"Lo udah selesai, Ra?" Pergi ke kubikel temannya, terlihat oleh matanya Zara masih mengotak-atik keyboard.
"Lo tunggu di lobi aja. Gue masih lama." Satu detik pun tidak Zara lihat temannya, pekerjaan yang seharusnya telah selesai lima menit lalu mesti selesai lebih dari jam pulang.
"Nih kopi buat lo. Gue ke lobi duluan." Vanya menyesali kelalaiannya. Karena itu mobilnya sering kali bermasalah berujung harus menebeng ke Zara setiap pulang.
Ingin ia mempelajari otomotif, tapi waktunya telah tersita oleh pekerjaan semua, jadilah mobilnya hanya bisa ia pakai tanpa urus. Ada pun Saka yang mengurus mobilnya.
"Katanya tadi pulang sama Zara. Kok sendirian? Gak sama Zara?" Haga, manajernya menghampiri. Sempat Haga menawarkan diri untuk mengantar Vanya. Sebagai perempuan yang tidak lagi lajang, tentu Vanya menolak dengan berbagai alasan, takut terjadi fitnah nantinya, terlebih hubungannya dengan Lindu tidak begitu harmonis, hambar dan monoton.
"Zara belom selesai." Menjawab seadanya, Vanya sibukan dirinya dengan ponsel.
Vani.
Asli, Kak. Lo bakal nyesel banget kalo gak kenal sama Erza
Ternyata dia kenal gue, anjir
Kok bisa ya dia kenal gue? Padahal gue aja baru tau dia
Aneh gak sih?
Jemari Vanya mengambang di atas screen ponsel. Matanya memandang kosong pada deretan kata yang tersusun di sana. Sedangkan jantung terasa berhenti berdetak bagi Vanya.
"Vanya? Zara udah panggil. Fokus banget kamu main ponselnya." Kedipkan mata beberapa kali; kembalikan kesadaran yang sempat melanglang buana.
"Oh, iya." Responsnya. "Saya ke Zara dulu." Berjalan ke arah jarum jam sembilan, ingin Haga menertawakan dia yang linglung.
"Zara ada di sana, Vanya. Kamu mau balik lagi ke divisi?" Lirik keberadaan Zara yang tak jauh jaraknya, Vanya tepuk jidat sebagai hukuman atas kebodohannya.
"Oh, iya. Saya pamit ya, Pak." Menunduk; sembunyikan malu akan kebodohannya. Gara-gara Vani emang.
"Lo kenapa, anjir? Kecapekan?" Vanya menggeleng, sangkal kebodohannya yang berujung mempermalukan diri sendiri. Tidak menyangka pula Zara telah melihat kejadian barusan.
"Gak tau gue. Udah, ah, cepet." Tarik tangan Zara agar segera berlalu dari pandangan Haga. Malu tidak bisa lagi Vanya bendung.
***
Macetnya kota telah menjadi pemandangan biasa bagi Vanya, terkadang pula ia menginginkan matanya dimanjakan akan indahnya alam tanpa polusi. Namun, sulit ia dapatkan mengingat pekerjaan selalu bertambah setiap harinya, apalagi ini akhir tahun.
"Tahun depan resign aja gue, ah. Capek banget kerja. Mau nikah tapi nikah sama siapa." Zara berceloteh, sedangkan Vanya sengaja ia pinta untuk menyetir.
"Gen sandwich dilarang resign," ucap Vanya, runtuhkan harapan Zara yang sudah membumbung tinggi.
"Gini amat jadi gen sandwich." Mengeluhkan nasibnya, punggung ia rebahkan pada sandaran kursi. "Berhenti di bengkel depan, Nya. Gue mau ganti ban. Ban gue udah tipis banget yang ini, takut meledak di jalan."
Vanya menyalakan lampu sen begitu bengkel yang Zara maksud telah tertangkap oleh matanya. "Lo tau banget permobilan. Tapi kok gue gak tau-tau, ya? Ajarin dong."
"Belajar aje sendiri. Jadwal gue padat." Buka pintu kemudian turunkan kaki. Sebelum itu Zara tebar pesona terlebih dulu dengan mengibaskan rambut.
Di sisi kanan Vanya merotasikan mata akan tingkah laku sahabatnya. "Di bengkel mana ada cowok kaya yang bersih."
"Ada." Menjawab tak mau kalah. "Bosnya." Usainya Zara tertawa.
"Kenapa, nih, Mbak mobilnya?" Salah seorang montir hadir alihkan atensi mereka.
Begitu menoleh dua perempuan itu tak kuasa keluarkan suara. Sosok bertubuh tinggi nan tegap yang dibalut singlet putih polos mencetak kepadatan otot tubuhnya, begitu memesona. Terlebih garis wajah yang tegas disertai tato pada leher; pertegas sosoknya yang berkharisma.
"A-anu, gue mau ganti ban. Bisa 'kan?" Pertanyaan di akhir terdengar bodoh. Salahkan saja kepada montir tampan itu, dia telah menyedot akal sehat Zara.
"Bisa. Kan ini tempatnya buat ganti ban kendaraan. Kecuali ban pesawat. Gak bisa kita." Zara tertawa atas candaan montir tersebut, terkecuali Vanya yang masih speechless di tempatnya.
"Masukin aja, yu, Mbak. Nanti gue ganti bannya." Mulut terbuka; masih terpesona akan ketampanan montir itu meski si montir telah berlalu untuk siapkan alat yang diperlukan.
"Anjir, Vanya ... kok ada montir seganteng dia di muka bumi ini?" Tahan perasaannya yang menggebu-gebu, ingin sekali Zara berteriak dan mengajak montir tersebut untuk menikah dengannya.
"Lebay lo." Vanya berujar demikian guna hilangkan getar dalam benak yang dahsyat.
Tenang, Vanya ... jangan lemah. Benak terus tenangkan diri kala takut dan gugup mendominasi.
"Lo bawa mobilnya masuk, Nya. Gue ikutin aja dari belakang." Vanya ingin menolak, dengan dia pergi ke dalam bengkel, kemungkinan melihat Erza kembali sangat lah besar.
"Mau ganti ban aja, Mbak? Ganti pasangan enggak? Gue lebih memadai, loh." Erza berujar tepat ketika Vanya keluar dari mobil.
"Jangan tanya saya. Tanya aja pemilik mobilnya." Acuhkan candaan Erza yang baginya tidak lucu sama sekali, pun dia berlalu keluar dari area bengkel, muak rasanya melihat sang mantan dua kali dalam hari yang sama.
***
"Gue liat-liat lo santai banget. Padahal bentar lagi mau married." Gara, sahabat Lindu dari zaman SD mengambil duduk di sampingnya.
"Masih belom lupain dia, lo?" Lindu hanya diam diberi pertanyaan tersebut. "Lupain, lah. Kasian cewek lo yang sekarang."
"Emang lo belom tau, ya?" Cakra bertanya pada Gara yang kini telah menghisap rokoknya.
"Tau apa?"
"Ceweknya Lindu pernah hamil anak mantannya." Sontak mata Cakra melebar sempurna.
"Lah? Lo jangan ngadi-ngadi, anjir." Nyaris jantung Gara berhenti berdetak mendengar kabar tersebut. Seorang Vanya Maurelle yang ia kenal pendiam dan tegas rupanya tak lebih dari perempuan kotor, bahkan lebih kotor dari perempuan bayaran di luaran sana.
"Makanya itu gue bingung sekarang." Lindu baru bersuara. Dia sandarkan punggung lelahnya. "S1alnya gue baru tau setelah tunangan."
"Kenapa gak lo putusin aja dari dulu?" Pertanyaan Cakra lantas direspons embusan napas saja oleh Lindu.
"Nyokapnya Vanya ngotot pengen gue nikahin dia, padahal gue ogah." Lindu merasa sangat rugi jika ia menikahi perempuan yang tak lagi suci saat dia sendiri susah payah menjaga kesuciannya, terlebih perempuan yang akan ia nikahi pernah hamil anak mantannya.
Sudah jelas betapa buruknya hidup perempuan itu.
"Lo kabur aja nanti pas nikah. Kita yang bantu." Melihat adanya riak putus asa di wajah Lindu, Gara langsung percaya akan fakta yang baru ia ketahui itu.