Cepat Vanya alihkan pandang, tak ingin hanyut dalam telaga coklat muda milik mantannya. Sementara benak telah hadirkan getar takut dengan kepala terus memutar memori buruk saat ia mengetahui pengkhianatan Erza.
Pria itu tampil begitu gagah dengan balutan kaos oblong putih yang sudah kotor akibat oli, belum lagi rambut sebahunya menambah kharisma yang setia membersamainya.
"Tunangan saya sudah menunggu di sana. Tolong cepet." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya, seakan tegaskan diri agar tidak lagi terjebak pada orang yang pernah hadir di masa lalu.
"Gue aja." Erza berujar kepada Zihar. Ia pun memberi kode agar Zihar mundur. "Di mana Mbak tunangannya?" Vanya tidak salah mendengar pada kalimat Erza yang menekankan kata tunangan.
"Di depan sana." Menjawab singkat, satu detik pun enggan Vanya tatap pria penuh tipu daya ini.
"Mau-mau aja sih Mbak disuruh ke bengkel. Mau berangkat kerja 'kan, ya? Gak takut telat?" Vanya diamkan celotehan Erza dalam keadaannya yang buruk.
"Itu tunangan saya." Pun kata tunangan sengaja Vanya tekankan sebagai penekanan bahwa kini hidupnya jauh lebih baik dari hal buruk yang Erza beri.
"Oh, udah ada?" Vanya mengangguk tipis kala Lindu bertanya. "Tolong dicek, Mas. Kira-kira kenapa, ya, mobil saya?"
"Oh ini filter bahan bakarnya kesumbat." Itu yang Erza temukan setelah ia mengecek kondisi mobil Lindu. Pria itu menaruh peralatan yang ia bawa untuk memperbaiki mobil Lindu.
"Sayang kamu berangkat pake ojol aja. Ini udah siang banget, loh." Sedikit Erza mengintip bagaimana Lindu singkirkan anak rambut Vanya yang berjatuhan.
Prang! Dengan sengaja Erza pukulkan tang dengan keras dirasa panas bergejolak dalam benak. Cowok b3rengsek gitu yang jadi tunangan dia?
"Gak perlu. Aku nunggu kamu aja."
Prang! Lagi dia bunyikan suara begitu keras, buat Vanya melirik risi. Aelah, Vanya. Yang bener aja. Masa cowok b3rengsek yang gantiin gue?
"Kamu bisa diomelin manager kamu. Aku pesenin ojol aja. Ya, Sayang?" Matahari semakin meninggi, di tengah-tengah kota panas memang sangat terasa meski ini masih jam tujuh, buat keringat muncul di wajah Vanya.
"Langsung pesenin gracar aja, Mas. Jangan ngomong doang." Mata Vanya melirik Erza yang tiba-tiba menimbrung dalam pembicaraan mereka. Tak lama lirikannya dibalas oleh Erza.
"Rusaknya parah. Mending Mas cepet bawa cewek Mas. Bedaknya udah mau luntur, tuh. Nanti gue minta truk derek bawa mobil lo ke bengkel." Melotot mata Vanya dibuatnya.
"Ngapain melotot, Mbak? Gak takut softlens-nya keluar?" Kedipkan mata, Vanya berpaling pada Lindu sembari mendengkus kecil.
"Bulu hidungnya keluar, tuh, Mbak." Seenaknya berujar, buat Lindu menahan tawa yang segera mendapat cubitan dari Vanya.
Sebenernya Erza yang sangat ingin Vanya cubit, sekaligus memukul mulutnya yang tidak pernah berubah.
"Sorry." Hanya kata itu yang Lindu keluarkan. "Sekarang kita naik gracar aja. Gak pa-pa, kan?" Mengangguk tanpa menjawab dengan kata, tak sengaja mata Vanya melirik Erza yang rupanya ia tengah ditatap oleh pria itu. Segera ia alihkan atensi dan bersikap seolah mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.
"Thanks, ya, Mas."
"Lain kali mobilnya urus. Biar cewek lo gak perlu ke bengkel lagi kayak tadi." Berucap ketus, sosoknya tidak segera kembali ke bengkel, malahan berdiri di sana sampai gracar yang Lindu pesan tiba.
"Setidaknya nyari pengganti lebih baik dari gue, ke. Malah mokondo yang diembat." Erza bergumam, menyayangkan pilihan Vanya sebelum berlalu usai memastikan Vanya pergi dengan tunangannya.
"Baru tunangan. Gue yang bakal jadi suaminya nanti."
***
"Vanya." Vanya menoleh dan pusatkan pandang pada Aghni. Dari gelagatnya Vanya yakin Aghni akan membahas suatu hal yang serius. Entah itu kelanjutan pertunangannya atau pekerjaannya.
"Kamu udah ketemu tetangga sebelah kanan kita?" Harus banget sedetail itu nyebutinnya? Fokus Vanya pada sayuran yang ada di genggamannya terganggu sementara.
Vanya menimang sejenak sebelum ujung mata diam-diam melirik Aghni. "Belum." Akhirnya berbohong menjadi jalannya.
Vanya yakin, mamanya pasti telah mengetahui gerangan yang menempati rumah sebelah, dan itu akan menjadi ancaman bagi Aghni yang memiliki ambisi untuk menikahkannya dengan Lindu.
Terdapat harapan besar di benak Aghni. Semoga Vanya tetap sibuk, dengan begitu mereka gak bakal ketemu. Masih sangat Aghni ingat siapa penghuni itu setelah memberi brownies sebagai penyambutan.
"Bener kamu enggak tau?"
Bahu diangkat acuh seolah dirinya benar-benar tidak tahu, Vanya hanya tidak ingin sang ibu berbuat sesuatu yang akan berdampak buruk nantinya. "Gak tau."
"Kamu enggak penasaran?" Gelengan dari Vanya buat lega Aghni. "Bagus, deng. Kamu harus stuck sama Lindu aja. Jangan oleng-olengan kayak adek kamu. Liat yang ganteng dikit langsung kecantol. Bingung Mama tuh sama dia."
"Lagian buat apa juga penasaran. Nanti juga ketemu." Sibukan diri guna sembunyikan gugup sebab telah berbohong.
Kalau boleh jujur, Vanya juga tidak ingin akan takdirnya ini.
Seolah takdir ingin membuatnya memberitahukan semua orang terhadap suatu hal yang telah ia sembunyikan.
Apa ini hukuman untuknya yang telah berani menjalin hubungan dengan pria lain saat dia sendiri telah melakukan dosa besar?
"Mama!" Si bungsu berteriak heboh sembari berlarian.
"Hati-hati, Vani! Kamu bisa kesandung lari-larian begitu!" Adnan meneriaki si bungsu yang tidak digubris.
"Aku udah liat tetangga baru kita! Gila ganteng banget, Mama! Aku baru liat aja langsung meleleh! Aduh!" Kehebohannya dalam bercerita buat ricuh dapur semula tenang. "Kak. Pokoknya lo harus liat juga! Yakin gue pasti lo langsung pengen selingkuh."
"Vani. Ngomong apa, sih, kamu? Jangan pengaruhi kesetiaan Kakak kamu." Ingin Aghni daratkan spatula di b****g anak bungsunya.
"Ya daripada sama Kak Lindu. Ngebosenin tau, Ma. Kak Vanya pendiem, Kak Lindu juga sama. Garing hubungan mereka, tuh. Mending sama tetangga aja, Kak. Asli dijamin seru kehidupan Kakak."
Melihat cengiran Vani serta keantusiasannya, buat Vanya menegang seketika. Ketakutan perlahan merajai dirinya. Bayang-bayang buruk di hari itu hancurkan harapan bahagia yang telah tergambarkan.
Seandainya kamu tau, Vani, apa yang udah orang itu lakuin ke Kakak. Kakak yakin kamu gak akan ngomong gitu.
"Dia emang ganteng, tapi menurut gue dia lebih cocok sama lo, Kak. Lagian gue udah ada Lin Yi. Bisa diamuk Lin Yi gue." Duduk begitu saja di atas meja, segera Aghni pukul b0kongnya. "Mama sakit, ih."
"Pamali duduk di meja." Tegurannya direspons cemberut dari bibirnya.
"Makanya nikahin Kak Vanya sama Kak Erza aja. Jangan sama Kak Lindu." Gerakan tangan Vanya berhenti, dia tidak menyangka Vani akan berkata demikian.