15

1266 Kata
Ada apa dengan Ana begitu batin Hendrik dari selesai sarapan sampai perjalanan ke kantor, atau mungkin bahkan sampai kantor dan pulang kantor. Sedari kemarin sore tidak ada satupun pesannya yang di baca Ana telponnya pun tidak di angkat Ana. Di kampus, Hardin dan Ana baru sampai. Tidak sengaja Ana melihat Aska yang juga baru turun dari mobil, sebisa mungkin ia melupakan kejadian kemarin dan berusaha tidak pernah terjadi apa apa. " kak Ana ke kelas dulu ya..." Ana setengah berlari menghindari tatapan dari dosennya. Sampai di kelas Ana melihat kedua sahabatnya itu, tidak lagi duduk di bangku mereka. Ada apa sebenarnya. Ana menyapa mereka tapi tidak ada respon sama sekali, Sampai dosen mereka masuk. Jam mata kuliah berlangsung, Ana merasa kesepian saat ini, Ana bukanlah gadis yang pandai bergaul seperti lainnya. Kedua sahabatnya itu sudah menemaninya selama hampir 4 tahun ini. Ia merasa sedih, mau menangis tapi tidak pada tempatnya. Ingin sekali ia menceritakan kejadian kemarin pada ke dua sahabatnya tapi... Ana membuang nafasnya dengan kasar. Bel sudah berbunyi, sudah tidak ada lagi mata kuliah Ana hari ini. Biasanya kalau jadwal seperti ini kedua sahabatnya mengajaknya ke mall atau caffe hanya sekedar untuk hiburan. Ana masih duduk termenung di bawah rindangnya pohon taman kampus, seusai membaca pesan dari Hardin bahwa dia masih ada kelas praktek setelah ini. Ana benar benar sendirian dan kesepian sekarang. Akhirnya ia mengirim pesan pada Gio, ia baru ingat sudah 3 hari ini Gio tidak memberikan dia kabar sama sekali, kenapa lagi dia. Apa ia mengikuti kedua sahabatnya menjauhi dirinya. Entahlah, pesan sudah terkirim, lama tidak mendapatkan balasan Ana membuka lagi ponselnya. Ternyata sudah di baca tapi kenapa tidak di balas. Ana menelponnya malah di tolak berkali kali. Tuhan salah Ana apa... bulih air mata menetes. Pada siapa lagi ia mau bercerita. Hardin, tidak seandainya ia tau apa yang di lakukan Aska kemarin akan membuat bom di antara mereka. Hendrik, ia sekarang merasa sakit hati pada kakak pertamanya, apa benar Hendrik sebejat itu. Elsa Diana kak Gio kalian kenapa menjauh dari Ana. Dari jauh Elsa melihat Ana duduk sendiri di taman, rasa tidak tega menyelimuti. Ingin menghampiri Ana tapi di cegah oleh omongan Diana " kenapa mau nyamperin Ana ? gak ingat kejadian kemarin kamu." Elsa mengingat bagaimana sakitnya kemarin saat ia di bentak oleh Hardin. Elsa kembali berjalan bersisian dengan Diana masuk mobil dan meninggalkan kampus. Ponsel Ana bergetar, nama kak Hen di layar. Ana langsung merijek dan mematikan ponselnya. " Kenapa di matikan panggilan dari kakak tersayang mu." Suaran yang menakutkan Ana kemarin tiba tiba berdiri di belakang Ana. Ana langsung berdiri, meninggalkan Aska " teruslah menghindari ku maka saya akan terus menerormu." anacam Aska tapi tidak di hiraukan oleh Ana. Ia memutuskan untuk pulang saja dan beristirahat dari pada banyak berfikir. Waktu jam makan siang di kantor, tapi pria tampan memakai stelan jas warna hitam itu enggan berdiri dari kursi kebanggaannya. Sifatnya sedari pagi tadi uring uringan terus, mengingat Ana mengabaikannya dari kemarin. " Kak Hen ayo makan siang." ajak wanita yang baru saja masuk dalam kantor Hendrik. Semakin malas Hendrik mendengarnya. Dua hari ini Alya terus mendatangi kantor Hendrik, untuk mengajak makan siang atau hanya sekedar menemani Hendrik mengerjakan pekerjaannya. Bukan tanpa alasan, Shopia lah yang menyuruh Alya terus mendekati Hendrik agar pernikahan mereka bisa di percepat. " kak Nanti papah sama mamah mau ke rumah kakak." ucapnya lagi " untuk apa ?." Hendrik mencium bau bau tidak beres disini. " entahlah merencanakan pernikahan kita mungkin." " kan aku sudah bilang, beri saya waktu." Hendrik membanting map yang baru saja ia pegang. Alya kaget melihat Hendrik yang terlihat marah dan tidak senang dengan rencana pernikahan mereka yang akan di percepat. " keluar lah aku masih banyak pekerjaan Alya." usir Hendrik. Alya memang keluar dari ruangan Hendrik tapi bukan Alya namanya kalau tidak mengadu pada Shopia. Malam ini, dua keluarga yang rencananya akan menjadi besan dengan mempersatukan kedua anak mereka telah berkumpul. Wajah Alya yang begitu semangat dan sumringah menandakan penuh harapan pada Hendrik lain halnya dengan Hendrik, wajahnya begitu masam sekali. Ana di sana bertemu juga dengan Gio, berkali kali Ana menyapa Gio tapi tidak ada respon seolah enggan melihat Ana yang sekarang. Hardin jadi terbakar emosi melihat tingkah sahabatnya itu pada adiknya. Saat semua mengobrol unfaedah Hardin mengajak Gio ke taman. " Dari awal aku sudah bilang jangan sakiti Ana, kenapa kamu sekarang malah menjauhi Ana." ungkap Hardin langsung. " apa kamu tidak bertanya pada adikmu sendiri apa kesalahan yang dia perbuat sendiri ? Sudah lah Din, aku sudah tau kalau adikmu itu selingkuh dengan pak Aska di belakang ku." Hardin menatap tajam sahabatnya itu tidak percaya bahwa Gio akan sampai hati memfitnah adiknya. " jaga mulutmu Gio. " Hardin mencengkeram kemeja Gio. " aku sudah tau adikmu itu main gila sama dosennya, bukti sudah jelas setelah bertemu dengan Pak Aska banyak sekali tanda cupang di tubuhnya." Gio tertawa sumbang sambil melepaskan tangan Hardin dengan paksa dari kemejanya. Hardin termenung mendengar kata kata dari Gio baru saja, Ya ia sudah tau kalau adiknya memang sudah tidak perawan lagi setelah mata kepalanya sendiri menyaksikan berbuatan b***t sang kakak. Tapi kenapa Aska yang jadi kambing hitamnya, siapa yang membuat fitnah seperti itu. Ana yang tidak sengaja mendengar pun merasa sakit, ia di fitnah oleh kekasihnya sendiri. Ini semua karena ulah kakaknya, kemarin hampir di perkosa sama Aska dan sekarang kekasihnya menjauhinya karena mengira ia main gila dengan Aska. " Bagaimana kalau pernikahan mereka di adakan 3 bulan lagi jeng." usul Shopia yang di semangati Alya " tidak." tolak Hendrik. Semua mata menatapnya " aku mencintai wanita lain mah..." " tutup mulutmu Hen." bentak Shopia dan Alex bersamaan. Keluarga Surya kaget dengan pernyataan dari Hendrik baru saja, lebih hancur dari pada perusahaan mereka bangkrut. Tidak terima itulah mereka, "saya tidak terima ini pak Alex, jangan permainkan keluarga saya. Saya ingatkan itu." Ancam Surya " kalau sampai pernikahan anak kita gagal jangan harap perusahaan kita masih bekerja sama." ancamnya lagi. Alex di sini langsung syok, itu sungguh tidak mungkin kalau sampai perusahaan mereka tidak bekerja sama bagaimana dengan projek barunya yang 60% mengandalkan perusahaan Surya. " tolong pikirkan baik baik itu pak Alex." " ayo Alya kita pulang." Ajak Santi pada anaknya " tapi mah pah, Alya mencintai Kak Hen." Alya masih tidak terima dengan penolakan itu, ia masih ingin merayu dan memohon cinta pada pada Hendrik. " sudah kak kita pulang, dan Gio sudah tidak mau berhubungan lagi dengan Ana." entah dari mana datangnya Gio yang tiba tiba langsung mengumumkan kalau dia sudah tidak mau dengan Ana. " pak Surya tunggu." " Jeng Sinta tunggu " ucap Alex dan Shopia bersamaan tapi tidak di hiraukan oleh Surya sekeluarga, hanya Alya tidak rela meninggalkan rumah itu, tubuhnya masih menoleh kebelakang yang terus di seret Surya untuk pulang. Plakkkk... Alex menampar keras putra sulungnya, " anak tidak tau diri kamu ini, kalau memang tidak berniat menikah dengan Alya kenapa tidak bilang dari awal, kenapa harus sejauh ini." Kedua adiknya langsung kaget karena baru kali ini mereka melihat sang papah semarah itu, apa ini kesalahan yang fatal bagi Hendrik. Bagaimana kalau orang tua mereka tau perbuatan biadab itu. Apa akan lebih dari ini. " kamu ini sudah tidak mudah lagi Hen, seharusnya kamu tau akibat dari kesalahanmu. Siapa wanita yang kmu cintai jawab jujur pada papah. Apa sebanding dengan kita apa sederajat dengan kita." Deg... Bak di pukul batu besar kemudian menancap pada d**a, pertanyaan papahnya baru saja. Ana gemetar, mata Shopia tidak lepas dari Ana. Shopia seakan tau jawaban dari mata Ana. Hardin mengalihkan pandangan mata mamahnya, " An ayo ke atas." ajaknya. " tunggu." Tahan salah satu suara dari mereka sekeluarga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN