14

1180 Kata
Mata bulat berwarna hitam milik Ana memutar mengelilingi rumah yang saat ini ia masuki, ia bingung kenapa dosennya mengajak ia ke rumahnya. Awalnya ia tidak mengira bahwa Aska mengajaknya berkunjung ke rumah, tadi Aksa hanya menawarkan diri untuk mengantar Ana pulang sekalian ada yang ingin di bicarakan, pikir Ana tidak masalah karena Aska kan teman dekat Hendrik dulu. " duduklah dulu An, mau minum apa ?." tanya Aska, Ana hanya menggeleng walau sebenarnya tenggorokannya kering ingin di lewati air meski hanya air putih tapi Ana hanya ingin berjaga jaga saja kalau nanti dosennya itu melakukan hal yang buruk padanya. " tidak pak terima kasih " tidak lupa Ana mengulaskan senyuman " ini bukan di kampus, jadi panggil saja kakak seperti kamu memanggil Hendrik." Aska mulai duduk di sebelahnya, Ana menggeser tempat duduknya agar sedikit menjauh dari Aska, terasa aneh saja keadaan seperti ini. Aska mengulaskan senyumnya, ia malah merapatkan lagi jarak duduknya. Ana risih tapi bokongnya sudah di ujung sofa. " bisakan pak Aska mengantarkan saya pulang sekarang, nanti mamah dan kak Din pasti bingung mencari saya." Aska mendekatkan tubuhnya lagi, Ana memundurkan tubuhnya. " maaf pak, bukankah ini tidak sopan." Tangan Aska malah meraih suraian rambut Ana, membelainya dengan lembut. " Maaf pak saya mau pulang." Ana ingin berdiri tapi di tahan oleh tangan Aska, tanpa ada keseimbangan tubuh Ana jatuh di atas pangkuan Aska. Pandangan mata mereka saling bertemu, tidak bisa di pungkiri jantung Aska saat ini benar benar terpacu cepat. Getaran yang dulu pernah di rasakan saat bersama Nandira kini terulang lagi, hanya terkikis jarak 2 sentimeter bibir mereka bertemu. Seperti detik kemudian Ana malah teringat bayangan Hendrik di belakang tubuh Aska. Secepatnya Ana mendorong kuat tubuh Aska dan berdiri. " apa tujuan bapak tadi mengajak saya kemari, jangan bertindak tidak sopan pak. Saya mau ikut karena saya menghargai Anda sebagai teman kak Hen dan sebagai dosen saya di kampus. Tapi kalau tidakan bapak seperti ini maafkan saya jika saya menghilangkan rasa hormat saya pada bapak." tegas Ana tapi dalam hatinya juga gemetar antara keberanian membela harga dirinya dan ketakutan bakalan ada tindakan Aska lebih dari ini seperti yang di lakukan Hendrik padanya. Aska tersenyum seringai sambil mengangkat kedua tangannya ke atas seperti tanda menyerah. " ussss usss Beby santai... Aku tidak semesum kakakmu. aku hanya melakukannya jika kamu mau, dan jangan sok suci dengan keadaanmu sekarang. Lihatlah tubuhmu sudah tidak perawan lagi." Aska menunjukkan bekas cupang di belakang telinga Ana. " jangan kurang ajar ya pak, jaga bicara bapak. Saya akan menelepon kakak saya." Ancam Ana yang mencari ponselnya di dalam tas. Aska masih duduk santai di sofa. " aishttt." umpat Ana yang tau kalau ponselnya mati lupa ia cast semalam. " duduk sini baby." Aska malah menepuk sofa sebelahnya dengan senyum Di otak Ana sekarang berfikir, dosennya ini memang tidak waras atau sejenis sphycopat yang terobsesi pada mainan barunya. " dulu kakakmu juga menculik istriku. sekarang ganti aku yang menculik adik tersayangnya dan akan ku perlakuan sama seperti apa yang di lakukan kakakmu pada istriku." suaranya begitu santai tapi sedetik kemudian tawanya yang menakutkan bagi Ana mulai memenuhi ruang tamu yang minimalis. Bulu kuduk Ana tiba tiba naik merasa ngeri sendiri. Dosen yang selama ini di gandrungi ratusan mahasiswa di kampusnya tidak lebih dari orang yang tidak waras. Ana mulai gemetar ketakutan, tangannya reflek menarik hiasan guci di samping meja setelah ia meliriknya. " dasar tidak waras..." teriak Ana dan ingin melempar guci itu agar bisa lari. Guci itu tiba tiba tertahan di udara, saat Aska menunjukkan foto yang sangat mirip dengannya. Sekujur tubuhnya mematung, tangannya melemas