Kabut Hitam

2311 Kata

Laila mengerjap. Menetralkan pandangannya yang buram karena baru saja terbangun dari tidurnya yang amat lelap. Ia juga sedikit menggeliat untuk menghilangkan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya. Ada rasa sakit, perih, ngilu, dan seakan tulang-tulangnya remuk jika digerakkan. Setelah ia dan Varong …. Seketika kedua pipinya bersemu merah saat mengingat apa yang ia dan Varong lakukan tadi malam. Sungguh malam yang amat panjang dilalui dengan perasaan yang campur aduk. "Laila … kau sudah bangun?" seru seorang wanita tua dari balik pintu kayu yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan kamar yang ditempati Laila. "Sudah, Ibu. Maaf aku bangun terlambat, sebentar lagi aku keluar," sahut Laila cepat tidak ingin sang ibu melihat keadaannya yang mengenaskan seperti sekarang. Rambut panjangn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN