Jack sangat terkejut saat melihat sang istri sudah tak sadarkan diri hingga terjatuh. Buru-buru ia membersihkan sisa percintaannya dan segera membawa Helena keluar kamar. Tak lupa juga pria itu memakaikan pakaian untuk sang istri, tanpa menggunakan dalaman apapun.
“Helena bertahanlah ....” Jack terus memanggil nama sang istri sambil menggendongnya ke dalam mobil menuju rumah sakit.
***
“Dokter! Dokter! Selamatkan istriku!” teriak Jack sangat panik. Petugas pun langsung membawakan brankar dan segera membawa Helena ke dalam sebuah ruangan.
“Tuan, tolong tunggu sebentar di luar. Kami akan memeriksa kondisi tubuh istri anda,” ucap sang dokter sambil mencegah Jack yang hendak ikut masuk ke dalam ruangan di mana Helena berada.
“Tapi aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian di sana!” geram Jack tak suka, karena sudah dicegah oleh orang lain.
“Tuan, kami mohon kerja samanya. Sebaiknya Tuan mengurus administrasinya saja. Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri anda. Permisi,” ucap sang dokter kemudian menutup pintu tersebut dengan cepat, meninggalkan Jack yang masih mematung di depan pintu.
Tak berselang lama, terdengar suara dering ponsel yang berasal dari saku celananya. Jack mendesah berat lalu merogoh benda pipih tersebut, dan melihat nama di layar ponselnya. Terpampang dengan jelas sebuah nama BARON di sana. Dengan segera ia menggeser icon warna hijau sebagai tanda ia menerima panggilan tersebut.
“Cepat katakan!” titah Jack tanpa basa basi lagi.
“Saya sudah selesai mengurus adik dari tuan nona Helena, Bos,” ucap Baron memberikan laporan setelah menerima tugas.
“Bagus. Bawakan setelan pakaian beserta dalamannya untuk istriku ke rumah sakit dekat apartemen ku,” ucap Jack dengan nada perintah. Baron yang mendengar kata RUMAH SAKIT, langsung terkejut. Takut jika sang Bos terluka akibat serangan musuh di luar sana.
“Apa bos baik-baik saja? Saya akan segera ke sana secepat mungkin,” tukas Baron dengan nada panik. Jack hanya menghela napasnya panjang sebelum akhirnya ia mengeluarkan suaranya.
“Aku baik-baik saja, tapi istriku tidak sadarkan diri. Jangan lupa dengan pesanan yang aku minta, dan jangan sampai telat,” ucap Jack dengan tegas lalu memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia ingat jika harus mengurus administrasi terlebih dahulu. Tak ingin membuang banyak waktu, akhirnya Jack segera melangkahkan kakinya ke arah bagian administrasi.
***
“Bos, ini pesanan yang anda minta,” ucap Baron setelah sampai di rumah sakit. Di sana ada Jack yang sedang duduk di depan ruangan Helena.
“Hmm, apa ada kabar hari ini?” tanya Jack seraya mengambil sebuah paper bag dari tangan sang asisten.
“Tuan Besar menghubungi saya, dan bertanya tentang pernikahan anda,” jawab Baron dengan jujur.
“Ck! Ternyata mereka tau jauh lebih cepat dari yang ku duga,” decak Jack sambil menampilkan senyum smirk nya.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan Bos?” tanya Baron dengan datar. Ia tidak ingin mencampuri urusan ayah dan anak yang tidak akur itu.
“Memangnya kau berharap apa?” bukannya menjawab, Jack malah balik bertanya dengan senyum devil nya.
Baru saja Baron akan membuka suaranya. Tiba-tiba saja terdengar sebuah pintu terbuka, hingga membuat dua orang pria itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Muncul dari balik pintu, sosok wanita dengan jas putih yang dikenakannya.
Tanpa menunggu lama lagi, Jack langsung bangkit dan menghampiri sosok tersebut dengan menampilkan raut wajah yang tak dapat diartikan. Dokter itupun merasa sangat gugup saat melihat raut wajah dari pria tampan yang ada di hadapannya.
“Cepat katakan bagaimana kondisi istriku sekarang!” ucap Jack dengan nada tegas. Sedangkan Baron, seperti biasanya. Pria itu hanya diam tanpa ingin membuka suaranya sedikit pun tanpa adanya perintah dari Jack.
“Apakah istri anda baru saja melakukan hubungan intim terlalu lama? Jika memang benar, istri anda mengalami dehidrasi karena sudah mengeluarkan banyak cairan saat berhubungan. Sehingga membuat istri anda menjadi kelelahan, karena selama aktivitas seksual, tubuh melepaskan norepinefrin, epinefrin, dan kortisol yang meningkatkan denyut jantung dan memicu pelepasan glukosa dalam darah. Semua kegiatan ini melelahkan, terutama jika dilakukan terlalu sering.” Sang dokter berhenti sejenak seraya menghela napasnya panjang.
“Apalagi, saat berhubungan, otot-otot istri anda sangat tegang, hingga dapat menimbulkan rasa sakit dan bahkan imobilitas. Anda harus membatasi aktivitas sementara waktu hingga kembali pulih. Karena yang saya lihat, di bagian intinya sudah lecet dan memar yang disebabkan berhubungan dengan sangat kasar. Setelah penetrasi terus menerus, hal itu dapat menyebabkan nyeri pada punggung bagian bawah. Anda sudah bisa menemuinya, saya akan meresepkan obat pereda nyeri. Permisi.”
Tak ingin membuang banyak waktu, akhirnya Jack masuk ke dalam sana, untuk menemui sang istri. pria itu membuka pintu dengan sangat cepat dan langsung menghampiri Helena yang masih terkulai lemas di atas sana.
“Helena ... bangun lah. Aku tidak akan menyakiti mu lagi,” ucap Jack seraya mengelus puncak kepala milik Helena, hingga terdengar suara lenguhan dari arah wanita tersebut.
“Enghh! Awwhh.”
“Helen, kau sudah sadar?”
“Kau! Lepaskan aku brengsekk!” bentak Helena dengan menatap tajam ke arah sang suami. Ingin rasanya ia bangkit, tapi tubuhnya masih terasa sangat sakit.
“Tenanglah! Aku tidak akan melakukannya di sini, meskipun aku ingin,” ucap Jack sambil menangkup kedua pipi Helena, agar menatap ke arah dirinya. Sungguh! Ia tidak suka jika wanita itu berpaling menatap ke arah lain, meskipun itu hanya sebuah benda.
Helena begitu muak saat melihat wajah Jack yang tanpa dosa terus mencumbunya sesuka hati. Ia terluka, karena sikap Jack yang kasar padanya. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi, agar bisa pergi dari obsesi gila bosnya itu. Ia tidak akan bisa hidup dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai. Helena benar-benar ingin pergi dari kehidupan sang suami.
“Lep-pas ....” ucap Helena dengan lirih seraya berusaha mendorong tubuh Jack yang sedang memeluknya.
“Bersikap tenanglah, atau aku akan melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan selama ini,” ancam Jack mendesis tepat di telinga sang istri. Helena langsung menghentikan aksinya dan patuh dalam dekapan Jack.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Helena saat Jack sudah menyingkap pakaiannya ke atas. Tentu saja hal itu membuat Helena jadi terkejut, karena ia sadar jika tidak memakai penutup aset berharganya.
“Ak hanya ingin memakaikan pakaian mu dengan yang baru. Diam dan patuh lah!” ucap Jack dengan nada perintah. Lagi dan lagi, Helena terdiam saat melihat tatapan dingin dari suaminya.
“Akhh! Sakit. Pelan-pelan,” pinta Helena dengan lirih sambil meringis kesakitan. Sedangkan Jack hanya diam dan fokus dengan apa yang sedang ia lakukan, yaitu menanggalkan pakaian Helena satu persatu dari tubuhnya.
Namun, pria itu bukan hanya fokus pada tujuan utamanya, melainkan memeriksa bagian inti milik sang istri. Tentu saja hal itu membuat Helena tidak suka dan segera berusaha merapatkan kakinya, tapi tetap saja tenaga Jack jauh lebih kuat dari dirinya.
Jack meneliti bagian inti tersebut dengan tatapan yang tak dapat diartikan hingga mengernyitkan dahinya. Sedangkan Helena, wanita itu meringis atas apa yang telah dilakukan oleh suaminya sendiri.
“Apa rasanya masih sakit?” tanya Jack dengan santai dan memasang wajahnya tanpa dosa. Yang mana hal itu membuat Helena semakin kesal dan merasa sangat malu, hingga wajahnya memerah bagai dang rebus.