenalkan diri, sambil melambaikan tangan karena agak berjauhan dengan Glen, dan Salma.
"Hi, Sat. Hem ... Kalau kamu pasti Kayla, ya?" tanya Salma dengan ramah, dan Kayla menjawabnya ramah.
"Iya ... Aku Kayla."
"Cantik," puji Salma.
"Makasih, kamu juga cantik," jawab Kayla.
"Kalau aku Riza." Riza mengulurkan tangannya. Laki-laki itu menatap Salma dengan senyuman. Fitri agak risih melihat hal itu, hatinya seperti cemburu, tak suka jika Riza memberikan senyum ke perempuan lain.
"Gak usah lama-lama. Udah lepas," ujar Fitri sewot, sambil melepaskan tangan Riza dari Fitri.
"Dih ... Kayaknya ada yang cemburu, nih." Alvin mulai mengkompor-kompori. Fitri menatap Alvin dengan tajam. Karena tahu, jika saat ini Alvin sedang memojokkan dirinya.
"Cie," lanjut Satria. Fitri yang merasa di pojokkan akhirnya memilih untuk keluar dari ruangan itu. Semua yang melihat terkekeh, termasuk Kayla.
"Eh ... Kejar tuh, bini lu," kata Alvin. Riza menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dan akhirnya mengejar Fitri.
Di lain sisi, ketika Fitri keluar dari kamar pasien, ia tak sengaja menabrak seseorang.
"Elo," kata Fitri sambil menunjuk orang itu. Matanya melebar sempurna, bibirnya membuka membentuk huruf o. Tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Masih idup, Lu?" kata Fitri masih tak percaya.
Laki-laki itu membungkam mulut Fitri, agar diam. Karena, ia tak mau jika ada seseorang yang mengetahui dirinya ada di sini.
"Jangan bilang siapa-siapa! Jaga rahasia. Gue gak mau ada yang tahu. Belum saatnya semua orang tahu gue kembali," kata laki-laki itu. Fitri mengangguk mengerti, kemudian laki-laki itu merebut ponsel Fitri, dan menuliskan nomor barunya di ponsel Fitri.
"Ini nomor baru gue, yang lama hapus aja," kata laki-laki itu kemudian melenggang pergi.
Fitri masih terpaku. Tak percaya, dengan kejadian yang baru beberapa detik lalu ia alami.
"Ini mimpi gak sih? Kalau Kayla tahu gimana? Duh ... Dia nanti gimana ya? Kok gue jadi ngeri," kata Fitri.
Terlalu menghayati peristiwa beberapa detik lalu, Fitri jadi lupa jika dirinya tengah cemburu. Bahkan ketika Riza menepuk pundaknya pun, ia biasa saja.
"Kok ngalamun?" tanya Riza.
"Eh ... Apaan, sih. Ngagetin gue aja," jawab Fitri.
"Lu kenapa? Kok cemas gitu?" tanya Riza. Fitri mengigit bibir bawahnya, ingin rasanya mengatakan sesuatu, tapi ia terlanjur berjanji agar tak memberi tahu masalah ini ke siapapun.
"Heh! Kenapa sih, lu?" kata Riza lagi sambil menepuk lengan Fitri.
"Apaan, sih? Gue gak papa!" jawab Fitri kemudian melenggang pergi.
*****
Cuaca malam ini terasa dingin. Embusan angin malam menerpa ke kulit mulus Kayla.
Kebiasaan merokok masih melekat pada diri Kayla. Perempuan itu menghisap putung rokok. Sambil memandang ke arah jalan raya. Posisi Kayla malam ini ada di atas balkon kamarnya.
Ia masih memikirkan tentang kejadian kemarin, ketika dirinya bertabrakan dengan seorang laki-laki. Entah mengapa rasanya sangat familiar sekali.
Parfum yang laki-laki itu kenakan, tak asing ketika masuk ke rongga hidung Kayla.
"Ah ... Bisa-bisanya gue kepikiran orang itu terus," ujarnya sendirian.
Ketika ingin menyeruput kopi, tiba-tiba suara barang jatuh dari kamar terdengar oleh Kayla.
Alhasil membuat perempuan itu penasaran, dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamarnya.
"Heh! Kamu ngapain ke sini?" tanya Kayla terkejut ketika mendapati Satria yang tengah memunguti bedak Kayla yang pecah, karena tersenggol olehnya.
Kayla menutup mulutnya, ketika melihat bedak mahalnya jatuh berantakan.
"Bisa-bisanya! Kamu ngapain, sih? Gak sopan banget masuk ke kamar orang." Kayla merebut tempat bedaknya dari Satria, sedangkan pemuda itu hanya nyengir tak berdosa.
"Aku cuma pingin lihat Mbak aja, kok," jawab Satria.
"Terus, kenapa kamu main masuk aja ke kamar aku? Gak sopan namanya," jawab Kayla ketus.
"Lah di bawah gak ada orang. Aku panggil-panggil gak ada yang jawab. Ya aku ke atas aja, barang kali Mbak ada di kamar. Nah, kebetulan pintu kamar Mbak kebuka, ya aku masuk aja. Terus ... Aku gak sengaja deh nyenggol bedak," ujar Satria panjang lebar, mencoba untuk menjelaskan.
Kayla hanya mendesah pasrah, abg di depannya ini memang sungguh menyebalkan.
"Ya udah, pulang gih. Udah liat aku, kan? Aku mau istirahat," kata Kayla.
Satria cemberut, ketika mendengar jawaban cuek Kayla, akhirnya keluar. Dan itu membuat Kayla bernapas lega.
Namun, beberapa menit kemudian, Satria datang lagi, membawa bingkisan. Yang isinya adalah jus alpukat. Pemuda itu mencoba mendekati Kayla, dan memberikan jus itu ke Kayla.
"Ini apa?" tanya Kayla.
"Mbak bisa liat, kan? Itu jus," jawab Satria.
"Apaan sih. Udah sana bawa pulang. Aku mau istirahat, Sat."
"Mbak minum dulu nanti aku pulang," jawab Satria.
Tanpa basa-basi, akhirnya Kayla meminu jus itu tanpa berpikir panjang. Karena, saat ini ia tak ingin diganggu siapapun. Termasuk Kayla.
Ketika minumannya tandas, Satria tersenyum puas. Dan menyalakan timer di gawainya.
"Udah aku minum, sana pulang!" kata Kayla mengusir Satria.
Pemuda itu tersenyum, dan mengangguk. Dengan sengaja, Satria meninggalkan kunci motornya di kamar.
Lima menit berlalu. Akhirnya, pemuda itu memutuskan untuk masuk kembali ke kamar Kayla.
Pemuda itu tersenyum, ketika melihat Kayla yang tengah terduduk di kasur, sambil mengipas-ngipas tubuhnya. Tampak jelas di mata Satria, jika obat perangsang yang ia masukkan ke jus itu bereaksi lebih cepat.
"Mbak ... Maaf, kunci motorku ketinggalan," kata Satria basa-basi, dan mengambil kunci motornya yang ia taruh di meja rias.
"Kenapa, Mbak?" tanya Satria basa-basi.
"Panas."
Satria mulai mendekat ke Kayla.
"Ka--kamu, mau apa?" tanya Kayla gugup.
"Mbak, aku naksir sama kamu," kata Satria sambil mengelus pipi Kayla.
Kayla menatap pemuda di depannya waspada. Takut, jika kejadian waktu itu terulang kembali.
"Jangan macam-macam kamu!" Kayla mendorong Satria, alhasil pemuda itu terpental.
Satria bangkit, dan memeluk Kayla dari belakang. Kayla ingin menolak, tapi tubuhnya menginginkan sesuatu yang lebih.
"Mau aku bantu?" tanya Satria menawarkan diri.
"Gak, usah," jawab Kayla.
"Ya udah kalau gitu. Aku pulang dulu." Satria melepas pelukannya, dan hendak pergi.
Namun ... Kayla mencegah pemuda itu. Ia menarik lengan Satria, dan memeluknya.
"Duh ... Gue kenapa, sih. Kenapa kaya cacing kepanasan gini. Ya ampun, gue pengen, gue sange. Gimana, nih," batinnya.
Fiks!
Hasrat Kayla malam ini tak bisa ia tahan. Perempuan itu mengelus d**a bidang Satria, dan mulai menciumnya.
"Mbak ... Jangan gitu." Pemuda itu sok-sokan jual mahal, dan melepas ciuman Kayla.
"Kenapa? Bukanya kamu suka?" Belum sempat Satria menjawab, Kayla langsung melepas baju Satria.
Pemuda itu tak mau membuang kesempatan ini. Ia langsung merebahkan tubuh Kayla di ranjang, dan membantu Kayla melepas baju. Bukannya menolak, perempuan itu malah pasrah. Berharap disentuh oleh Satria.
"Jangan sampai keluar di dalam."
"Kenapa?"
"Kalau bablas gimana?"
"Emang udah hamil, kan? Kemarin kamu muntah-muntah, dan telat haid," ujar Satria.
"Tahu dari siapa?"
"Aku nguping."
"Dasar anak nakal!"
Malam yang dingin, berubah menjadi malam panas. Karena perbuatan Satria yang kurang ajar, akhirnya Kayla pasrah dihajar.
*****