dan guci itu jatuh di depan kakinya. " ya aku memang gila padamu, sejak pertama kali aku melihatmu keluar dari kampus. Di saat itu aku mulai terobsesi padamu, dan mengatur berbagai cara agar aku bisa masuk dalam kehidupanmu. Meskipun itu mengirimkan Ayahku keluar negeri agar aku bisa menggantikannya mengajar di kampus mu." Ana sampai menutup kedua telinganya karena suara Aska yang begitu keras. " dia mirip sekali denganmu, dan dia adalah istriku yang di perkosa kakakmu 2 hari sebelum pernikahanku dengannya. Aku harus menanggung semua berbuatan kakakmu An, aku harus terima istri ku apa adanya sampai usianya di tutup." suaranya melemah, tubuhnya merosot ke lantai. Bak petir di siang bolong Ana mendengar kelakuan b***t kakaknya yang baru saja di lakukan dengan kakaknya semalam. Ana tidak percaya dengan apa yang di perbuat kakaknya pada calon istri sahabatnya sendiri. Sebejat itukah kakaknya ?... Ana tidak mudah percaya " tidak kakakku tidak seperti itu, kak Hen orang baik." Ana menggeleng tidak percaya " apa kamu yakin kakakmu pria baik hah... kau ini adiknya atau bukan.." Aska mengejek dalam senyumnya. Aska bangun dari duduknya, meraih tangan Ana dengan kasar. Mata Aska sudah buta karena dendam yang selama ini ia pendam sendiri tanpa ada yang tau. Ana berteriak sekuat kuatnya berharap ada yang dengar dan mau menolongnya. Di lempar tubuh Ana di atas ranjang yang tidak terlalu luas seperti di kamarnya, Semua pakaian di lucuti oleh Aska. Ana tidak tau lagi bagaimana hidupnya setelah ini, semalam ia telah berbuat dosa dengan kakaknya sekarang malah dosennya ingin memperkosa dengan alasan ingin balas dendam pada Hendrik. Tuhan, selamatkan Ana batinnya. Air mata terus lolos dari pelupuk mata Ana, berharap belas kasihan dari Aska. Mata itu seperti memohon dengan sangat bagi Aska, mata yang sama yang di miliki istrinya. Aska berdiri dari atas tubuh Ana, hati nuraninya tidak tega membayangkan itu istrinya saat minta belas kasihan. Di gusarnya rambut dengan kasar dan frustasi. " pakai pakaianmu, aku sudah tidak selera lagi melihat banyak bekas cupang di tubuhmu. Dan pulanglah." Aska meninggalkan Ana yang masih telanjang. Ana bergegas meninggalkan rumah Aska, dari lantai atas sang pemilik rumah melihat kepergian Ana. Hatinya terasa sakit sekali melihat banyak bekas cupang di d**a Ana tadi, itu pertanda bahwa Ana memang sudah tidak perawan lagi dan sekarang Ana sudah memiliki kekasih. Entah balas dendam atau rasa kecewa karena sayang yang di rasakan Aska saat ini. Ana telah tiba di rumah, langsung masuk kamar menangisi nasibnya saat ini. Dosa apa yang di perbuat dirinya dulu, hingga ia menerima karma seperti ini. Hatinya terasa nyeri sekali terngiang ngiang di telinganya tentang perbuatan sang kakak dulu pada istri Aska. Tidak lupa ia mengecast ponselnya membuka apakah ada pesan dari temannya atau Hardin. Tidak bisa di hitung berapa panggilan tidak terjawab dari Hardin saat ponselnya mati tadi. Kemudian Ana melihat grub sahabatnya, matanya terbelalak melihat dia di keluarkan dari grub pribadi yang hanya 3 anggota itu. Ia ingin mengirim pesan pada Elsa alangkah kagetnya ternyata nomor Ana sudah di blokir oleh Elsa, apa salahnya, Ana semakin bingung. Ia mencoba menghubungi Diana ternyata sama, Diana juga memblokir kontaknya. " ada apa dengan mereka." gumam Ana yang duduk di meja riasnya. Hardin menelpon. " Ya kak." " ya Ana sudah di rumah kak." " cepat pulang kak ada yang ingin Ana tanyakan." Ponsel di letakkan kembali di atas meja, Ana masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Keesokan harinya, saat sarapan Hendrik menawarkan diri untuk mengantar Ana ke kampus tapi Ana menolak. Ana lebih memilih untuk berangkat bersama Hardin seperti biasanya. " ada apa dengan Ana."  Hendrik membatin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN